Apa Makna Natal bagi Masyarakat Perancis?

Kompas.com - 15/12/2011, 16:37 WIB
EditorI Made Asdhiana

Suatu kali saat dirinya dijemput di sekolah, dia yang biasanya pulang bareng dengan temannya hanya keluar kelas sendiri. Dari jauh saya lihat teman saya, ibu dari anak itu mencoba membujuk putranya yang mogok jalan. Setelah kami datangi, mulailah keduanya silat lidah, lucu sekali anak berusia lima tahun bertengkar mempertahankan pendirian.

Kami berdua (para ibu), mencoba menjelaskan dengan menyatakan, jika Pere Noël tak nyata bagi Adam, karena kami bukanlah umat Kristiani, maka Sinterklas pun tak datang, manusia dari Kutub utara itu hanya mendatangi anak-anak yang menganut tradisi tersebut.

"Ohhh kasihan Adam, berarti dia tak dapat kado di hari Natal dari Sinterklas dan juga kamu orangtuanya ya?" ucap Mathis sahabat anakku itu polos.

"Tentu saja saya dapat, dari nenek kakek, tante dan om, lalu nanti saya dapat lagi saat Lebaran terus terima juga pas hari ulang tahun, jadi banyak sekali kado yang saya terima," jawab Adam dengan girangnya.

"Ohh Maman (ibu dalam bahasa Perancis), saya juga mau dapat kado lebaran seperti Adam, Dini kamu bisa kasih saya hadiah lebaran seperti Adam?" pinta Mathis membuat saya tertawa geli.

Pesta keluarga dan limpahan kado

Jawaban kedua yang terlontar dari mulut orang Perancis adalah, Noël c'est la fête de la famille (Natal adalah pesta keluarga). Saat Natal inilah, anggota keluarga jauh sebelum datangnya perayaan tersebut telah berunding, dimana dan kapan mereka akan datang. Perayaan Natal biasanya dimulai dari tanggal 24 Desember malam. Pada malam itulah mereka berkumpul bersama menikmati santapan tradisi Natal. Bagi mereka yang menjalani agama, malam sebelum hari Natal melakukan misa ke Gereja.

Hal ini tak pernah saya lihat di keluarga Kang Dadang. Karena bagi mereka Natal sudah merupakan tradisi sepenuhnya. Mereka  yang ingin merayakan di dua keluarga, karena alasan perceraian orangtuanya, atau telah memiliki mertua, membagi waktu untuk datang antara malam Natal di suatu keluarga dan esoknya merayakannya pada tanggal 25 Desember di keluarga lainnya. Meskipun jarak dua keluarga berjauhan ternyata banyak yang rela menempuh perjalanan jauh demi berkumpul bersama. Hasil angket membuktikan  90 persen orang Perancis merasa penting merayakan Natal dengan keluarga.

Orangtua Kang Dadang, selalu meminta kepada kami agar melewatkan hari penting itu bersama mereka. Pada awal pertama saya tinggal di Perancis, terus terang, posisi saya sangat terjepit. Setelah dua kali tak bisa melewati bersama mereka, karena saya pulang kampung, akhirnya permintaan itu kami setujui.

Tak adanya pohon cemara berhias bola cantik dan lampu berkelip di kediaman kami, membuat ibu mertua saya gemas rupanya. Dia tak begitu mengerti, membelikan kami pohon hijau tersebut lengkap dengan dekorasinya. Beruntung saya dibesarkan dengan nasihat agar selalu sopan kepada ibu dan ayah. Bagi saya ibu mertua adalah ibu saya di Perancis. Akhirnya Kang Dadang (David) yang menjelaskan secara bijak kepada ibunya, mengapa kami tak pernah memasang hiasan Natal.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.