Benteng Lohayong, Cikal Bakal Misi Portugis di Flores

Kompas.com - 22/10/2012, 20:37 WIB
EditorI Made Asdhiana

Tidak banyak literatur yang menjelaskan kehadiran benteng tersebut, termasuk tahun pembangunan, dimulai oleh siapa, serta dari mana Portugis mendapatkan pasir dan semen.

Antropolog Jerman, Paul Arndt (1886-1962), antara lain, menyebutkan benteng itu didirikan 1555-1603 dibawa kekuasaan raja Portugis Henricus XVII sehingga disebut juga ”Port Henricus”. Di dalam benteng terdapat sebuah katakombe dengan satu unit kamar yang belum bisa dibuka sampai hari ini.

Misi Katolik di Flores dan Timor dimulai dari Solor sehingga dalam literatur tua gereja Katolik disebutkan ”Misi Solor”. Sebutan ini diperkuat dengan sejumlah peta tua tentang pulau-pulau di ujung timur Flores, disebut Kepulauan Solor dan Selat Solor. Padahal, Solor jauh lebih kecil (tiga kecamatan) dibandingkan dengan Pulau Adonara (tujuh kecamatan) dan Pulau Lembata (14 kecamatan).

Meninggalkan benteng

Sekretaris Daerah Flores Timur Anton Matutina mengatakan, sekitar tahun 1600, Portugis meninggalkan benteng itu karena terus mendapat serangan dari penduduk lokal, yang masih primitif. Portugis kemudian bergeser ke Larantuka dan sebagian melanjutkan perjalanan ke Sikka.

Mengenai penduduk yang sedang berdiam di Lohayong saat ini, ia mengatakan, mereka itu datang kemudian dengan status sebagai nelayan. Mereka memanfaatkan sebuah dermaga yang dibangun Portugis dan masih layak dipakai sampai 1800-an.

Kepala Desa Lohayong II Thahir Kasim mengatakan, benteng itu berukuran 52 x 36 meter. Didirikan bangsa Portugis sekitar 1557 bertujuan melindungi diri dari serangan penduduk lokal yang telah menganut agama Islam.

”Kalau Belanda mengusir Portugis tentu penduduk di Lohayong ini beragama Protestan, tetapi faktanya menganut agama Islam. Siapa yang mengusir Portugis dari Lohayong, kita akan diskusi bersama ahli sejarah dan sejumlah tokoh Katolik tentang hal ini untuk mencari kebenaran sejarah,” kata Thahir.

Peziarah ”Semana Santa”

Sekretaris Desa Lohayong II Abdullah Imran menuturkan, setiap tahun, sekitar 500 orang mengunjungi benteng itu. Mereka kebanyakan peziarah ”Semana Santa”, Jumat Agung di Larantuka, dan para turis mancanegara.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X