Titik Nol (35): Mata Buddha

Kompas.com - 19/09/2008, 07:44 WIB
Editor
[Tayang:  Senin - Jumat]

Sepasang mata menatap penuh misteri. Harum asap dupa bertebaran. Kabut masih baru menyelimuti Kathmandu. Dingin. Penuh misteri. Tetapi orang-orang sudah larut dalam doa dan ibadah.

Bersama legenda yang mengiringi lahirnya kota kuno Kathmandu, adalah Swayambhunath di puncak bukit tinggi yang membayangi seluruh kota. Alkisah, seluruh lembah Kathmandu adalah danau. Danau ini tiba-tiba mengering airnya, bersamaan dengan sinar yang muncul dari Swayambhunath. Swayambhu, dalam bahasa Nepal, artinya ‘muncul sendiri’.

Tak ada yang tahu pasti berapa usia kuil ini. Ada yang mengatakan tempat ini menjadi suci sejak lebih dari 2000 tahun lalu ketika Raja Asoka datang berkunjung. Letaknya di puncak bukit tinggi, yang menurut ahli geologis dulunya adalah pulau di tengah danau.

Stupa raksasa Swayambhu sudah ada di abad ke-5, berwarna kuning cerah. Bentuknya bulat besar. Puncaknya adalah pagoda dengan empat sisi, terbuat dari emas. Setiap sisinya tergambar sepasang mata yang menatap garang.

Mata Buddha, memandang ke semua arah mata angin, menunjukkan bahwa Tuhan yang maha mengetahui ada di mana-mana. Di atas pasang mata, adalah mata ketiga yang melukiskan kebijaksanaan nurani. Di bawah mata, garis melingkar-lingkar seperti hidung, adalah angka ‘1’ (ek) dalam huruf Nepal, melambangkan persatuan segala makhluk. Tak ada telinga, karena konon Buddha tak tertarik mendengar lantunan doa yang hanya memuja-muja.

Pemujaan di Swayambhunath sudah mulai pagi sekali, ketika kabut masih menyelimuti seluruh kota dan dingin menggigit tulang. Genderang biksu Buddha yang ditabuh dengan monoton dalam kecepatan lambat, mengiringi mantra mereka yang berat dan dalam. Umat Buddha berdatangan, menyalakan lilin lampu mentega yang berkelap-kelip di dalam kuil.

Ratusan lilin menyala dalam lingkar-lingkar cawan. Jilatan api kecil bertahan dari terpaan angin, menyala ke berbagai penjuru, seperti kehidupan manusia dalam jalan yang berbeda-beda tetapi bertahan menuju ke arah yang esa. Saya terhanyut oleh ketulusan perempuan Newari yang menyalakan lilin mentega diiring doa yang dalam.

Tak banyak tempat seperti Swayambhunath, di mana umat Buddha larut dalam doa bersama-sama umat Hindu yang melaksanakan puja. Stupa Swayambhu adalah tempat ziarah kedua agama. Umat Buddha Tantrayana Tibet mengelilinginya searah jarum jam, sedangkan orang Hindu dan Buddha Newari berlawanan jarum jam.

Saya diajak seorang biksu ke kuil Buddha Bhutan. Di mata saya yang awam, ibadah negeri Bhutan tak jauh berbeda dengan orang Tibet - altar, gambar-gambar dewa, lilin lampu mentega, genderang dan mantra yang berat, semuanya serupa.

          “Bhutan adalah negeri yang indah,” kata biksu itu, “Kalau ada kesempatan, datanglah berziarah ke sana.”

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X