Titik Nol (4): Surga Burung

Kompas.com - 07/08/2008, 06:25 WIB
Editor

[Tayang:  Senin - Jumat]


Pegunungan Kunlun membelah dunia. Di utara, Xinjiang dibungkus debu yang beterbangan dari gurun Taklamakan. Kering dan panas. Begitu melewati puncak Satsum La, dunia berubah menjadi padang rumput hijau menghampar di kelilingi gunung salju, ditangkupi langit biru. Tibet adalah sebuah dunia lain.

Di sini banyak kisah tentang kehidupan di puncak bumi, di tanah yang dipeluk langit dan mega. Ada Parit Kematian yang menghantar maut, ada gunung tak berpenghuni dengan desingan angin lembah, dan sekarang, saya tiba di sebuah danau yang terhampar laksana lukisan surgawi.

Danau Pangong, atau Pangong-Tso, bukan sembarang danau. Terletak pada ketinggian 4300 meter di atas permukaan laut, panjangnya sekitar 150 kilometer, lebar rata-ratanya cuma empat sampai lima kilometer. Pada bagian tersempit lebarnya cuma lima meter saja.

Dengan bentuknya yang mirip lidah panjang, danau ini terbentang dari pegunungan Tibet sampai ke Kashmir. Sekitar 100 kilometer danau ini masuk wilayah China, sisanya lagi di seberang perbatasan India. Yang membuat danau ini tak biasa adalah di sisi China airnya tawar dan segar, sedangkan di sisi India berubah menjadi air asin.

Hanya saya dan Deng Hui yang turun di tepi danau ini. Kernet bus Tibetan Antelope menurunkan tas ransel kami berdua dari bagasi. Dua hari perjalanan dengan bus sudah menyulap tas ransel saya yang kumal menjadi jauh lebih kumal lagi. Warnanya yang semula hitam sekarang jadi coklat, terbungkus debu gurun pasir dan gunung batu. Bus melanjutkan perjalanan terus ke Ali, mengepulkan debu yang melapisi wajah dan sekujur tubuh saya.

          “Tak apa, nanti kalau sudah sampai di Ali, kamu bisa mandi. Di sana ada air panas,” hibur Deng Hui.

Saya sebenarnya tak terlalu memikirkan mandi. Perjalanan berat seperti ini sudah pernah saya alami di Mongolia dan Afghanistan, di mana berminggu-minggu saya tak menyentuh air sama sekali.

Danau Pangong berwarna biru kelam. Gunung-gunung yang mengitarinya dibilas sinar keemasan mentari senja. Ratusan burung beterbangan di atas permukaan air. Burung-burung ini berwarna putih, dengan ujung sayap hitam. Paruhnya merah, dan kakinya pun merah. Ukurannya mungil, tubuhnya gemuk. Dalam bahasa Mandarin namanya adalah hongzhui ou – camar paruh merah.

Mereka terbang berombongan, mendarat di air bersamaan, berkitaran seperti bebek ke sana ke mari, lalu terbang ke angkasa berbarengan membentuk parade burung yang menantang kebesaran gunung-gunung bertudung salju yang mengelilingi bibir danau.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X