Mencari Sosok Jenderal Cangklong

Kompas.com - 18/02/2011, 08:50 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com — Morotai, pulau kecil penuh misteri di ujung Maluku. Konon, di pulau ini bersemayam Suku Moro. Pada zaman dahulu, Suku Moro pernah menjelajahi kawasan Maluku. Kini penduduk setempat memandang Suku Moro sebagai sosok-sosok misterius yang bersemayam di dunia lain. Sisi misterius Morotai tak hanya itu. Pada masa Perang Dunia II, kawasan Morotai menjadi lahan pertempuran antara Jepang dan aliansi Amerika Serikat dan Australia.

Setelah Jepang dikalahkan, Amerika Serikat kemudian membangun pangkalan militer di Morotai. Beberapa tempat di Morotai masih menyisakan peninggalan-peninggalan masa perang tersebut. Tak hanya di permukaan tanah. Jika Anda menyelam dan menggali bumi Morotai, bisa dipastikan di beberapa titik lokasi Anda masih bisa menjumpai peralatan perang dari tentara Jepang, Amerika Serikat, ataupun Australia.

Saya menjumpai beberapa pria di Morotai yang menggunakan dog tag, kalung identitas yang biasa dipakai tentara. Mereka memakai dog tag tentara Jepang, Amerika Serikat, dan Australia. Bahkan Firman, warga Morotai, mengalungi ratusan dog tag. Koleksi dog tag miliknya pernah ditawar puluhan juta rupiah oleh seorang warga negara asing. Namun, ia menolak menjual dog tag koleksinya.

Tentara Jepang saat itu berjumlah sekitar 600 orang. Secara jumlah, mereka kalah banyak dengan tentara sekutu yang berjumlah lebih dari 60.000 orang. Belum lagi armada pesawat tempur dan kapal laut yang berseliweran di udara serta laut. Bayangkan, betapa ramainya pulau kecil ini di masa perang. Kini penduduk Morotai berjumlah 50.000 orang. Listrik yang sering padam dan malam hari yang gelap karena minimnya lampu penerangan jalan, Morotai bagai pulau terpencil di antah berantah.

Perang Morotai antara Jepang dan Amerika Serikat-Australia terjadi tahun 1944-1945. Dari pertempuran ini, seorang jenderal legendaris muncul. Ia adalah Douglas MacArthur, jenderal tentara Amerika Serikat. MacArthur adalah otak dari segala pertempuran di Morotai, termasuk penyerangan ke Filipina. Jenderal yang gemar mengisap tembakau dengan cangklong itu berperan besar untuk kemenangan Amerika Serikat dan sekutu atas Perang Dunia II di wilayah Pasifik.

Karena itu, Morotai sangat kaya akan lokasi-lokasi bersejarah yang berhubungan dengan MacArthur. Tak pelak, selain wisata bahari, wisata sejarah pun bisa menjadi tema besar untuk kabupaten yang baru berusia dua tahun ini. Saya pun berkesempatan menapak tilas di beberapa kawasan tempat MacArthur pernah menginjak. Perjalanan saya menuju Morotai dari Tobelo, Halmahera Utara menuju Morotai menggunakan speedboat. Untuk bisa melihat pemandangan yang lebih sempurna, duduk di atap speedboat memang lebih mantap. Laut biru dan gugusan pulau, sebuah panorama yang mencuri hati.

Dari kejauhan, warna biru laut mulai berubah menjadi pasir putih dan hijau nyiur. Pulau Dodola sudah di depan mata. Pulau Dodola sebenarnya terdiri dari dua pulau, yaitu Dodola Besar dan Dodola Kecil. Kedua pulau ini disambungkan dengan pasir putih memanjang. Jika laut pasang, sambungan pasir putih ini pun terputus dan kedua pulau menjadi terpisah. Namun, di kala surut, Dodola Besar dan Dodola Kecil bergabung menjadi Dodola yang memanjang. Pulau cantik dengan pasir putih yang lembut ini masih terjaga keperawanannya. Dulu, MacArthur dan para tentara sering berlibur di pulau ini. Pulau tersebut menjadi favorit tentara sekutu melepas penat dengan berjemur, berenang, dan menyelam.

Perjalanan kemudian menuju Morotai. Hanya perlu waktu sekitar 20 menit untuk mencapai pusat kota Morotai dari Pulau Dodola. Saya pun mampir di lapangan udara Pitu Strep, Desa Wawama. Lapangan udara peninggalan sekutu tersebut dahulu memiliki tujuh landasan. Saat ini, landasan yang masih bisa terpakai hanya dua. Satu landasan untuk landasan pacu dan satu lagi untuk apron atau tempat parkir pesawat.

"Pitu Strep dibangun hanya dalam waktu satu bulan," kata Nyoman Oka, anggota TNI AU yang bertugas di Pitu Strep.

Ya, kini Pitu Strep dikelola TNI AU. Para ahli insinyur dari Amerika dibantu penduduk setempat mengerjakan proyek besar ini dalam waktu singkat. Dari landasan udara inilah sejarah tercipta. Strategi lompat katak yang dibangun MacArthur dengan menguasai pulau-pulau karang untuk menembus Filipina membuahkan kemenangan manis. Tak hanya Filipina berhasil ia rebut dari Jepang, MacArthur pun berhasil menembus sampai ke negara Jepang. Pada masa itu, udara Pitu Strep begitu sibuk dengan seliweran lebih dari 200 pesawat tempur. Sekarang, hanya tinggal keheningan di tengah rimbun pepohonan.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X