Ritual Minum Teh ala Sultan

Kompas.com - 07/03/2012, 12:53 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com – Ibarat menu paket lengkap, Ambarrukmo Palace Hotel Yogyakarta menawarkan pengalaman lebih berupa wisata budaya tanpa beranjak dari dalam hotel. Ya, hotel ini beruntung karena berada di satu kawasan dengan sisa-sisa Pesanggrahan Ambarrukmo yang juga sering disebut sebagai Kraton.

Sultan Hamengku Buwono V membangun Pesanggrahan Ambarrukmo dan pada tahun 1895-1897, bangunan ini direnovasi oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Awalnya bangunan tersebut digunakan sebagai tempat menjamu tamu. Tempat ini kemudian menjadi kediaman Sultan Hamengku Buwono VII saat turun takhta.

Area Kebon Raja sampai Gandok Kiwa di masa Sultan Hamengku Buwono VII pun berubah menjadi area Hotel Ambarrukmo pada tahun 1966. Sementara area Balekambang sampai Pendopo tidak beralih fungsi.

Tentu saja, budaya khas Yogyakarta yang dihadirkan untuk para tamu. Pertama-tama, tamu akan dipersilahkan berganti pakaian. Perempuan memakai kebaya, sementara para pria memakai beskap.

Kesulitan dengan cara memakainya? Tenang saja, Anda akan dibantu saat memakai baju-baju tradisional khas Jawa tersebut. Nah, lanjutkan dengan memilih aktivitas yang Anda inginkan. Ingin belajar membatik atau belajar panahan. Silahkan saja.

Belajar membatik mungkin sudah sering, coba saja berlatih Jemparing. Jemparing berarti “memanah” dalam Bahasa Jawa. Olahraga kegemaran para Sultan Hamengku Buwono tersebut ibarat meditasi. Melatih kesabaran dan mengolah napas.

Pemanah tidak berada di posisi berdiri, melainkan duduk bersila dan menyamping. Tradisi Jemparing ini sempat pudar seiring zaman berganti. Namun, komunitas Jalantara di Yogyakarta berupaya menghidupkan kembali tradisi ini termasuk menyelenggarakan lomba Jemparing.

Puas menggerakkan tangan dan bergelut dengan pikiran. Kini, saatnya santai dan menikmati secangkir teh atau kopi hangat di sore hari. Eits, jam minum teh ini pun masih dalam rangkaian wisata budaya ala Ambarrukmo.

Bagian Pendopo dari Kraton disulap sebagai tempat menjamu tamu minum teh. Meja-meja pendek dan tikar pandan digelar. Hiasan bunga diletakkan di atas meja-meja panjang. Para tamu pun dipersilahkan duduk di alas tikar. Inilah yang disebut dengan prosesi Patehan.

Patehan merupakan tradisi minum teh yang biasa dilakukan Sultan Hamengku Buwono di Kraton. Saat itu, kebiasaan minum teh tersebut dilakukan dua kali dalam sehari yaitu pada saat jam dua siang dan jam empat sore. Sebutan “Patehan” diambil dari nama salah satu bangsal di Kraton. Pada masa itu, teh disajikan di bangsal tersebut.

Nah, di masa sekarang, Patehan dilakukan di Pendopo. Para pelayan datang dalam rombongan lalu dengan beriringan membawa segala perkakas. Di belakang, pelayan pria membawa tandu. Tandu tersebut berisi aneka minuman dan hidangan teman minum.

Ini ibarat lima abdi dalem perempuan yang dikepalai oleh seorang bekel yang bertindak menjadi pemimpin dalam prosesi Patehan. Para pelayan menggunakan busana khas berupa atasan kemben dengan paduan jarik sebagai bawahan. Dengan bertelanjang kaki, para pelayan mulai bersimpuh membawa teh dan kopi.

Satu per satu tamu dituangkan teh atau kopi sesuai permintaan. Begitu anggun dan terasa magis. Selanjutnya tak lupa, aneka penganan berupa pisang goreng dan singkong goreng sebagai teman minum teh dan kopi. Pengalaman budaya paket lengkap itu seakan membawa tamu merasakan sekejap menikmati sore ala Sultan Yogyakarta. Bukan sekadar wisata, tetapi merupakan ritual dan tradisi yang harus lestari.

Baca tentang


    Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

    Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

    Makan Makan
    Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

    Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

    Makan Makan
    Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

    Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

    Makan Makan
    Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

    Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

    Makan Makan
    Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

    Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

    Whats Hot
    Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

    Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

    Makan Makan
    Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

    Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

    Makan Makan
    Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

    Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

    Whats Hot
    Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

    Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

    Whats Hot
    Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

    Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

    Jalan Jalan
    Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

    Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

    Jalan Jalan
    Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

    Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

    Whats Hot
    Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

    Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

    Whats Hot
    Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

    Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

    Whats Hot
    Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

    Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

    Jalan Jalan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X