Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kamakura, Kota Tua Berhiaskan Kuil

Kompas.com - 16/01/2013, 08:28 WIB

Oleh Defri Werdiono

Menyusuri Kamakura dan merasakan sisi spiritualitas ”Negeri Sakura”. Itulah sensasi Kamakura, salah satu kota di Prefektur Kanagawa yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan darat dari Tokyo. Rintik gerimis menyambut bus yang kami tumpangi dari Tokyo. Bus hanya mampu berjalan pelan saat melintasi jalanan sempit berliku dengan kontur tanah sedikit naik turun. Sesekali bus harus mengurangi laju dan berhenti karena berpapasan dengan kendaraan lain.

Memasuki Kamakura, suasananya cukup kontras dengan Tokyo yang penuh gedung bertingkat. Berjarak 50 kilometer dari Tokyo, alam di Kamakura yang berada di antara perbukitan dan hutan tampak masih asri. Suasana pinggirannya juga lebih terasa seperti kota kecil, sunyi, dan damai. Padahal, kota ini dulu pernah menjadi ibu kota pemerintahan Jepang pada 7-9 abad silam.

Sebagian besar rumah penduduk di Kamakura berukuran kecil dengan halaman sempit, bahkan ada yang hampir tak memiliki halaman. Model rumahnya pun telah modern, hanya beberapa yang tampak bernuansa kuno dengan bentuk atap tradisional Jepang.

Sepanjang mata memandang hampir semua pintu tertutup dan minim aktivitas. Hanya satu-dua orang tampak berjalan kaki di trotoar yang lengang. Beberapa orang lainnya baru keluar dari toko swalayan kecil. Di sini masih banyak warga yang memiliki kendaraan roda dua keluaran tahun 1980-an dalam kondisi terawat baik.

Pemilik mobil memarkir mobil di halaman ataupun di tempat parkir umum berbayar yang beroperasi 24 jam. Tempat parkir yang berlokasi di beberapa tempat ini rupanya sengaja dibangun untuk menyiasati sempit dan mahalnya lahan di daerah itu.

Suasana mulai ramai saat memasuki tengah kota. Hilir mudik kendaraan dan orang-orang yang beraktivitas dalam kelompok-kelompok kecil makin terlihat. Dari kejauhan bisa ditebak bahwa mereka bukan warga setempat. Ini bisa diamati dari perangai mereka yang menunjukkan mimik kagum melihat kondisi sekeliling.

Kamakura memang daerah yang menarik bagi wisatawan. Tak hanya wisatawan mancanegara, tetapi juga wisatawan domestik dari Jepang sendiri. Mereka datang untuk menikmati suasana dan harta Kamakura berupa kuil. Di sini terdapat puluhan kuil Buddha dan Shinto.

Menghadap Samudra Pasifik

Salah satu kuil Buddha yang terkenal adalah Hasedera. Kuil ini berada di bukit dan menghadap ke Samudra Pasifik.

Memasuki Kuil Hasedera, pengunjung disambut taman dan kolam berisi ikan koi berukuran cukup besar. Gemericik air yang dialirkan melalui bambu-bambu menjadikan suasana taman terasa segar dan membuat orang ingin berlamalama menikmatinya. Keindahan taman membuat orang melupakan suhu udara berkisar 11 derajat celsius.

Menurut legenda, pada tahun 721 setelah Masehi, biksu Takado Shonin menemukan sebuah pohon kamper besar di hutan dekat Desa Hase, di hutan daerah Nara. Saking besarnya batang pohon itu dan dirasa materialnya mencukupi, akhirnya batang kayu itu dipahat menjadi dua patung Kanon berkepala 11. Satu patung ditempatkan di Kuil Hasedera dan satu lagi dilemparkan ke laut dengan diiringi doa agar bisa muncul lagi sebagai penyelamat manusia.

Dan benar, pada tahun 736 patung yang tadinya dilemparkan ke laut itu terdampar di Pantai Nagai yang lokasinya tak jauh dari Kamakura. Patung itu kemudian diboyong ke Kamakura dan Kuil Hasedera pun dibangun lagi.

Seorang petugas di kuil mengatakan, kunjungan wisatawan biasanya akan meningkat drastis menjelang Tahun Baru. Selain melihat-lihat, di tempat ini wisatawan juga bisa membeli suvenir dengan harga bervariasi, mulai dari 500 yen. Di sudut halaman terdapat teropong yang bisa dipakai untuk melihat kondisi pantai. Untuk menggunakan teropong, kita harus memasukkan koin 100 yen.

Seusai menikmati suasana Kuil Hasedera wisatawan bisa melanjutkan perjalanan dengan melihat Kuil Kotokuin yang terkenal dengan Buddha Agung (Amita-Buddha Daibutsu atau Great Buddha) yang dibangun pada tahun 1252. Kuil ini lokasinya tidak terlalu jauh dari Hasedera. Di tempat ini wisatawan bisa melihat patung Buddha dari perunggu setinggi 13,35 meter yang tengah duduk bersila dengan tangan meditasi.

Mayumi Saito, salah seorang pemandu wisata, menuturkan, patung Buddha Agung pernah rusak beberapa kali oleh bencana alam, termasuk tsunami besar yang terjadi pada abad ke-15. Patung Buddha tersebut dulu berada di dalam kuil. Namun, karena kuil rusak, hingga kini dibiarkan berada di tempat terbuka.

”Di Jepang terdapat banyak sekali kuil. Namun, yang terkenal, unik, dan banyak dikunjungi wisatawan adalah kuil-kuil yang berada di Kamakura,” ujar Mayumi di sela-sela kunjungan bersama Fuji Xerox-Astra Graphia itu.

Buddha telah menjadi spirit bagi sebagian besar masyarakat Jepang. Masyarakat berusaha meneladani sifat-sifat Sang Buddha. Salah satu upaya itu diwujudkan dengan berbuat baik kepada sesama.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com