Kompas.com - 24/11/2012, 07:46 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh Frans Sartono & Jean Rizal Layuck

”Ohayoo gozaimasu.... Seramat pagi...,” kata seorang tamu Jepang kepada penjual nasi kuning di Manado. Dan, sejak itu penjual nasi kuning itu menamai warungnya dengan Rumah Makan Nasi Kuning Selamat Pagi. 

Itulah riwayat singkat Rumah Makan Nasi Kuning Selamat Pagi, spesialis penyaji nasi kuning di Jalan Lawangirung, Manado. Oleh orang Manado, kawasan jalan tersebut lebih dikenal sebagai Kampung Kodo. Cerita di atas dituturkan Ramlah (45), generasi ketiga dari pemilik usaha nasi kuning Selamat Pagi.

Selamat Pagi termasuk penjual nasi kuning tertua di Manado, yaitu sejak zaman Jepang. Usaha itu dulu dirintis Ahmad Sanusi di Pasar 45. Kemudian, dilanjutkan oleh anaknya, Jaber Hamadi, dan istrinya, Nurain, yang sejak tahun 1974 berjualan di Kampung Kodo.

Sejak zaman Jepang hingga hari ini, Selamat Pagi hanya menghidangkan menu nasi kuning. Warung ini tidak melayani menu lain sekadar untuk memenuhi selera orang. ”Kami tidak menjual (menu) yang lain. Sudah khasnya memang begini saja,” kata Ramlah. Dengan kesetiaan pada satu menu itulah, mereka konsisten menjaga rasa. Dan ihwal rasa itulah yang membuat nasi kuningnya bertahan hampir sama tuanya dengan usia republik ini.

Beras lokal

Nasi kuning Selamat Pagi sepintas mungkin tidak jauh berbeda dengan nasi kuning lain di Kota Manado. Misalnya, dalam hal bumbu dasar berupa santan dan kunyit. Akan tetapi, ada yang berbeda yang menjadikan orang untuk datang kembali ke Selamat Pagi. Mereka menjaga rasa dengan pemilihan bahan beras yang tidak asal ada. Mereka menggunakan beras Superwin, padi lokal yang dibudidayakan petani di Manado yang harum dan gurih. ”Berasnya panjang-panjang, tidak mudah patah dan tidak cepat basi,” kata Ramlah.

Rasa gurih nasi semakin gurih dengan penambahan santan. Untuk setiap 15 kilogram beras, Selamat Pagi menggunakan lima butir kelapa. Kegurihan rasa itu mendapat kawan yang pas berupa penggunaan kunyit. Selain memberi warna kuning, kunyit menjadi semacam peredam rasa gurih sehingga tidak menjadikan rasa yang terlalu gurih yang mungkin bisa membuat perut enek.

Nona (46) yang sudah 12 tahun menjadi juru masak Selamat Pagi menjelaskan cara memasak nasi kuning. Santan dan ulekan kunyit dimasak matang, kemudian dicampurkan pada beras saat diaron atau dimasak setengah matang. Beras aron kemudian dikukus hingga matang menggunakan api kecil. Dalam sehari, mereka menggunakan 45 kilogram beras.

Abon tuna dan daun lontar

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.