Kompas.com - 09/01/2013, 08:36 WIB
EditorI Made Asdhiana

Sore itu, segerombolan anak sedang asyik bermain di dalam air. Mereka bergantian menaiki tangga dari bambu yang dipancang di dasar sungai dan sejurus kemudian, byuuurr..., meloncat ke dalam air yang coklat. Ian tertawa-tawa melihat aksi mereka dan teringat ulahnya saat kecil dulu. ”Loncat... ayo loncat lagi,” teriaknya dari atas kapal.

Bocah-bocah yang berkilat basah itu balas berteriak menyapa Ian. Bergeser sedikit, ada sekelompok ibu sedang mandi atau mencuci pakaian dengan berbalut kain. Mereka tersipu malu, tetapi masih sempat melambai-lambaikan tangan melihat Ian.

Perahu kayu terus melaju dan menyeret perahu membelah sungai. Dari jendela-jendela rumah yang terbuka lebar menghadap ke sungai terlihat aktivitas warga. Ada yang sedang duduk bengong menatap aliran air, bercengkerama dengan keluarga di teras, dan khusyuk shalat. Di rumah yang bagian belakangnya kamar mandi, seorang penghuninya asyik menyabuni diri dengan separuh tubuh tertutup bilik. Pria itu menghentikan acara mandinya dan berbalik asyik mengamati para pelancong di atas perahu. ”Ini pemandangan biasa di sini,” ujar Ian tersenyum geli.

Sisa peradaban

Perahu kayu kemudian melewati sebuah rumah lanting yang terselip di antara rimba bangunan semipermanen di tepian sungai. Rumah rakyat beratap sirap dan berdinding papan itu dibangun di atas rakit bambu sehingga bergoyang mengikuti alunan ombak sungai. Rumah lanting yang kian langka menjadi salah satu bentuk budaya lama sungai yang tersisa.

Pada era 1980-an masih tampak berderet rumah lanting di Sungai Martapura yang membelah Banjarmasin. Namun, seiring waktu, sebagian menjadi rumah permanen.

Dahulu, radius 100 meter dari tebing sungai juga dinyatakan sebagai jalur hijau yang terlarang untuk bangunan. Tanaman bakau dan mahoni dibiarkan hidup. Bangunan kuno pun tak boleh dirobohkan. Kebijakan itu mengikuti rancangan insinyur Thomas Karsten, warga negara Belanda, saat menjabat Ketua Dewan Kota Banjarmasin pada 1913. Namun, itu dulu....

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perahu terus bergerak melewati pelaku-pelaku lain sungai, ada yang tengah membersihkan rumput-rumput tebasannya, mengangkut bambu berjalan di air dengan gelondongan bambu di sampingnya, dan atlet lomba dayung yang tengah mengendalikan jukung merahnya. Kebetulan sedang berlangsung lomba dayung di sungai itu.

Mendekati pusat pemerintahan Banjarmasin, pemandangan tepian berubah menjadi tembok-tembok semen yang mengurung air. Bangunan lebih teratur dan bersih mendominasi pandangan. Jalan-jalan aspal mulai dipadati sepeda motor dan kendaraan roda empat. Mirip dengan kota-kota lain di Indonesia.

Perahu kayu perlahan menepi di dermaga yang menjadi pintu masuk ke sebuah jalan utama kota. Suara bising mesin perahu menghilang. Begitu turun dari sungai, Ian dan kelompoknya, seperti kini kebanyakan warga Banjarmasin, mengendarai kendaraan bermotor menuju tempat show-nya malam itu, meninggalkan romantisme sungai.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.