Bukan Pempek, tapi Lenggang - Kompas.com

Bukan Pempek, tapi Lenggang

Kompas.com - 16/08/2010, 08:38 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - Lenggang Palembang makanan khas daerah setempat yang termasuk jenis pempek paling laris selama Ramadhan untuk disajikan berbuka puasa.      Ana (28) penjual lenggang yang mangkal di sekitar Masjid Agung Palembang, Senin (16/8/2010) mengatakan makanan yang dijualnya bersama suami tersebut selama bulan Ramadhan ini laris, karena setiap hari sedikitnya terjual 100 buah dengan harga Rp 5.000 per buah.      Ia menjelaskan, lenggang merupakan salah satu jenis pempek makanan khas Palembang. Berbeda dengan pempek umumnya, lenggang dibuat dengan cara instan yaitu tepung sagu dan ikan diadon di atas bara api, jelasnya.      Dia menambahkan, adonan yang dimasukkan ke dalam daun pisang  berbentuk kubus tersebut diberi sebutir telur ayam atau telur bebek.      "Setelah kering adonan bisa langsung dilepas dari daun yang telah terpanggang tersebut, selanjutnya makanan itu sudah berbentuk lenggang siap saji," tambahnya.      Ana mengatakan, makanan tersebut dikonsumsi dengan tambahan "cuko" atau saus campuran cabai, bawang putih, gula merah serta asam. "Selagi hangat lenggang akan lebih terasa lezat sehingga banyak pembeli yang sengaja memesan lenggang sesaat menjelang berbuka," kata dia.      Silvi (32) penikmat lenggang mengaku mengonsumsi salah satu makanan keluarga pempek tersebut dirasa lebih nikmat pada saat berbuka. Lenggang biasanya menjadi makanan pembuka bagi keluarganya usai meminum teh hangat dan kurma, akunya.      Dia menambahkan, citarasa lenggang sangat berbeda dengan pempek umumnya, karena proses pematangan dengan cara dipanggang dilapisi daun di atas bara api.       Sehingga lenggang lebih nikmat, bebas minyak dan tentunya gurih, tambah dia pula.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorIgnatius Sawabi

    Close Ads X