Jukung, Urat Nadi Orang Banjar

Kompas.com - 26/01/2013, 16:15 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh Defri Werdiono

Matahari belum bersinar terik ketika jukung yang dinaiki Munawarah (50) tiba. Dengan wajah berpoles bedak pupur basah dari bahan beras, perempuan paruh baya itu mencari tempat parkir yang luang di pinggir sungai kecil di sela-sela rumah warga.

Seperti biasanya, hari itu, Jumat (18/1/2013), dengan perahu sampan berbahan kayu, Munawarah mengangkut sejumlah hasil bumi untuk diperdagangkan di pasar dadakan, sekitar 10 meter dari tempat menambat jukung.

Air dan jukung sejak dulu telah menjadi bagian hidup masyarakat Banjar di kawasan tenggara Kalimantan. Mengingat daerah itu dibelah sungai dan rawa, jukung menjadi alat transportasi sekaligus wahana jual beli hasil bumi dan bahan pokok. Uniknya, dalam urusan perdagangan bahan pokok sehari-hari, jukung biasa digunakan oleh laki-laki dan perempuan.

Hampir tiap jukung memuat pisang, kecapi, rambutan, daun katuk, dan nanas. Buah dan sayuran itu dibeli di pasar lama sebelum dijual lagi di daerah permukiman. ”Sekilo kecapi harganya Rp 2.500, sedangkan tiga ikat rambutan Rp 5.000,” ujar Munawarah.

Warga Banua Anyar, Banjarmasin, ini mengaku telah berjualan sejak belasan tahun silam. Selama itu pula, ia hanya ditemani jukung kesayangannya. Munawarah tak cakap mengendarai kendaraan darat, seperti sepeda atau motor. ”Keluarga kami hanya punya jukung. Ke mana-mana, ya, pakai jukung. Kalau ada keperluan lain di darat bisa naik taksi (angkutan perkotaan) atau becak,” ujarnya.

Munawarah sudah terlatih mengemudikan jukung sejak kanak-kanak. Yang dibutuhkan hanya tenaga, mengingat perahu kecil dengan panjang kurang dari 5 meter itu tidak memiliki mesin. Dayung berfungsi sebagai penggerak sekaligus kemudi.

Istilah jukung sendiri merujuk pada sampan kecil, tak bermesin, dan memerlukan dayung atau galah agar bisa melaju di air. Namun, menurut kalangan akademisi, istilah jukung dipakai untuk menyebut semua jenis perahu.

Orang Banjar lainnya yang tidak bisa lepas dari jukung adalah Salapudin (42). Jukung, bagi warga yang tinggal di Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, tidak hanya untuk transportasi saja, tetapi jukung buatannya juga bisa menghidupi keluarga dan menyekolahkan kedua anaknya.

Ditemui di bengkel kerja sederhana yang ada di depan rumahnya di tepian Sungai Martapura, pria yang akrab disapa Udin ini sedang mengerjakan pesanan jukung papan. Pesanan datang dari warga Manarap, salah satu daerah di Banjar yang memiliki rawa luas. Semua pesanan berjumlah 10 buah. Enam di antaranya sudah selesai.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X