Jasa Lingkungan di Jantung Kalimantan - Kompas.com

Jasa Lingkungan di Jantung Kalimantan

Kompas.com - 25/01/2013, 17:26 WIB

KOMPAS.com - Emilia Talibae menata untaian benang-benang berwarna merah menyala. Bentangan benang yang masih lembap itu hendak dijemurnya kembali agar kering. Pada ruas-ruas tertentu benang-benang itu dipilin tali rafia yang membentuk pola etnik Dayak Iban.

Teknik pewarnaan ini persis seperti tenun ikat. Setelah tertata, bagian-bagian yang diikat erat tali rafia itu mulai menampakkan pola yang akan dirangkai Emilia dalam helaian tenun ikat. “Ini sudah dua minggu,” tutur Emilia, menjelaskan lama proses pewarnaan itu.

Bahan pewarna berasal dari bahan alami yang diambil dari dedaunan. Warna hitam misalnya, diperoleh dari daun renggat yang direbus bersama kapur sirih. “Remas saja, nanti akan berwarna hitam,” papar Emilia, yang memberi selembar daun renggat dan kapur sirih.

Setelah beberapa remasan, jari-jari tangan bakal berwarna hitam. Untuk warna merah, “Daun kenbai dicampur dengan kapur sirih,” lanjutnya.

Pembuatan kain ikat perlu waktu lumayan lama karena Emilia dan perempuan Dayak Iban menenun pada saat senggang. “Perlu ketabahan,” ujarnya.

Di rumah betang Dusun Sadap, Manua Sadap, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Emilia bersama kaum perempuan membentuk kelompok tenun ikat Dara Lawa, yang berarti gadis cantik. Bersama kelompok itu, Emilia membina dan mendidik perempuan muda untuk bisa menenun ikat. “Kita tak bisa sendirian membuat tenun ikat. Untuk meneruskan ketrampilan menenun, kita mendidik anak-anak muda.”

Pusat aktivitas Dayak Iban berada di rumah betang alias rumah panjang. Hanya saja, rumah betang—begitu sebutannya di komunitas Dayak Iban—itu telah direnovasi dengan sentuhan bangunan modern. Sebagian dindingnya telah berganti dengan batubata, beratap genteng, dan bercat hijau muda. Pada awalnya rumah adat ini bertiang kayu bulat, berdinding bambu, kulit kayu, dan papan; beratap sirap; serta berlantai bambu betung.

Di depan rumah betang, terdapat beberapa lumbung untuk menyimpan padi hasil dari ladang-ladang warga. Dan di belakang lumbung itu, mengalir tenang sungai Embaloh, yang berair hijau. Ringkasnya, rumah betang Sadap menghadap sungai selebar sekitar dua puluh meter ini.

Sadap telah ditabalkan menjadi dusun wisata yang menawarkan kehidupan Dayak Iban beserta keberlimpahan alam tropis pedalaman Kalimantan. Dusun ini sekaligus menjadi pintu masuk bagi Taman Nasional Betung Kerihun.

Di rumah betang yang terdiri 16 bilik, dihuni 47 keluarga, para pelancong yang datang bisa menginap. “Wisatawan bisa memilih sendiri akan tidur di bilik yang mana. Tidur bersama keluarga Dayak Iban,” terang Yustinus Empaga, Kepala Dusun Sadap. “Semalam Rp 60 ribu.” Para pelancong datang dari dalam dan luar negeri. Yang terakhir bertandang ke Sadap adalah wisatawan dari Prancis. “Ada juga wisatawan yang datang bersama dinas-dinas kabupaten,” lanjut Empaga.

Dari Sadap, pelancong bisa menjelajahi hutan di seberang sungai Embaloh. Kawasan yang disebut sebagai Mungguk Karak ini menyajikan bermacam hidupan liar Kalimantan. “Jika beruntung bisa bertemu orangutan atau burung enggang,” kata Empaga. Selepas menyusuri hutan, pelancong bisa melakukan jelajah Sungai Sadap, dan berjumpa kembali dengan Sungai Embaloh.

Para pecinta alam liar bisa menembus taman nasional yang bergelimang keindahan alam tropis. Warga Sadap telah menyediakan perahu cepat dan tenaga bantu untuk mengiringi para wisatawan. Tujuan petualangan ini adalah Tekelan, yang berada di kawasan taman nasional. Menumpang kapal cepat, pelancong akan mencapai Tekelan selama empat jam pengarungan sungai.

Sepanjang Sungai Embaloh ibarat etalase panorama hutan tropis Kalimantan. Pepohonan teduh menghiasi sisi kiri dan kanan, yang ditembus semburat cahaya matahari. “Tak jarang ada rombongan turis luar negeri yang belajar dan meneliti burung-burung di Taman Nasional,” lanjut Empaga. “Mereka menangkap burung dengan jaring, lalu dilepas kembali setelah kakinya diberi cincin.”

Jasa lingkungan hutan tropis di Jantung Borneo ini memberi masyarakat Sadap berlimpah manfaat. Selain sebagai daya tarik ekowisata, Sungai Embaloh juga digunakan untuk menghasilkan listrik mikrohidro.

Turbin buatan Jerman itu merupakan teknologi mutakhir listrik skala kecil. Berbeda dengan umumnya tenaga mikrohidro, mesin pembangkit listrik di Sadap dipasang mengapung di dalam air. Kincir dan dinamo tenggelam di kedalaman sungai, yang diikatkan pada jangkar di dasar sungai.

Sayangnya, saat banjir besar beberapa waktu lalu, kayu gelondongan menghantam mesin pembangkit. Buat sementara waktu, warga Sadap menunda untuk menikmati listrik. Dua unit turbin yang masih baru tinggal menunggu dipasang dengan sejumlah modifikasi untuk menghindari hantaman kayu-kayu yang terbawa arus.

Infrastruktur untuk mengalirkan listrik sudah siap sepenuhnya. Jaringan kabel listrik ditanam di dalam tanah, menjalar ke bilik-bilik rumah betang dan bangunan lainnya. “Jadi tidak ada tiang listrik,” tutur Silvester Jua, ketua Komite Pembangkit Listrik Mikrohidro Telijan Embawang.

Komite inilah yang akan mengelola mikrohidro, mulai dari perawatan, pemeriksaan sampai pemeliharaan rumah panel listrik. Jua menuturkan setiap keluarga mendapatkan jatah 400 watt atau setara empat bola lampu. “Iuran setiap keluarga sebesar Rp 30 ribu. Ada juga instalasi untuk kepentingan publik, sebesar 800 watt.” Instalasi publik ini akan digunakan untuk berbagai keperluan listrik masyarakat Sadap di rumah betang.

Ismet Khaeruddin dari GIZ FORCLIME (Forests and Climate Change Programme) menyatakan ide pembuatan pembangkit listrik itu bermula dari ajang Biodiversity Day pada 2010 yang digelar di dusun itu. Setelah melewati berbagai studi kelayakan, pertemuan, diskusi dan kesepakatan, akhirnya Sadap tak akan lama lagi menikmati listrik.

Mewujudnya manfaat jasa lingkungan dalam keseharian masyarakat hulu akan melecut penghargaan bagi hutan tropis di Jantung Kalimantan. Hal itu akan mengurangi menghamburnya karbon dari deforestasi dan degradasi hutan alias Reducing Emission from Deforestation and Degradation/REDD. (Agus Prijono)

Ikuti Twitter Kompas Travel di @KompasTravel


EditorI Made Asdhiana

Terkini Lainnya


Close Ads X