Kompas.com - 28/05/2012, 07:28 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com - Bagi sebagian masyarakat Indonesia, ulat atau belatung merupakan hal yang menjijikkan, namun di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, ulat bahkan dijadikan lauk untuk konsumsi sehari-hari. Namun, ulat yang satu ini bukanlah belatung biasa tapi ulat yang hidup di pohon sagu yang telah ditebang sebelumnya.

Ulat sagu atau lebih dikenal dengan "dutu" oleh masyarakat setempat. Umumnya para petani di Desa Ajangpulu, Kecamatan Sibule, Kabupaten Bone yang terkenal dengan industri pengolahan sagu ini membiarkan pohon sagu membusuk setelah ditebang kemudian diolah. Pohon sagu inilah yang dijadikan tempat oleh untuk bertelur.

Pohon sagu yang telah ditebang selama tiga minggu sudah cukup menampung dutu. Dutu inilah yang diambil oleh para petani untuk dikonsumsi sebagai lauk pauk. Selain rasanya yang enak, ulat sagu ini juga diyakni oleh para petani sebagai penambah stamina tubuh dalam bekerja sehari hari.

"Rasanya enak tidak seperti apa yang dilihat. Katanya satu ekor dutu ini sebanding dengan dua butir telur ayam kampung," ujar Iwan Hammer, salah seorang warga setempat.

Cara mendapatkannya pun sangatlah mudah yakni hanya bermodalkan kapak untuk membelah pohon sagu. Selanjutnya ulat sagu yang telah dikumpulkan ini kemudin dicuci serta kepalanya dihilangkan. Setelah selesai ulat sagu ini pun dibuat berbagai macam, ada yang digoreng serta ada pula yang dicampur dengan sayur mayur.

Sementara bagi dunia kesehatan, manfaat ulat sagu ini memang telah diteliti sebelumnya, dan hasilnya memang agak mirip dengan mitos masyarakat yang meyakini bahwa ulat sagu ini mampu meningkatkan stamina tubuh. Pasalnya, secara medis ulat sagu yang dalam bahasa latin disebut Rhynchophorus ferruginenus ini memiliki kandungan 9,34 persen kadar protein serta mengandung sejumlah asam amino esensial yakni asam aspartat 1,84 persen, asam glutamat 2,72 persen, terosin 1,87 persen, lisin 1,97 persen serta methionin 1,07 persen.

"Ulat sagu memang memliki banyak kandungan gizi jadi wajar kalau masyarakat meyakini bahwa makan Dutu ini mampu menghilangkan raca capek dan kuat bekerja," ujar Jamaluddin, SKM, M.Kes, ahli gizi yang bertugas di Dinas Kesehatan Kabupaten Bone.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.