Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Siapkah Kaltim Menghelat Sail Derawan 2013?

Kompas.com - 12/07/2012, 03:04 WIB
Editor

Namun, seberapa jauh kesiapan Derawan? Derawan masih harus bekerja keras untuk mengatasi banyak kendala. Masalah terentang mulai dari urusan transportasi, akomodasi, sampah, listrik, air bersih, jaringan telekomunikasi, hingga pengelolaan wisata.

Sampah aneka macam terhampar di perairan Derawan, dan daratannya. Zulfikar, Camat Derawan, mengatakan, untuk mengurai masalah ini, tiap minggu ia memimpin acara bersih pantai. Pulau Kakaban juga tak luput dari sampah sehingga ”mereduksi” keindahan danau yang hanya berjarak puluhan meter. ”Sampah-sampah ini sebagian dari warga, sebagian dari wisatawan,” ucap Zulfikar.

Seperti kendala transportasi yang dihadapi daerah lain di Kaltim, Derawan juga demikian. Wisata ke Derawan adalah wisata yang cukup mahal. Berangkat dari Kota Balikpapan, misalnya, harus menyiapkan setidaknya Rp 2,5 juta per orang untuk berwisata 3 hari dua malam.

Dari Balikpapan, mesti menggunakan pesawat menuju Bandara Kalimarau, Berau, yang disambung dengan perjalanan darat sekitar 2-3 jam menuju Tanjung Batu. Setelah itu menggunakan speedboat menuju Derawan. Untuk melanjutkan perjalanan ke Sangalaki, Kakaban, maupun Maratua, menggunakan speedboat lagi.

Kendala listrik juga menerpa sehingga genset jadi tumpuan. Belum lagi soal telekomunikasi. Sinyal memang tersedia, tetapi hanya terlayani satu operator. Itu pun hanya sinyal untuk menelepon dan berkirim SMS. Berharap bisa berinternet? Anda akan kecewa.

Pengelolaan wisata juga belum siap. Belum ada petugas yang berjaga dan mengarahkan wisatawan. Karcis retribusi pun tak terlihat sehingga menguatkan kesan pengelolaan ”ala kadarnya”.

Namun, Derawan bukannya tak bersiap. Selain perluasan Bandara Kalimaru di Tanjung Redeb, Pulau Maratua segera memiliki bandara kecil yang bisa didarati pesawat baling-baling. Mereka punya pengalaman ketika Derawan menjadi tempat Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2008.

Sekarang, penginapanmakin banyak. Di Pulau Derawan saja, saat ini terdapat tiga cottage dan 108 penginapan di rumah warga (homestay). Amin, penjual es kelapa muda yang juga pemilik penginapan Alfiani di Derawan, sudah bersiap. Ia baru saja membeli dua penyejuk ruangan.

Ia sudah berancang-ancang mematok harga Rp 250.000 per hari per kamar. Namun, daya listrik di rumahnya jelas tidak kuat. ”Itulah kendalanya,” jawab Amin sembari tertawa. (PRA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+