Memupuk Kebanggaan Pendalungan... - Kompas.com

Memupuk Kebanggaan Pendalungan...

Kompas.com - 03/02/2013, 02:08 WIB

Puluhan muda-mudi anggota Banyuangga Batik Carnival, Rabu (30/1), dengan riang memeragakan kostum bernuansa tiga wilayah (Sumatera, Jawa, dan Bali) di halaman Museum Probolinggo, Jawa Timur. Para remaja ini tanpa risih terus berlenggak-lenggok meski hujan deras mengguyur ”Kota Pendalungan” tersebut.

Sekitar 30 remaja tersebut tampil dalam acara pentas pembukaan karya-karya Banyuangga Batik Carnival (BBC) pada tahun 2013. Tahun 2013, BBC akan mengangkat tema ”Pendalungan dan Harajuku Indonesian Style”.

Pada pergelaran itu, model mengenakan kain batik sebagai baju bawah dan busana kreasi di bagian atas. Tema busana yang diusung merupakan perpaduan kain dari tiga wilayah, yaitu Jawa, Sumatera, dan Bali. Lahirlah busana kreasi bernuansa tradisi seperti Gadis Bali, Di Balik Topeng Sumatera, Arjuna, dan Minak Jinggo.

Kegiatan yang didukung oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kota Probolinggo tersebut memang jadi bagian dari upaya Kota Probolinggo menggali kebudayaan mereka, yaitu budaya Pendalungan. Mereka berusaha menemukan busana khas Pendalungan yang akan menjadi ciri Probolinggo.

”Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa kain tradisional tetap indah dan menarik jika diberi sentuhan seni. Termasuk nantinya busana Pendalungan yang seharusnya menjadi kebanggaan orang Probolinggo,” ujar Nani Kastip, pembina BBC.

Tanggapan Publik

Pentas busana tradisional oleh BBC tersebut merupakan salah satu cara untuk mendapatkan respons dan masukan dari masyarakat terkait dengan busana Pendalungan.

”Mungkin karya-karya yang kami bawakan saat ini masih bernuansa Jawa, Bali, dan Sumatera. Ke depan, kami ingin segera bisa membawakan busana Pendalungan (campuran antara etnis Madura dan etnis lain),” ucap Nani.

Menurut Isa, warga Kebonsari, Probolinggo, yang kala itu turut menikmati peragaan busana tersebut, memang sudah saatnya Probolinggo menonjolkan budayanya sendiri.

”Probolinggo sudah saatnya membanggakan budayanya sendiri. Sebagai ’Kota Pendalungan’, ya harus bisa memunculkan ciri khasnya. Pendalungan, ya, harus ada ciri khas Madura,” kata Isa.

Paeny Effendy, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata Kota Probolinggo, mengatakan, saat ini pihaknya terus berupaya mengangkat budaya Pendalungan sebagai akar budaya Probolinggo.

”Mulai dari seminar dan kajian sudah kami lakukan. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu cara untuk menggugah semangat masyarakat Probolinggo untuk bangga akan budayanya sendiri,” ujar Paeny.

Seni budaya Pendalungan hingga kini dinilai masih terpinggirkan dibandingkan seni budaya lain di Indonesia. Pengembangan seni budaya Pendalungan hanya terbatas di institusi formal seperti sekolah. Di luar itu, pembinaan dan pengembangannya belum tampak.

Diharapkan, melalui kegiatan-kegiatan sederhana seperti pergelaran busana tersebut, kebanggaan menjadi bagian budaya Pendalungan terus terpupuk.(Dahlia Irawati)


Editor

Close Ads X