Kompas.com - 07/11/2012, 20:36 WIB
EditorHesti Pratiwi

KOMPAS.com -  Begitu banyak ragam desain batik yang ada di Indonesia, salah satunya batik Belanda. Batik ini merupakan asimilasi dari dua kebudayaan, Belanda dan Indonesia.

“Awalnya, jaman sebelum Indonesia merdeka orang Belanda yang tinggal di Indonesia mulai beradaptasi dengan busana Indonesia. Sebab pakaian tersebut lebih nyaman dikenakan dan sangat sesuai dengan kondisi cuaca. Akan tetapi mereka mulai mengkreasikan dengan selera Belanda sendiri. Motifnya tidak sama dengan motif batik tradisional Indonesia,”ujar Ton Van Zeeland, dari Pusat Kebudayaan Belanda Eramus Huis, dalam jumpa pers Jakarta Fashion Week (JFW) 2013, Plaza Senayan (7/11/2012)

Batik Belanda sendiri sebenarnya sangat akrab dengan kita. Batik yang kita kenal sebagai Batik Buketan bermotif bunga sejarahnya merupakan asimilasi antar batik dan selera noni Belanda. Kata Buketan sendiri berasal dari bouquet yang berarti bunga.

Motif batik bunga dengan warna cerah inilah yang disebut dengan Batik Belanda. Keinginan untuk mengenalkan peninggalan sejarah tersebut, Erasmus Huis mengajak 3 desainer muda Indonesia untuk menggeluarkan koleksi  Batik Belanda dengan sentuhan modern.

3 desainer lulusan Lomba Perancang Mode (LPM)  tahun 2011 itu adalah Iwan Ami, Sischaet Detta dan Lulu Lutfi Labibi menampilkan karya mereka lewat peragaan busana  The Revival of Batik Belanda yang digelar siang ini di atrium Plaza Senayan.

Masing-masing desainer menampilkan karya yang sangat berbeda hasil dari intrepretasi motif Batik Belanda dalam rancangannya. Iwan Amir menampilkan koleksi dengan warna-warna pastel seperti kuning, hijau, merah, jingga dan biru. 12 koleksi Afternoon'I menjadi pembuka pentas Eramus Huis di JFW siang tadi. Gaun, blus, celana, jumper, dengan motif floral menjadi sebuah karya manis yang tampil hangat serta berenergi.

Sischaet Detta, desainer kedua yang digandeng Eramus Huis juga menampilkan 12 koleksi ultraglam dengan aksen logam yang kuat. “Rancangan saya terinspirasi oleh zaman perang VOC. Dengan perpaduan 60 persen batik dan 40 persen bahan lain seperti kulit, saya ingin menampilkan kesan lembut sekaligus keras dalam satu rancangan,” ujar Sischaet Deta.  Berbeda dengan dua desainer lainnya, Sischaet mengambil motif becak bukan floral seperti desainer lainnya. Gold, unsur logam yang menjadi satu dalam rancangan busana glamor yang menampilkan kesan berani, tangguh tapi disajikan manis serta  lewat koleksi busana perempuan.

Show  terakhir yang tampil adalah hasil kreasi Lulu Lutfi Labibi yang menampilkan  24 koleksinya. Lulu yang juga pembatik, mendesain sendiri motif Batik Belanda dalam kainnya. Batik Belanda tampil mewah dengan background hitam. Motif yang dibuatnya pun beragam mulai dari floral hingga motif burung yang cantik. Yang menarik,lurik yang secara tradisional merupakan busana laki-laki di tangan Lulu menjadi busana trendy yang dapat dikenakan oleh perempuan. “Saya menggabungkan Batik Belanda dengan lurik, kain tenun ATBM agar lebih fashionable dan bisa diterima oleh kaum urban,” pungkasnya.

(Foto: KOMPAS.com/ GUNTUR PANJI RELAWAN)

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.