Pedas Segar Rujak Soto

Kompas.com - 25/01/2010, 19:56 WIB
Editormade

KOMPAS.com - Rujak soto? Apakah jenis makanan ini merupakan campuran rujak dengan soto? Kalau penasaran, datanglah ke Banyuwangi, kota di ujung timur Jawa Timur itu. Rujak soto memang makanan khas kota itu.

Tanyakan kepada orang Banyuwangi, makanan khas apa yang enak di kotanya. Boleh jadi, rujak soto adalah jawaban pertama, lalu disusul dengan nasi tempong. (Namun, tentu itu kalau yang ditanya kebetulan memang penyuka rujak soto).

Suatu malam pada akhir November 2009 di Kabupaten Banyuwangi, kami mencari rujak soto. Kami menyusuri kota, menengok ke kiri dan ke kanan jalan, mencari warung yang menjual rujak soto. Tak juga ditemukan.

Karyawan sebuah hotel di Banyuwangi mengatakan, sulit memang menjumpai warung rujak soto di malam hari. Seorang tamu hotel menyarankan untuk mencari di lesehan. ”Coba di perempatan Jalan Airlangga, ada yang buka malam,” katanya.

Kami bergegas meluncur ke Jalan Airlangga. Dan benar, di sana ada warung lesehan. ”Warung Lesehan Mbak Lastri”, tulisan itu disablon di atas terpal dan direkatkan di dinding rumah orang. ”Sudah minta izin kok,” kata Mbak Lastri, ibu dua anak berusia 39 tahun yang sendirian saja menjalankan bisnis kecilnya. Katanya, sekadar meringankan beban suaminya yang mencari nafkah di bengkel.

”Kemarin ada rombongan dua mobil dari Semarang ke sini, katanya penasaran dengan rujak soto. Warung rujak soto banyak banget di sini, tapi kalau malam biasanya sudah tutup,” imbuhnya.

Paduan sayur dan petis

”Mau rujak soto atau rujak saja?” tanya Mbak Lastri setelah kami duduk. Pertanyaan standar, mengingat kadang-kadang orang hanya memesan rujak meski jarang yang hanya memesan soto. Tentu saja kami memesan rujak soto.

Rujak di Banyuwangi menyerupai lotek di sejumlah kota di Jawa Tengah, yakni campuran sayur-mayur dengan bumbu kacang. Perbedaannya, bumbu kacang untuk lotek biasanya kuat rasa bawangnya, juga dibubuhi sedikit terasi dan jeruk purut untuk penyedap rasa. Sedangkan rujak Banyuwangi cukup dibalur dengan petis. Paduan bumbu kacang tanah dan petis ini cocok betul untuk sayur-mayur.

Mbak Lastri mulai mengulek atau melumatkan cabe rawit yang jumlahnya bergantung pada permintaan konsumen. Ada pembeli yang maunya satu saja, tetapi ada yang minta tujuh biji. Garam, kacang goreng, dan gula merah diulek. Tak perlu bawang putih rupanya. ”Soalnya sudah ada petis. Saya pakai petis yang mahal dan enak, yang satu kilogramnya berharga Rp 25.000,” kata Mbak Lastri.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X