Unagi dan Sambal Belut

Kompas.com - 13/04/2009, 05:56 WIB
Editor

Ada satu kesukaan saya yang sangat dibenci istri saya, yaitu belut asap (smoked eels). Makanan ini cukup populer di Negeri Belanda dengan sebutan gerookte paling. Belut yang masih panjang utuh dalam kulitnya dipanggang dengan asap, dan banyak dijual di beberapa tempat tertentu di Negeri Belanda. Bila sedang berkunjung ke negeri itu, saya sering membeli sebungkus dan memakannya sambil mengemudi. Istri saya selalu kesal karena aroma belut panggang yang memenuhi mobil sungguh memuakkan baginya. Padahal, bagi saya, justru aroma itulah yang menambah kenikmatan menyantap belut asap.

Dalam keisengan saya, pada suatu ketika di sebuah rumah makan Jepang, saya memesankan unadon atau unagi kabayaki yang disajikan di atas semangkuk nasi. “Apa ini?” tanyanya. Saya jawab: “Ikan. Enak. Coba saja.” Dia menyantapnya dan menyukainya. Lama kemudian, setelah saya yakin bahwa dia sungguh-sungguh menyukai unagi kabayaki, saya beritahu dia bahwa ikan itu sesungguhnya adalah belut panggang yang diasap.

Tentu saja, sekalipun dia sudah terlanjur sayang dengan unagi, tetap saja saya kena semprot. Yah, itulah – paling tidak – gunanya suami: untuk diomeli! He he he … Saya pahami kejengkelannya, karena secara teknis unagi memang tidak beda dengan gerookte paling yang sangat dibencinya – sekalipun belum pernah dicicipinya. Bedanya, unagi kabayaki dipanggang lagi dengan madu atau gula, sehingga rasanya manis, dan aromanya pun tidak setajam gerookte paling.

Sungguh, saya tidak membohonginya. Sama dengan bila saya mengatakan kepadanya bahwa burung dara adalah sejenis ayam kecil. Belut memang adalah ikan. Dalam bahasa Inggris, penjelasan teknis untuk belut adalah: elongated fish. Nggak bo’ong, kan?

Ada dua jenis belut yang umum dimakan manusia, yaitu belut air tawar dan belut laut. Di Jepang, belut air tawar disebut unagi, sedang belut laut disebut anago. Belut laut berukuran lebih besar, taringnya masuk ke dalam seperti ular, dan sangat berlemak. Di Jepang, biasanya belut laut dimasak dengan cara mengukusnya, agar lemaknya tidak hancur. Dibanding unagi, hidangan anago lebih jarang dijumpai.

Belut sangat tinggi protein, vitamin A, kalsium, kolesterol, dan lemak jenuh. Di Jepang, belut adalah masakan kesukaan semua kalangan masyarakat. Umumnya disajikan dalam bentuk donburi, yaitu seiris besar belut panggang di atas nasi. Sajian donburi dengan unagi di atasnya disebut unadon. Bila porsi unagi-nya lebih banyak, sajiannya disebut unajuu. Harganya sangat mahal, sesuai dengan citarasanya yang memang mak nyuss! Karena itu, bila Anda di Jepang, berhati-hatilah ketika memesan. Unajuu tidak sama porsi maupun harganya dengan unadon.

Orang Korea juga sangat menyukai belut. Kaum pria Korea sangat percaya bahwa belut adalah makanan yang memberi stamina seksual bagi mereka. Tetapi, justru di negeri ini saya tidak berani menyantap belut. Ini sebetulnya hanya merupakan hambatan psikologis secara teritorial. Soalnya, di pasar-pasar tradisional di Seoul kita selalu melihat banyak penjual belut hidup di dalam ember. Bila ada pembeli, penjual mengambil seekor belut dan menancapkan kepala belut pada paku yang memang sudah disiapkan pada sebuah tiang. Belutnya masih menggeliat ketika penjualnya memakai sebuah catut untuk mengulitinya. Sungguh, pemandangan yang sadis untuk dipertontonkan secara terbuka. Maaf bila penggambaran hal ini secara tulisan pun sudah sangat mengerikan bagi Anda.

Orang-orang Tionghoa – khususnya di kawasan Shanghai, Kanton, dan Hong Kong – juga sangat menyukai belut. Di Indonesia, masakan belut di rumah makan Tionghoa yang populer adalah lindung cah fumak, yaitu belut goreng garing yang ditumis dengan sayur pahit fumak. Favorit saya untuk sajian ini adalah RM “Sinar Abadi” (dulu “Cahaya Abadi”) di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Di RM “Gunung Mas” di Sentul City – tidak jauh dari rumah saya – juga ada belut goreng bawang putih yang sungguh renyah dan gurih.

Hampir semua restoran Jepang di Indonesia menyajikan unagi yang diimpor dari Jepang. Beberapa chef yang saya tanya selalu mengatakan bahwa belut lokal tidak memenuhi syarat untuk diolah menjadi unagi. Tetapi, beberapa tahun yang lalu saya pernah diajari Oom Kwik dari sebuah restoran seafood di Pantai Mutiara untuk memasak unagi dari belut lokal dengan memanggangnya di atas griddle (pemanggang dari besi datar) yang dialasi daun pisang. Hasilnya cukup bagus. Bagi saya, belut lokal punya charm-nya sendiri.

Di Yogyakarta, belum lama ini, saya menemukan sebuah warung sederhana, “Pak Sabar”, yang hidangan utamanya adalah belut. Warungnya memang sangat sederhana. Belut gorengnya tampak besar-besar dan gendut-gendut. Tidak tampak sisa-sisa lebihan minyak yang menempel pada warna coklat garing si kulit belut. Rasa dan teksturnya pun menakjubkan. Mantap!

Halaman:


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X