Negeri Kabut

Kompas.com - 25/04/2012, 12:39 WIB
EditorI Made Asdhiana

Perkebunan teh Nirmala
Tak hanya magisnya hutan hujan tropis dataran tinggi yang dapat dinikmati di kawasan tersebut. Seusai bercanda di Sungai Cikidang dan Curug Macan, rute termudah untuk kembali ke kampung Citalahab Sentral adalah menyusuri jalan batu sejauh 2 kilometer. Kita akan tiba di lereng dan puncak punggungan bukit, di tengah-tengah perkebunan teh Nirmala.

Perkebunan seluas sekitar 900 hektar itu dibuat pada masa kolonial Belanda, jauh sebelum TNGHS dikukuhkan pada 1992. Alhasil, keberadaan perkebunan milik pemerintah dan dikelola swasta lewat hak guna usaha itu menjadi enklave dalam kawasan taman nasional.

Karena berjalan di titik yang tinggi atau paling tinggi, wisatawan akan melihat permainya gelombang kebun teh dengan memandang ke bawah, menyusuri lembah di mana tegakan-tegakan pohon teh berbatas dengan hutan. Pada siang hari, para pemetik teh akan menunggu truk-truk pengangkut petikan daun-daun teh. Sebagian pemetik merupakan warga Citalahab Sentral, sebagian lain berasal dari sejumlah kampung di kawasan dalam taman nasional itu, seperti Citalahab Bedeng dan Neglasari.

Jika kaki masih kuat melangkah, wisatawan dapat berjalan ke satu kampung lainnya di dalam kawasan taman nasional, yaitu Legokjeruk. Pengunjung dapat melihat aktivitas warga membuat gula aren dan membeli produksi mereka.

Citalahab Sentral sendiri bukan cuma base camp dan titik berangkat. Desa itu masih memiliki sejumlah kincir mikro hidro pembangkit listrik. Meski listrik dari PLN telah menyentuh kampung sejak tiga tahun lalu, kincir mikro hidro tetap digunakan pada saat darurat. Menurut Ade, kincir itu menjadi atraksi yang menarik bagi rombongan anak sekolah yang berlibur.

”Setiap musim libur sekolah, setiap rumah di kampung pasti penuh dengan tamu wisatawan. Para siswa dari satu sekolah menengah atas di Jakarta juga rutin datang dan menginap setiap tahun,” kata Ade.

Kamar-kamar yang disewakan warga itu sederhana, tetapi bersih. Sebagian berdinding papan dan berlantai kayu. Tempat tidurnya dilengkapi kasur busa dan selimut. Namun, jika tak terbiasa dengan fasilitas sederhana itu, bawalah seprai dan selimut dari rumah yang tentu membuat lebih betah. Kalau tak terbiasa dengan bau kayu papan, sebaiknya wisatawan juga menyiapkan diri dengan penyegar ruangan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X