Demak, Nagari Para Wali

Kompas.com - 22/08/2011, 17:16 WIB
EditorA. Wisnubrata

Oleh: Hendriyo Widi

SETIAP bulan Ruwah,banyak peziarah mengunjungi Masjid Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, seperti pada Sabtu (16/7/2011) yang lalu. Selain berziarah ke masjid yang dibangun Wali Songo itu, mereka juga mengunjungi makam sultan pertama Demak Raden Patah, dan Museum Masjid Demak.

Demak, salah satu kabupaten di Jawa Tengah, merupakan kota ziarah yang kerap disebut sebagai Kota Wali atau Nagari Para Wali. Kota yang menjadi cikal bakal Islam di Jawa itu meninggalkan kenangan dan ingatan religius berupa Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga.

Kota kecil tersebut terletak di timur Semarang dan berjarak sekitar 28 kilometer dari ibu kota Jawa Tengah itu. Untuk menuju Demak cukup mudah, yaitu dengan menyusuri jalan pantai utara Semarang-Demak menggunakan kendaraan bermotor selama lebih kurang 30 menit.

Setiap bulan Ruwah, para peziarah domestik dan mancanegara selalu memadati Demak. Masjid Demak yang merupakan peninggalan Sultan Demak pertama, Raden Fatah, dan Wali Songo serta makam Sunan Kalijaga itu menjadi destinasi utama.

Kantor Pengelola Masjid Demak mencatat, pada Juni 2011, dari 122.577 peziarah, 194 peziarah berasal dari Malaysia dan Singapura. Sementara itu, Sekretariat Kasepuhan Sunan Kalijaga menyebutkan, peziarah di makam Sunan Kalijaga pada Juni 2011 berjumlah 586.967 orang. Sebanyak 103 peziarah di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura. Apa yang menarik para peziarah atau bahkan turis asing hijrah ke Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga?

Peninggalan Islam

Dahulu Demak bernama Glagahwangi, daerah perkampungan nelayan di tepi Sungai Tuntang yang bermuara di Laut Jawa. Sebagian besar daerahnya berupa rawa-rawa berlumpur, berhias rumah-rumah panggung.

Pada 1476, Raden Fatah, keturunan Raja Majapahit Kertabhumi bergelar Prabu Brawijaya V, mengubah perkampungan itu menjadi kerajaan atau kesultanan. Rawa-rawa pun disulap menjadi kawasan permukiman dan pertanian, sedangkan Sungai Tuntang menjadi jalur lalu lintas perdagangan.

Di perkampungan yang bertumbuh menjadi Kasultanan Demak itulah syiar Islam di Jawa pertama kali bergaung. Sebagai wadah utama dan pusat syiar itu, Raden Fatah dan Wali Songo mendirikan Masjid Demak pada 1479.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.