Arcopodo yang Tersembunyi di Mahameru

Kompas.com - 06/02/2012, 11:14 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh Ahmad Arif dan Indira Permanasari

Dua arca batu itu berdiri berdampingan dalam senyap hutan di ketinggian 3.002 meter di atas permukaan laut. Keduanya menghadap ke utara sehingga pandangan mata setiap orang yang menatapnya akan mengarah ke Mahameru. Inilah Arcopodo, arca pemujaan tertinggi di Pulau Jawa yang pernah dikabarkan hilang.

Arca yang awalnya dianggap sebagai dongeng itu ”ditemukan” mendiang Norman Edwin dan Herman O Lantang dari Mapala Universitas Indonesia pada 1984.

Dua tahun kemudian, Norman kembali mendatangi dua arca itu dan menuliskan temuannya di majalah Swara Alam, ”Arca ini sulit dikenali karena kepala dan separuh badannya hilang.”

Semenjak itu, keberadaan kedua arca itu tak pernah lagi diketahui. Herman, yang mencoba mencari kembali dua arca ini dalam pendakian tahun 1999, gagal menemukan. ”Di jalur menuju tempat arca itu, saya mendapati jurang pasir yang dalam dan sulit diseberangi. Ketika itu saya sampai jatuh ke dalam jurang sehingga saya memutuskan tidak mengunjungi arca itu,” tulis Herman dalam buku Soe Hok-Gie: Sekali Lagi, 2009.

Pos pendakian Arcopodo (2.903 mdpl) sebenarnya masih ada hingga kini dan relatif mudah dicapai dari Pos Kalimati (2.698 mdpl). Namun, Pos Arcopodo yang dikenal sebagai titik pemberhentian sebelum ke puncak Semeru ini hanya berupa dataran seluas sekitar 20 meter persegi, dikelilingi pepohonan dan belasan prasasti untuk menghormati pendaki yang meninggal.

Dulu, prasasti untuk menghormati tokoh pergerakan mahasiswa, Soe Hok-Gie, dan rekannya, Idhan Lubis, juga ditempatkan di sini. Namun, tahun 2002, prasasti dua pendaki yang meninggal di Semeru pada 16 Desember 1969 ini dipindahkan ke puncak.

Para pendaki yang mencari dua arca di Pos Arcopodo pasti akan kecele. Itulah yang menyebabkan banyak orang mengira arca itu hilang atau dipindahkan.

Awalnya, kami juga ragu dengan keberadaan Arcopodo. Namun, Ningot S, anggota Search and Rescue (SAR) Lumajang yang memandu perjalanan, mengisahkan, sekitar tiga tahun lalu dia menemukan dua arca saat mencari pendaki yang hilang. Ningot menyebutkan ciri-cirinya, seperti digambarkan Norman dalam tulisannya. ”Satu arca kepalanya hilang, seperti dipenggal,” kata Ningot.

Jalur tersembunyi

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.