Kompas.com - 15/01/2011, 17:24 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com Konon, saat Bu Djito pertama kali berjualan jajanan pasar olahannya, orang-orang bertanya, "Iki opo?" Karena terlalu sering mendapatkan pertanyaan yang sama, pelan-pelan jajanan pasar itu pun diberi nama kipo. Anda bisa menemukan kipo di kios Bu Djito di Jalan Mondorakan Nomor 27, Kotagede, Yogyakarta.

Tak banyak orang yang tahu jajanan khas Kotagede ini walaupun sudah beberapa kali mampir ke Yogyakarta. Warna hijau menjadi kekhasan kipo. Ciri lain adalah isian gula jawa nan legit dan ukuran yang sangat kecil, hanya untuk sekali gigit. Cocok menjadi teman minum teh di pagi atau sore hari. Istri Rahayu, anak Bu Djito, menceritakan, usaha ibunya itu sudah dimulai sejak 1946. Istri sudah membantu usaha kipo sejak masih berumur delapan tahun.

"Saya mulai pegang sejak tahun 1990. Ibu saya meninggal tahun 1993," katanya.

Bu Djito memang sudah lama tiada, tetapi kipo olahannya masih terus lestari hingga kini. Istri menuturkan, awalnya hanya berjualan di pinggir jalan depan rumah. Kios Bu Djito kini tak hanya menjual kipo, tetapi juga beraneka jajanan lain.

Tahun 1987 Kipo Bu Djito mengikuti pameran makanan tradisional. Dari pameran itulah kipo makin dikenal masyarakat Yogyakarta. Setahun setelahnya, kipo mulai masuk ke pasar menengah ke atas setelah mengikuti sebuah perlombaan dan berhasil ikut pameran di Jakarta.

"Berawal dari lomba, kipo mulai dikenal orang-orang menengah ke atas, sampai masuk ke hotel-hotel," tuturnya.

Resep kipo berawal dari nenek Istri, tetapi kemudian dikembangkan Bu Djito dan ternyata banyak disukai orang. Sampai saat ini pun Istri tetap mempertahankan resep asli turun-temurun tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika Anda mampir ke kios Bu Djito, Anda bisa melihat sendiri pembuatan kipo. Tangan terampil Istri tampak biasa mengolah adonan. Adonan kulit terbuat dari tepung ketan. Warna hijau didapat secara alami, yaitu dari daun suji. Tepung ketan dicampur sari daun suji dan daun pandan. Tak mengherankan, aroma kipo begitu harum karena menggunakan daun pandan. Sementara isiannya menggunakan kelapa muda yang dicampur gula jawa.

"Adonan untuk kulit ambil sebanyak biji kelereng, lalu pipihkan, dan beri isian. Tutup seperti buat pastel mini," kata Istri.

Adonan yang sudah diberi isian kemudian dibungkus daun pisang, lalu dipanggang. Satu porsi terdiri dari lima kipo. Kipo-kipo yang telah berselimut daun pisang lalu dipanggang di atas cobek. Rasa manis bercampur harum pandan dan kenyalnya kulit dari ketan dalam satu gigit. Paduan yang apik. Dulu, Bu Djito menggunakan bahan bakar arang, tetapi kini memakai gas. Karena tidak menggunakan bahan pengawet, kipo hanya awet semalam.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Video Pilihan

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.