Weh, Sabang, dan Rubiah

Kompas.com - 23/08/2010, 15:42 WIB
EditorI Made Asdhiana

Sebelum Perang Dunia II, Sabang menjadi salah satu kota pelabuhan penting, bahkan lebih penting daripada Singapura (Temasek). Pelabuhan bebas Sabang telah berjalan sejak tahun 1895. Posisi Sabang semakin strategis saat Indonesia membentuk kerja sama ekonomi regional dengan Malaysia dan Thailand pada 1985.

Awal Januari 2000 Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan Sabang sebagai pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas. Barang-barang yang diimpor lewat Sabang bebas pajak. Mobil-mobil mewah asal Singapura dijual murah di kota itu.

Namun, ketika Aceh ditetapkan sebagai daerah operasi militer, aktivitas Sabang sebagai pelabuhan bebas terhenti.

Aktivitas pelabuhan bebas makin sepi dengan terbitnya Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Nomor 610/MPP/Kep/ 10/2004 tentang Perubahan atas Keputusan Menperindag Nomor 756/MPP/Kep/12/2003 tentang Impor Barang Modal Bukan Baru. Tak boleh lagi ada barang bekas yang boleh masuk dari seluruh daerah perbatasan Indonesia, termasuk Sabang.

Rubiah

Di kepulauan itu, selain Sabang, ada pula Rubiah. Letaknya tepat di depan Iboih, sekitar 20 kilometer sebelah barat Kota Sabang. Untuk mencapai kawasan tersebut tersedia angkutan umum dari Pelabuhan Balohan.

Sama seperti Sabang, tidak banyak literatur tertulis yang bisa diperoleh mengenai keberadaan pulau ini. Legenda mengenai Rubiah menyatu dengan Sabang.

Pergi ke Iboih akan sangat kurang jika kita tidak mengunjungi Rubiah karena sebagian besar taman laut berada di sekitar kawasan pulau itu.

Berjalan ke pulau tersebut kita akan mendapati beberapa bungalow yang pernah dihuni sejumlah pelaku perdamaian Aceh-Pemerintah Indonesia.

Sedikit ke bagian tengah pulau, kita akan mendapati bangunan yang mirip dengan pusat kesehatan masyarakat. Selidik punya selidik, bangunan rumah yang baru direnovasi itu ternyata bekas rumah karantina calon haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Bangunan yang baru direnovasi itu terkesan tidak terawat. Sekelilingnya tumbuh rerumputan setinggi pinggang orang dewasa. Bagian belakang bangunan utama, yang terdiri dari empat kamar mandi, dibiarkan berlumut. Beberapa kelelawar menjadikannya rumah pada siang hari. Tampak sekali bahwa bangunan tersebut tidak pernah dimanfaatkan lagi.

Saliza Mohammadar, pemilik Iboih Inn, kaget melihat foto-foto bangunan itu. Meski sudah lebih dari dua tahun tinggal di Iboih, dia mengaku belum pernah melihat bangunan itu. ”Bila dimanfaatkan dengan baik, dijadikan galeri untuk pameran foto zaman dulu, akan sangat bagus. Pengunjung pasti banyak yang tertarik,” ujarnya bersemangat.

Pertengahan era 1900-an, Sabang dikenal sebagai embarkasi jemaah haji Sumatera. Beberapa wilayah tetangga ikut memberangkatkan jemaahnya dari Sabang. Tapi, sekarang, bangunan pindah ke Pantai Kasih, Sabang. Rubiah, dan haji hanya tinggal cerita lama.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.