Menyelamatkan Tukik dan Menjaring Wisatawan

Kompas.com - 03/03/2012, 16:52 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

BANDA ACEH, KOMPAS.com - Cuaca sore itu tak terlalu hangat. Sudah dua hari terakhir Banda Aceh dan sekitarnya diwarnai cuaca mendung dan hujan. Namun suasana ini tidak menghalangi aksi dan niat para pekerja lingkungan dan konservasi penyu di kawasan Babah Dua, Lampuuk, Kabupaten Aceh Besar, terutama Rahmat.

Dalam beberapa hari ini, Rahmat nyaris tak pernah meninggalkan Babah Dua, nyaris sama dengan ia tak pernah melepaskan rokok kretek putih dari bibirnya. Pasalnya ia tengah menunggui satu sarang penyu yang diperkirakan akan menetas dua pekan mendatang. "Ini sarang ketiga, ada sekitar 50 telur disini, mudah-mudahan bisa menetas semua, harus dijaga dengan benar, agar penyu-penyu ini bebas dari gangguan termasuk gangguan dari manusia," kata Koordinator Tim Pemantau dan Pengawasan Jaringan Koalisi Advokasi Laut Aceh (Jaring Kuala) ini.

Pengalaman menetaskan telur dan menangkar penyu ini merupakan pengalaman pertama bagi Jaring Kuala. Sejak jadwal penyu bertelur pada Januari 2012, Jaring Kuala membuat tiga sarang dan penangkaran di kawasan wisata Babah Dua, Lampuuk. Pekan lalu, dua sarang sudah menetas dan sebanyak 165 ekor tukik dari dua jenis penyu dilepaskan ke laut, setelah melewati masa penetasan selama 60 hari. Masing-masing jenis penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu lekang (Olive ridley).

"Ini sungguh menggembirakan bagi kami, karena ini pengalaman pertama dan begitu menantang, karena kami harus membuktikan kepada warga sekitar, jika ditangkar penyu-penyu ini akan menetas dan kemudian mereka bisa diselamatkan hidupnya," jelas Rahmat, yang juga warga Lampuuk, Aceh Besar.

Dari 3 sarang yang ditangkarkan, lanjut Rahmat, ada sebanyak 209 butir telur, dan yang telah menetas sebanyak 2 sarang dengan jumlah penetasan sebanyak 165 butir.

Menurut Rahmat, garis pantai Lampuuk memang dijadikan lokasi bertelur para penyu, bahkan termasuk penyu hijau dan penyu belimbing, yang sudah langka. "Sebelumnya, setiap penyu bertelur, ditunggui oleh warga kemudian telurnya dijual atau dikonsumsi, namun berkat penyuluhan yang diberikan para pegiat lingkungan, kini warga mulai menyadari pentingnya menyelamatkan penyu," kata Rahmat.

Ini merupakan upaya penangkaran penyu yang pertama dilakukan di kawasan Lampuuk, Aceh Besar. Antusias warga pun sangat besar untuk melihat telur-telur penyu ini menetas. Yusran Ahmad, selaku Imum Mukim Kemukiman Lampuuk, mengaku upaya penangkaran penyu di kawasan tersebut  merupakan hal positif bagi masyarakat. "Selain untuk memberi pembelajaran bagi masyarakat akan pentingnya kelestarian dan keseimbangan alam khususnya ekosistem laut, upaya penangkaran ini juga bisa memberi keuntungan bagi kawasan Lampuuk sebagai kawasan wisata," ujarnya.

Hampir semua garis pantai di kawasan Aceh Besar menjadi rumah bagi banyak penyu untuk bertelur, khususnya penyu Lekang. Panglima Laot Lampuuk, M. Daud mengatakan sedikitnya ada delapan titik pesisir pantai di Aceh besar selalu didatangi penyu untuk bertelur, diantaranya kawasan Lhok Krueng Raya dan Lhok Lamnga di Kecamatan Mesjid Raya dan kawasan Lhok Lampuuk, dan Lhok Lhoknga di Kecamatan Lhoknga.

"Bahkan untuk kawasan Pasie Lange di Kecamatan Lhoknga, sering disinggahi penyu yang kini sudah menjadi hewan langka, yakni penyu Belimbing, Penyu Hijau dan Penyu Sisik. Kalau sebelum musibah tsunami, penyu yang singgah bisa mencapai 20 ekor, namun saat ini berkisar 2-3 ekor saja," ujar Daud.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Besar, Anwar Ahmad, mengaku sangat bangga melihat adanya penangkaran penyu berbasis masyarakat. "Pemerintah daerah tentu akan mendukung kegiatan ini," katanya.

Bahkan pemerintah daerah akan menjadikan kawasan Lampuuk menjadi ikon ekowisata untuk Kabupaten Aceh Besar. "Jadi warga yang datang selain untuk wisata bahari, mereka juga bisa menikmati pemandangan penangkaran penyu disini," ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menobatkan Lampuuk sebagai ikon kawasan ekowisata di Kabupaten Aceh Besar. Rahmat menambahkan, saat ini mereka masih menunggu penetasan satu sarang lainnya. "Mudah-mudahan ini berhasil menetas semuanya, disana ada 50 telur, diperkirakan ada penyu Belimbing disana," kata Rahmat. Sedangan dari 165 tukik yang dilepas, 15 ekor diantaranya dipelihara di kolam penangkaran hingga tuki-tukik ini dewasa.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X