Menyusuri Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Kompas.com - 17/08/2011, 18:43 WIB
EditorLatief

KOMPAS.com — Seperti tahun ini, tepat 66 tahun lalu, bulan Agustus adalah bulan puasa. Langit masih tampak gelap karena fajar masih lama menyingsing.

Di tengah pagi buta itu, beberapa orang terlihat sibuk menyusun naskah proklamasi. Sebentar lagi imsak tiba. Makanan untuk sahur pun telah dipesan.

Di tengah kesibukan detik-detik bersejarah itu, mereka yang sibuk itu lalu bersantap sahur untuk bersiap menjalankan ibadah puasa. Bahkan, bukan hanya kewajiban berpuasa yang akan mereka hadapi hari itu, melainkan juga sebuah momen yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia ke depan.

Benar saja. Beberapa jam kemudian, Bung Karno membacakan naskah proklamasi itu.

Napak tilas

Menapak tilas sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tentu tak lepas dari peran rumah kediaman Laksamana Maeda di Jl Imam Bonjol No 1, Jakarta Pusat. Rumah tersebut kini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Sebuah bangunan yang menjadi saksi sejarah lahirnya naskah proklamasi, mulai dari persiapan, perumusan naskah, pengetikan, hingga pengesahan dan penandatangan naskah tersebut.

Di dalam bangunan bergaya Eropa seluas 1.138 meter persegi ini banyak terdapat ruang dengan lorong-lorong yang besar. Ruang pertama merupakan tempat persiapan perumusan naskah proklamasi yang terdiri dari beberapa sofa empuk. Di sinilah Maeda menyambut kedatangan Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Sobardjo sekembalinya mereka dari Rengasdengklok.

"Padahal, awal rencana perumusan naskah proklamasi itu diadakan di Hotel Des Indes atau Hotel Indonesia. Namun, karena hari sudah larut malam dan usaha Achmad Soebardjo rapat diadakan di sini dengan memberikan jaminan keamanan oleh Maeda," ungkap Imron, pemandu Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Ruang kedua merupakan tempat dirumuskannya naskah proklamasi pada 16 Agustus 1945, pukul tiga subuh. Di ruangan itu, Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Soebardjo mengitari sebuah meja bundar. Dengan tangannya sendiri Bung Karno menuliskan naskah proklamasi, sedangkan Bung Hatta dan Achmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan.

Sementara ruang ketiga adalah tempat pengesahan dan penandatangan naskah proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno di hadapan 27 tokoh pergerakan bangsa Indonesia yang hadir. Sementara ruang keempat, tepatnya di bawah tangga, merupakan tempat pengetikan naskah proklamasi oleh Sayuti Melik, yang ditemani oleh BM Diah.

Halaman:
Baca tentang


    Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X