Jangan ke Ranah Minang kalau Tak Mampir ke Maninjau - Kompas.com

Jangan ke Ranah Minang kalau Tak Mampir ke Maninjau

Kompas.com - 04/11/2012, 10:02 WIB

BELUM ke Padang jika belum ke Bukittinggi, begitulah istilah bagi para pelancong yang berkunjung ke Ranah Minang, hingga membuat kota nan sejuk dengan ikon Jam Gadang itu sangat ramai oleh wisatawan. Tetapi bila Anda sudah bosan dengan keramaian di sana atau Anda ingin mencari tempat untuk mencari ilham, pergilah sekitar 36 kilometer ke arah barat dari Bukittinggi, setelah melewati Kelok Ampek Puluh Ampek, yaitu jalan terjal menurun dengan tikungan tajam sebanyak 44 kali Anda akan sampai di tepian Danau Maninjau yang indah.

Danau yang berada di sebuah kecamatan yang tenang, damai dan masih bernuansa pedesaan. Bukit-bukit menghiasai dinding alam Maninjau, hamparan sawah dengan pohon-pohon kelapa menari-nari di tepi danau. Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno saat berkunjung ke sana pun terpesona dengan keindahan danau vulkanik itu, dan mengungkapkannya dalam sebait pantun,  “Jika makan pinang, makanlah sirih hijau. Jangan ke Ranah Minang, kalau tak mampir ke Maninjau."

Berlokasi di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam,  Sumatera Barat, keberadaan Danau Maninjau dikaitkan dengan legenda masyarakat di sana yang sangat moralis, yaitu “Bujang Sembilan”.

Menurut cerita, konon dahulu kala di sana ada sembilan anak bujang. Salah seorang dari mereka dituduh melakukan perbuatan amoral, tetapi dia bersumpah tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan tersebut.

Untuk membuktikan kalau tidak bersalah masuklah ia ke dalam kawah Gunung Sitinjau seraya mengatakan, bila ia tidak bersalah maka akan meletuslah gunung ini. Masih menurut cerita tersebut kemudian benar terjadi letusan dahsyat, dan akibat letusan tersebut terciptalah Danau Maninjau.

Menikmati Maninjau

Di sana tidak perlu khawatir tentang akomodasi, banyak rumah penduduk di tepi danau yang disewakan dengan tarif yang sangat terjangkau, di samping ada beberapa penginapan dan hotel yang tidak terlalu banyak dikunjungi tamu. Kalau malas jalan kaki mengelilingi danau juga tersedia penyewaan sepeda motor atau Anda dapat dengan mudah mencari mobil untuk disewa.

Danau yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut itu sangat nyaman dan hening, tempat yang sangat cocok bagi orang yang ingin menghilangkan rasa penat atau melarikan diri dari kesibukan kota. Tidak terdengar suara hiruk pikuk orang, hanya suara desiran angin dan air danau yang beriringan lamban menepi.

Waktu yang tepat menikmati keindahan danau seluas 99,5 kilometer persegi itu adalah saat pagi hari atau menjelang senja. Anda bisa membaca buku di tepi danau atau hanya sekadar melamun melanglang jauh sambil menikmati panorama danau ditemani secangkir teh manis atau kopi, maka Anda akan betah berlama-lama duduk di sana.

Berjalan- jalan di sekitar danau yang memiliki kedalaman maksimum sampai 495 meter dan bertemu dengan penduduk sekitar juga menarik, kita akan langsung dapat menilai masyarakat di sana. Berbeda dengan masyarakat di Jawa pada umumya,  karakter mereka lebih egaliter, tidak berlebihan menghargai pendatang atau tamu, walau orang desa, tampak mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tetapi bila sudah akrab justru mereka lebih banyak cerita.

Sebagaimana orang dari suku Minang yang kita kenal, dalam diri mereka juga kental sekali jiwa perantau. Hampir setiap orang dewasa yang saya jumpai di sana pernah merantau atau paling tidak ada saudara dekat mereka yang pergi merantau.

Tanah kelahiran Hamka

Barangkali tidaklah berlebihan danau yang merupakan sumber air untuk Sungai Batang Sri Antokan itu bisa memberi inspirasi positif. Tiga pahlawan nasional berasal dari kecamatan yang seluas 150 kilometer persegi ini. Salah satunya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan Buya Hamka.

Seorang tokoh politik, ulama terpandang dan sastrawan. Di sana Anda masih bisa mengunjungi rumah tempat kelahiran dan masa kecil beliau di Kampung Sirah, Sungai Batang, Maninjau yang kini telah berubah menjadi Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Berdiri tepat menghadap ke Danau Maninjau dan berada di ketinggian sekitar 5 meter di pinggir jalan. Dari pekarangan depan bangunan bercorak rumah adat itu tergambar jelas bentangan Danau Maninjau, tanpa ada penghalang apa pun. Museum itu berisi koleksi-koleksi sederhana peninggalan Hamka,seperti, buku-buku karyanya, tanda-tanda penghargaan, lukisan dan foto-foto aktivitas beliau sejak masih anak-anak sampai saat pemakamannya.

Ada juga tempat tidur dimana mantan Ketua MUI  itu dilahirkan, kursi-kursi tua, koper kalau ia pergi merantau dan tongkat melengkapi koleksi. Walaupun sejak masih muda beliau sudah merantau, penulis novel "Di Bawah Lindungan Ka’bah" itu sangat cinta dengan kampung halamannya yang indah dan damai serta keinginannya untuk pulang.

Kecintaannya itu dituangkan juga dalam sebuah puisi:

Kota Melaka tinggallah sayang
Beta nak balik ke Pulau Perca
Walau terpisah engkau sekarang
Lambat laun kembali pula
Walau luas watan terbentang
Danau Maninjau terkenang jua


(Eristo Subandono)


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X