Ambisi "The Walker" Pecahkan Rekor Dunia

Kompas.com - 04/06/2011, 07:27 WIB
EditorI Made Asdhiana

"Ukuran kekayaan seseorang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa banyak yang dikumpulkan, tapi dari seberapa banyak yang dibagi".

KOMPAS.com — Herman Wenas sudah berusia 36 tahun saat ia memulai perjalanannya pertama kali. Ia bukan sekadar seorang traveler yang pelesir ke luar negeri. Ada sebuah misi dan cara tertentu yang harus ia tempuh untuk mengejar mimpinya berkeliling dunia. Pada tahun 2007, ia berhasil menempuh perjalanan sejauh 1.000 kilometer dengan berjalan kaki selama 33 hari. Ya, tidak seperti wisatawan atau petualang pada umumnya, Herman bagaikan Suku Badui yang mengarungi daratan bumi dengan berjalan kaki.

Kini, di usianya yang sudah 43 tahun, ia pun berencana memecahkan Guinness World Record atau rekor dunia sebagai orang tercepat yang berkeliling dunia dengan berjalan kaki. Jika berhasil, maka ia akan berjalan sejauh 30.000 kilometer dan melewati 25 negara di dunia. Ia telah memulai berjalan kaki pada tanggal 30 Mei 2011. Bali merupakan titik awal dan akhir perjalanannya. Ia dijadwalkan kembali ke Bali pada tahun 2015. Dalam perjalanannya, Herman akan didampingi tim yang menggunakan mobil.

Pria yang lahir di Jakarta pada 7 Desember itu dijuluki "The Walker" oleh orang-orang yang ditemuinya saat melakukan perjalanan. Ia berjalan tak hanya sekadar untuk memecahkan rekor dunia. Misi utamanya adalah penggalangan dana untuk hak-hak anak, sekaligus mempromosikan Indonesia di mata dunia. Ia ingin berbagi dengan masyarakat dunia, seperti apa negara yang ia cintai, Indonesia. Demi hal ini, ia harus berpisah dengan keluarga dan kampung halaman selama empat tahun. Apa yang membuatnya ngotot untuk melakukan perjalanan melelahkan ini? Simak wawancara Kompas.com dengan Herman Wenas berikut.

Apa sebenarnya tujuan Anda berjalan kaki?
Ini buat contoh dan teladan. Memang awalnya buat anak saya. Namun pada akhirnya ini bisa jadi teladan untuk semua orang. Kekayaan seseorang itu sesungguhnya bukan dari seberapa banyak yang ia kumpulkan karena, saat kita kumpulkan tanpa membagi, kita tidak akan merasa aman, akan selalu merasa kurang ini-kurang itu. Ini yang ingin saya bagi, perjalanan ini. Pada praktiknya saya sampai tinggalkan bisnis yang sebenarnya bisa membuat saya lebih kaya lagi. Walaupun tidak seratus persen ditinggalkan, tetapi saya melepas kenyamanan itu untuk berjalan. Saya ingin menjadi teladan bagi anak saya. Kita bisa menjadi luar biasa dengan melakukan hal biasa di luar kebiasaan.

Ini pengaruh dari mana?
Saya belajar dari orangtua. Dulu saya tinggal di rumah, rumahnya besar, tetapi jadi sempit karena terlalu banyak orang yang tinggal. Karena masih kecil, saya belum paham, sampai saya mikir orangtua saya masih bisa ngenalin enggak ya anaknya yang mana. Saya empat bersaudara. Namun yang lain, yang berseliweran, banyak. Ada yang disekolahkan oleh orangtua. Ada yang tinggal di rumah. Ada yang masih tinggal, walaupun sudah nikah, karena belum kerja, tetapi sudah menikah. Saya melihatnya begini, waktu bapak saya meninggal tahun 2007, banyak yang datang dan mereka salamin saya sambil bilang, "Bapak kamu gini-gini...." Begitu berjasanya bapak saya bagi mereka.

Saat memulai perjalanan, apa yang bapak Anda utarakan?
Saat itu kondisi mental beliau sudah mulai menurun. Namun, dia tahu kalau saya melakukan perjalanan. Memang, dari dulu saya nyaman dengan sesuatu yang tidak rutin. Orangtua saya mengerti itu.

Mengapa pilih berjalan kaki?
Saya suka jalan kaki. Saya menikmati proses perjalanan. Saya enggak suka jalan dan langsung sampai karena, ternyata sepanjang jalan ada banyak hal yang bisa ditemui. Saya tipikal pencerita, jadi saya senang berinteraksi dengan orang. Saya bisa menemukan cerita-cerita baru, dan saya juga bisa cerita tentang negara saya, budaya saya. Saya menikmati proses itu. Kalau dengan mobil, kita memang bisa lihat lebih banyak, tetapi sedikit yang bisa ditemui.

Apa barang yang Anda perlukan atau biasa Anda bawa?
Perlengkapan yang paling utama adalah sandal gunung. Prediksinya, satu sandal itu untuk berjalan kaki sejauh 300 kilometer. Saya enggak mungkin bawa semua. Misalnya begini, dari Bali ke Timor Leste itu 1.000 kilometer. Di sana sudah dipersiapkan sandal gunung di KBRI di Timor Leste. Jadi, sandal gunungnya sudah dikirim duluan. Kami ada kerja sama dengan Kementerian Luar Negeri. Kalau sepatu olahraga biasa, itu panas. Kalau berhari-hari dipakai jalan, kaki jadi lembab dan kuku kaki bisa terlepas.

Pernah kuku saya lepas, padahal baru 1.500 kilometer pertama. Kami cari tahu penyebabnya. Ternyata itu karena sepatu. Selain sandal gunung, saya bawa backpack, tenda, dan tas pinggang. Tas pinggang isinya ponsel, electric shock (alat kejut listrik untuk anti-rampok), pisau lipat, dompet, dan fotokopi paspor. Kalau dokumen-dokumen asli yang penting kami tinggal di KBRI. Pokoknya diusahakan seringan mungkin.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.