Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Karnaval Budaya Tionghoa di Malioboro

Kompas.com - 14/02/2011, 07:28 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Karnaval Pekan Budaya Tionghoa di sepanjang Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, Kota Yogyakarta, menampilkan beragam budaya nusantara, Minggu (13/2/2011) sore. Ada 25 kelompok peserta yang tampil dalam karnaval ini, bahkan ikut pula kelompok peserta dari beberapa negara sahabat.

"Ada naga barongsai, patung kelinci, dan kesenian jatilan dari Kabupaten Sleman, serta kelompok badut," kata Ketua Umum Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY), Tri Kirana Muslidatun.

Karnaval PBTY dibuka dengan penampilan sejumlah barongsai berukuran kecil, kemudian diikuti barongsai raksasa berukuran tinggi enam meter dan lebar 2,5 meter yang dibawa sejumlah anggota Yon Armed 11 Guntur Geni/Kostrad.

Sepasang patung kelinci emas berukuran tinggi 2,5 meter yang menandai tahun kelinci, juga diarak dalam karnaval tersebut. "Sepasang patung kelinci emas itu, akan dipajang di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta selama satu tahun," katanya.

Menurut Tri, patung tersebut dibuat dari fiberglass, sehingga bisa tahan terhadap panas dan dingin. Dalam karnaval ini juga ditampilkan kesenian jatilan dari Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, yang termasuk wilayah bencana letusan Gunung Merapi pada 2010.

Selain itu juga tampil sejumlah mahasiswa asal China yang belajar di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, yang memperagakan kemampuannya dalam seni bela diri Thaichi. Sejumlah mahasiswa asal Myanmar yang belajar di Universitas Gadjah Mada (UGM), juga menjadi bagian peserta karnaval. Mereka tampil untuk menyanyi dan menari, sekaligus menyambut tahun baru Myanmar.

Begitu pula dengan beberapa mahasiswa asal Kamboja yang belajar di UGM Yogyakarta, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), masing-masing tampil dengan kekhasannya. Mahasiswa asal Kamboja itu memberikan ucapan selamat tahun baru Imlek.

"Kegiatan ini untuk kebersamaan dan perdamaian, seperti arti dari Tahun Kelinci Emas, yaitu perdamaian," kata Tri Kirana.

Penampilan beragam kebudayaan tersebut, menurut dia menjadi bukti bahwa budaya Tionghoa telah berakulturasi dengan berbagai budaya di nusantara. Selain itu, lanjut Tri, acara ini sekaligus menggambarkan bahwa warga dari berbagai budaya nusantara merupakan satu kesatuan sebagai bangsa Indonesia yang terbalut kebhinekaan.

Selama karnaval berlangsung, ribuan warga Yogyakarta memadati Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, bahkan di sekitar pusat Kota Yogyakarta, warga rela berdesak-desakan, dan bahkan ada yang memanjat pagar hanya untuk bisa melihat karnaval secara lebih jelas. "Saya perkirakan ada sekitar 50.000 warga yang melihat karnaval ini, karena kebetulan bertepatan dengan libur akhir pekan," katanya.

Tri berharap kegiatan ini dapat mendongkrak kepariwisataan Yogyakarta pascaerupsi Gunung Merapi. Karnaval budaya tersebut kemudian ditutup dengan penampilan liong terpanjang di Asia Tenggara, yaitu sepanjang 130 meter yang telah tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai liong terpanjang pada 2010.

PBTY yang merupakan puncak perayaan Cap Go Meh akan digelar hingga 17 Februari 2011 di kawasan Jalan Ketandan, Kota Yogyakarta, dengan menyajikan berbagai kesenian seperti wayang "poo tay hie", lagu-lagu Mandarin, atraksi naga barongsai, serta beberapa tari daerah, dan pameran kebaya encim.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Rusa Jadi Ancaman di Beberapa Negara Bagian AS, Tewaskan Ratusan Orang

Rusa Jadi Ancaman di Beberapa Negara Bagian AS, Tewaskan Ratusan Orang

Travel Update
5 Rekomendasi Playground Indoor di Surabaya untuk Isi Liburan Anak

5 Rekomendasi Playground Indoor di Surabaya untuk Isi Liburan Anak

Jalan Jalan
Pilot dan Pramugari Ternyata Tidur pada Penerbangan Jarak Jauh

Pilot dan Pramugari Ternyata Tidur pada Penerbangan Jarak Jauh

Travel Update
Desa Wisata Tabek Patah: Sejarah dan Daya Tarik

Desa Wisata Tabek Patah: Sejarah dan Daya Tarik

Jalan Jalan
Komodo Travel Mart Digelar Juni 2024, Ajang Promosi NTT ke Kancah Dunia

Komodo Travel Mart Digelar Juni 2024, Ajang Promosi NTT ke Kancah Dunia

Travel Update
Tips Pilih Makanan yang Cocok untuk Penerbangan Panjang

Tips Pilih Makanan yang Cocok untuk Penerbangan Panjang

Travel Tips
Harapan Pariwisata Hijau Indonesia pada Hari Bumi 2024 dan Realisasinya

Harapan Pariwisata Hijau Indonesia pada Hari Bumi 2024 dan Realisasinya

Travel Update
5 Tips Menulis Tanda Pengenal Koper yang Aman dan Tepat

5 Tips Menulis Tanda Pengenal Koper yang Aman dan Tepat

Travel Tips
Turis China Jatuh ke Jurang Kawah Ijen, Sandiaga: Wisatawan agar Dipandu dan Mengikuti Peraturan

Turis China Jatuh ke Jurang Kawah Ijen, Sandiaga: Wisatawan agar Dipandu dan Mengikuti Peraturan

Travel Update
8 Kesalahan Saat Liburan Berkelompok, Awas Bisa Cekcok

8 Kesalahan Saat Liburan Berkelompok, Awas Bisa Cekcok

Travel Tips
Sandiaga Bantah Iuran Pariwisata Akan Dibebankan ke Tiket Pesawat

Sandiaga Bantah Iuran Pariwisata Akan Dibebankan ke Tiket Pesawat

Travel Update
Hari Kartini, 100 Perempuan Pakai Kebaya di Puncak Gunung Kembang Wonosobo

Hari Kartini, 100 Perempuan Pakai Kebaya di Puncak Gunung Kembang Wonosobo

Travel Update
Artotel Gelora Senayan Resmi Dibuka April 2024, Ada Promo Menginap

Artotel Gelora Senayan Resmi Dibuka April 2024, Ada Promo Menginap

Travel Update
Artotel Group Akuisisi Hotel Century Senayan, Tetap Ada Kamar Atlet

Artotel Group Akuisisi Hotel Century Senayan, Tetap Ada Kamar Atlet

Travel Update
Lokasi dan Jam Buka Terbaru Kebun Binatang Bandung

Lokasi dan Jam Buka Terbaru Kebun Binatang Bandung

Jalan Jalan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com