Wader di Tepian Gajah Mungkur

Kompas.com - 02/08/2012, 07:50 WIB
EditorI Made Asdhiana

Meski ada setumpuk menu lain tersedia, wader goreng tetaplah sang primadona. Dwi, juru masak di Sari Raras, mengatakan, hampir semua tamu yang datang pasti memesan wader. Sebagian besar tamu adalah para pelancong yang hilir mudik di sekitar Wonogiri. Setiap hari, dua warung Sari Raras yang letaknya berdekatan memproduksi wader goreng sekitar 100 kilogram, mujair dan udang goreng masing-masing 50 kilogram.

Slamet Sulardi, pemilik Sari Raras, menambahkan, hampir semua ikan yang mereka olah bersumber dari Gajah Mungkur. ”Kalau hasil tangkapan wader dari Gajah Mungkur berkurang, sementara permintaan sedang tinggi, barulah saya mencari pasokan wader ke Semarang,” katanya.

Biasanya, lanjut Slamet, permintaan wader meningkat tajam saat libur Lebaran. Sebanyak 1,5 ton wader goreng ludes dibeli pelanggan kurang dari satu minggu. ”Orang sudah memesan jauh-jauh hari untuk dibawa sebagai oleh-oleh dari Wonogiri,” ujar Slamet bangga.

Berkah Gajah Mungkur

Slamet mulai membuka warung makan pertengahan 1990-an. Sebelumnya, dia berbisnis travel yang melayani jalur Wonogiri-Salatiga. Suatu ketika dia mengalami kecelakaan yang membuatnya luka parah. Untuk membiayai perawatannya di rumah sakit, Slamet harus menjual nyaris semua hartanya, termasuk rumah tinggal dan tanah. ”Pokoknya saya benar-benar bangkrut,” ujar Slamet.

Setelah kondisinya pulih, Slamet dan istrinya, Suyatmi (50), membuka warung tenda sekadar untuk melanjutkan hidup. Menu yang mereka sediakan antara lain nasi, wader goreng, dan masakan sederhana lainnya. Warung tersebut sedikit demi sedikit berkembang. Warung tenda itu pun berubah menjadi warung semipermanen. ”Saya dibantu teman-teman sesama pebinis travel. Mereka sering membawa tamu untuk makan wader goreng di warung saya,” ujarnya.

Setelah pelanggan kian banyak, Slamet pun mendirikan dua warung Sari Raras dalam ukuran lebih besar. Yang satu bisa menampung 200 tamu sekaligus dalam satu bersamaan, satunya lagi bisa menampung sekitar 50 tamu. Kedua warung itu kini dikelola 13 karyawan.

Dari bisnis wader goreng, Slamet merambah ke bisnis lain, seperti pengolahan tepung ikan untuk pakan ternak, toko sandang-pangan, dan toko material. ”Ini semua berkah wader dari Waduk Gajah Mungkur,” ujarnya.

Berkah Gajah Mungkur itu tidak hanya dinikmati pemilik warung makan seperti Slamet, tetapi juga karyawan warung dan para penangkap wader.

Sepanjang air Waduk Gajah Mungkur belum surut, berkah wader akan mengalir meski kemarau yang kerontang telah datang.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X