Goa Selarong, Sepi dan Dikotori Para Vandalis

Kompas.com - 23/01/2010, 21:16 WIB
Editormade

KOMPAS.com - "Sampai ketemu perempatan Masjid Agung, belok ke arah Barat, lurus saja terus, di sana sudah ada banyak plang penunjuk jalan sampai ke Selarong," kata seorang bapak saat saya tersesat kala mencari Goa Selarong, petilasan Pangeran Diponegoro di Bantul, Yogyakarta, Minggu (3/1/2010).

Sepeda motor langsung saya pacu menekuri jalan sesuai informasi. Jalan aspal menuju goa cukup lebar dan kondisinya baik. Di kiri kanan. jalan terhampar sawah hijau diselingi pepohonan dan rumah-rumah penduduk yang tampak bersahaja.

Memasuki gapura utama goa dengan jalan yang melandai turun, seorang petugas di pos retribusi telah siap menyambut. Dengan harga tiket yang relatif murah, yaitu Rp 2.000 per orang, pengunjung diberi kebebasan untuk mengeksplorasi kawasan obyek wisata Goa Selarong yang cukup luas itu.

Seturut garis lurus dari pintu masuk utama, tepatnya di ujung pelataran yang bersisian dengan jalan menuju goa, tampak patung Pangeran Diponegoro berjubah dan bersorban putih, gagah menunggang kuda berwarna cokelat tembaga. Rerimbunan pepohonan semakin memperkuat imajinasi nuansa perjuangan Pangeran Diponegoro dengan laskarnya pada masa lalu. Di sebelah kanan patung, terpapar peta obyek wisata Goa Selarong.

Disebutkan, pengunjung dapat mengetahui bahwa selain goa, ada pula air terjun dan sendang yang dapat dikunjungi sebagai bagian dari kawasan wisata.

Di sebelah kiri kanan jalan penjaja minuman dan buah-buahan lokal, seperti sawo dan rambutan, dengan semangat menawarkan dagangannya dalam campuran bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Tapi, jangan bayangkan mereka seperti para pedagang di Borobudur yang terkesan memaksa. Pedagang yang ada di kawasan goa ini tak pernah memaksa, mungkin juga karena faktor usia. Saat saya meliput, tak ada seorang pun orang muda atau anakanak yang berjualan.

Setelah melewati lapak-lapak pedagang, puluhan anak tangga yang menjulang ke puncak bukit menyambut siapa saja yang berkunjung. Untunglah, ada ruang lebar setiap 10 anak tangga, tempat untuk bersantai sambil menikmati panorama alam.

Menurut keterangan penduduk setempat, pada saat hujan terdapat air terjun mengalir dari puncak bukit di seberang tangga. Kerena hari sedang cerah, maka saya hanya dapat membayangkan dan mengira-ngira keberadaan air terjun yang meluncur di punggung bukit tersebut.

Pohon kamboja dan beberapa jenis pohon lainnya tumbuh di kedua sisi tangga, sehingga terasa teduh perjalanan ini. Akhirnya tibalah juga di pelataran puncak, tempat di mana terdapat dua goa persembunyian yang dijuluki Goa Selarong. Di sisi kiri adalah Goa Kakung, yaitu goa yang dulu ditempati oleh Pangeran Diponegoro. Sedangkan di sisi kanan adalah Goa Putri, goa yang ditempati oleh RA Ratnaningsih, istri sang Pangeran yang setia menyertai.

Pengunjung yang terlihat di sekitar kawasan goa hanya sedikit saja. Mungkin lantaran hari sudah siang. Seorang pemilik warung mengatakan, Goa Selarong hanya ramai pada saat hari libur clan hari Minggu, itu pun di pagi hari. Jadi lumrah bila hanya tampak satu dua rombongan keluarga yang sedang bersantai di dekat goa dan beberapa pasang muda-mudi yang tengah asyik bercengkerama di sudut-sudut kawasan goa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X