Atraksi Manusia Karen di Baan Tong Luang

Kompas.com - 07/01/2011, 09:02 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh: Irma Tambunan

Mani (29) tengah menenun kain ketika sejumlah turis mendekat. Salah seorang menyapanya dan meminta Mani berfoto bersama. Ia pun tersenyum seraya beranjak dari duduknya. Sesi foto yang berlangsung hampir 10 menit itu berakhir dengan kepuasan di wajah para pengunjung.

Tak lama, sejumlah wisatawan lain datang lagi. Mereka rupanya memiliki ketertarikan serupa pada kalung logam keemasan di leher Mani yang panjang itu sehingga ingin mengajaknya berfoto. Saya pun ikut nimbrung sambil mengajaknya ngobrol.

Selain saya, para pengunjung itu juga memiliki rasa penasaran. Sejumlah pertanyaan serupa hendak kami kemukakan, seperti: sejak kapan memakai kalung yang berat itu? Atau, apakah tidak merasa sakit karena bertahun-tahun memakainya? Masih dengan senyumnya, Mani menjawab seluruh pertanyaan kami dengan singkat. Tentu saja bukan karena ia sombong. Kemampuan Mani berbahasa Inggris masih patah-patah.

Menurut Mani, ia memakai kalung berwarna keemasan itu, atau disebut toliang, sejak usia lima tahun. Kini sebanyak 24 keping toliang telah menggantung di lehernya. Setiap bertambahnya usia, jumlah kalung ditambah satu. Tidak hanya di leher, tapi Mani juga mengenakan kalung serupa di kedua kakinya yang jenjang. Sedangkan kepalanya dihiasi kain berajut renda warna-warni.

Budaya memakai kalung pada wanita Karen merupakan bagian kepercayaan bahwa mereka keturunan burung mitos, Phoenix. Saking beratnya, kalung-kalung itu mendorong tulang bahu dan rusuk turun sehingga leher mereka pun memanjang. Wanita Karen merasa semakin mirip Phoenix jika memiliki leher yang kian panjang.

Untuk memuaskan rasa penasaran, ujung-ujungnya Mani menawarkan kami berfoto dengan memakai toliang serupa dengannya. Ternyata toliang memang berat sekali. Satu keping kalung berukuran berat setengah kilogram lebih. Sedangkan toliang yang dikenakan pada leher kami ada sekitar 10 hingga 15 keping. Bisa dibayangkan leher kami harus menyangga benda yang beratnya sekitar 8 kilogram. Untung saja, sesi foto segera berakhir dan toliang pun kami kembalikan.

Mani adalah salah seorang warga suku Karen, yaitu suku pegunungan asal Myanmar. Bersama sekitar 30 keluarga lainnya, ia menempati permukiman yang dibangun Pemerintah Thailand pada tahun 2005 di Desa Baan Tong Luang, Chiang Mai. Selain Karen yang merupakan subsuku Kayan, ada penduduk suku Akha, Mong, dan suku Lisu. Di desa ini, mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, pekerjaan yang paling menopang penghidupan mereka adalah menenun kain.

Karena itu, ketika memasuki Baan Tong Luang, kita akan melewati jalan setapak hampir sepanjang 200 meter, melalui pondok-pondok bambu yang dipenuhi aneka suvenir berupa kain tenun, tas tenun, boneka etnik, baju adat setempat, serta alat musik tiup dari bambu. Di sepanjang jalan itulah wisatawan akan menyaksikan para wanita berpakaian warna-warni khas setempat, tengah sibuk menenun kain.

Ketika rombongan wisatawan berkunjung, mereka akan dengan ramah menyapa, sambil menawarkan barang suvenir untuk dibeli. ”Buy... buy (beli),” hanya itu yang selalu terucap untuk mengajak orang membeli. Jika kami menanyakan harga, mereka pun hanya menunjukkan jari tangan. Misalnya, satu telunjuk untuk harga 100 bath. Hanya sedikit warga setempat yang mampu berbahasa Inggris lebih lancar seperti Mani.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.