Tour de Singkarak, Gairah Baru Minangkabau

Kompas.com - 08/05/2009, 03:41 WIB
Editor

Oleh MH SAMSUL HADI

Satu lagi ajang balap sepeda internasional bergulir di Indonesia. Tak lagi di Jawa, seperti Tour d'Indonesia dan Tour de East Java, melainkan di Sumatera. Tour de Singkarak tak hanya menambah semarak agenda balap sepeda negeri ini, tetapi juga bukti: hajatan olahraga dunia seharusnya tak cuma di Pulau Jawa.

Sepanjang lomba berlangsung, tidak terhitung berapa kali pebalap sepeda Iran, Ghader Mizbani, melontarkan kata-kata pujian terhadap Indonesia. Bukan pada tim-tim balapnya, melainkan pada bagusnya lintasan dan keindahan alamnya.

”Ini tempat yang sangat nyaman, tempat yang sangat bagus untuk balap sepeda, tempat yang sangat indah,” kata pebalap berusia 33 tahun yang pernah menjuarai Tour de East Java 2006 dan 2008 serta juara Tour d’Indonesia 2008.

”Jalan-jalan (sepanjang lintasan) dalam kualitas tinggi. Udara juga jauh lebih sejuk daripada di Jakarta.” Pujian itu dia ucapkan seusai finis etape ketiga di Danau Singkarak dan mempertahankan jaket kuning yang dia rebut pada etape kedua di Sawahlunto.

Pada etape keempat atau yang terakhir, keesokan harinya, Mizbani tetap mempertahankan jaket kuning simbol statusnya sebagai pebalap tercepat sepanjang lomba. Tabriz Petrochemical Team, klub yang diperkuatnya, bertengger di puncak klasemen tim.

Terbesar dan pertama

Tour de Singkarak, yang berlangsung empat hari (30 April-3 Mei), terbilang cukup sukses dari penyelenggaraan. Masih ada beberapa kekurangan di sana-sini, tetapi wajar untuk ukuran ajang yang baru pertama kali digelar.

Tour de Singkarak berlokasi di Sumatera Barat dan menempuh rute 460,5 kilometer yang dibagi empat etape. Keempat etape itu melintasi beberapa titik pariwisata andalan di Padang, Bukittinggi, Agam, Tanah Datar, Sawahlunto, dan Solok.

Pesertanya, selain 10 tim dalam negeri, juga 15 tim luar negeri dari 11 negara. Dari jumlah pebalap dan tim yang tampil, Tour de Singkarak disebut-sebut sebagai ajang balap sepeda terbesar di Indonesia. Ajang itu juga telah masuk kalender Tur Asia UCI (Persatuan Balap Sepeda Internasional) pada kategori 2.2.

Diawali garis start di Taman Budaya Padang, kawasan Pantai Padang, Tour de Singkarak berakhir di Danau Singkarak, Solok. Pada ajang tersebut, team time trial dihadirkan pertama kali untuk lomba balap sepeda jalan raya di Tanah Air dengan jarak pendek, yaitu 4,4 kilometer.

Pendeknya jarak team time trial dirasakan sebagai hal baru bagi pebalap Indonesia. ”Ini team time trial terpendek yang pernah kami ikuti. Sebelumnya, team time trial terpendek yang kami ikuti berjarak 20 kilometer,” kata Tonton Susanto, pebalap Program Atlet Andalan (PAL).

Karena itu, wajar jika urutan pertama hingga keenam team time trial itu didominasi tim-tim asing, seperti Team Budget Forklifts (Australia), Aisan Racing Team (Jepang), dan Tabriz Petrochemical Team (Iran).

Kalahnya mesin lokal

Dari ajang berhadiah total 60.000 dollar AS itu, tim-tim lokal harus mengakui keunggulan tim-tim luar negeri. Tim PAL, misalnya, gagal memenuhi target masuk tiga besar. Tim yang disiapkan untuk SEA Games 2009 Laos itu berada di urutan keenam klasemen umum tim.

Untunglah, satu pebalap Tanah Air bisa masuk 10 besar klasemen umum, yaitu Tonton Susanto, yang dikenal sebagai jago tanjakan negeri ini. Menurut mantan pembalap nasional dan pelatih Puspita Mustika Adya, yang hadir di arena lomba, tim-tim lokal kalah jam terbang dengan tim-tim asing.

Hal senada dikatakan Direktur Lomba yang juga Wakil Ketua Umum ISSI Sofian Ruzian. ”Ibarat motor, cc pebalap lokal kalah kuat dengan pebalap luar. Jika pebalap luar tampil dengan kecepatan 100 persen, pebalap kita baru 20 persennya,” kata Sofian.

Meski demikian, satu hal yang menggembirakan dari ajang itu adalah munculnya bibit-bibit baru pebalap sepeda masa depan timnas, seperti yang diperlihatkan Dadi Suryadi dari Jabar Cycling Team (Jawa Barat).

Pada etape 3 A Bukittinggi-Sawahlunto, pebalap berusia 19 tahun itu finis di urutan ketiga. Di klasemen umum individu pebalap Indonesia, ia menempati peringkat ketiga di atas pebalap timnas, Ryan Ariehan (nomor 5) dan Kaswanto (11).

”Ini penampilan saya pertama tampil di ajang resmi. Saya mungkin terbawa arus kecepatan pebalap-pebalap luar negeri,” tutur Dadi. ”Saya berusaha untuk terus berada di rombongan pertama.” Itu hasil jerih payahnya mempersiapkan diri sekitar dua pekan, menempa daya tahan dan kecepatan di Purwakarta.

Indahnya ranah Minang

Meski inti Tour de Singkarak adalah lomba balap sepeda, itu bukanlah melulu ajang olahraga, tetapi juga hajatan pariwisata. Ini terasa sekali dari susunan panitia, yang dikomandani Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar.

Sapta menyebut ajang ini sebagai ”wisata olahraga (sport tourism)” dengan target menggenjot angka kunjungan turis mancanegara pada 2009. Barang jualan ajang ini adalah keindahan ranah Minang yang kaya dengan pemandangan alam dan budaya, yang dikemas tema ”The Soul of Minangkabau”.

Itulah yang dipamerkan pada tim-tim peserta, wisatawan, dan pihak-pihak lain sejak etape pertama hingga terakhir. Jika etape pertama menyuguhkan pemandangan pantai, etape-etape berikutnya memamerkan keindahan alam pegunungan, peninggalan sejarah, dan alam pedesaan.

Air terjun Lembah Anai, menara Jam Gadang di Bukittinggi, Istana Pagaruyung yang tengah direhab dari puing-puing bekas kebakaran, gedung-gedung tua di Sawahlunto, danau terbesar kedua Sumatera di Singkarak dan Danau Kembar, menjadi panorama utama sepanjang balapan.

Modal penting lain yang dimiliki Sumatera Barat menggelar ajang tersebut adalah kualitas jalan raya. Lintasan jalan raya sejauh 460,5 kilometer benar-benar berkelas nomor satu, kecuali beberapa titik di perbatasan Kota Bukittinggi dan Sumpur, Tanah Datar. Untuk memperbaiki jalan-jalan itu, pemerintah daerah setempat kabarnya mengucurkan dana Rp 4-5 miliar.

 

Tour de Singkarak bukan saja menambah jam terbang pebalap lokal, tetapi juga menggairahkan warga setempat. Mereka memadati pinggir jalan yang dilewati para pebalap, bahkan telah siap satu atau dua jam sebelum rombongan pebalap itu lewat.

”Daerah kami jarang meriah seperti ini. Biasanya hari Minggu ramai, tetapi dua bulan terakhir ini mulai surut,” tutur Ria (23), alumnus Universitas Andalas Padang saat ditemui di Bukittinggi.

Salah satu kekurangan ajang ini adalah terlalu jauhnya transfer tim ke hotel pada etape 3 B (Danau Singkarak). Tim harus kembali ke Bukittinggi, padahal esoknya harus balik lagi ke Singkarak yang memakan waktu 1-1,5 jam. Ini akibat tidak memadainya akomodasi di Solok.

Setelah sukses dengan perhelatan pertama, pertanyaan: adakah kepastian Tour de Singkarak digelar tahun depan?



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X