Kompas.com - 26/03/2013, 11:09 WIB
EditorI Made Asdhiana

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Desa Wisata Gamplong di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, makin ramai dikunjungi wisatawan nusantara, baik secara perorangan maupun rombongan. "Apalagi setelah diresmikan tetenger dan museum HM Soeharto di  rumah tempat kelahiran Presiden ke-2 RI itu di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, awal Maret," kata Penasihat Pengelola Desa Wisata Gamplong, Sutopo Sugiharto, di Yogyakarta, Senin (25/3/2013).

Menurut Sutopo, lokasi Museum Soeharto tersebut cukup dekat dengan Desa Wisata Gamplong sehinggga wisatawan seusai berkunjung ke museum tersebut kemudian mengunjungi desa wisata itu. "Jadi, ini merupakan imbas dari kehadiran museum Presiden kedua RI itu. Hampir tiap hari ada wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Gamplong," kata Sutopo.

Ia mengatakan, desa wisata tersebut memiliki kelebihan dan ciri khas, yaitu menawarkan produk kerajinan alat tenun bukan mesin (ATBM) sebagai potensi desa itu kepada wisatawan yang datang ke desa ini.

"Dengan potensi produk kerajinan alat tenun bukan mesin itu,  Desa Wisata Gamplong sampai saat ini mampu bertahan sebagai desa wisata yang diminati wisatawan mancanegara maupun nusantara karena mempunyai ciri spesifik yang bisa dijual," katanya.

Selama ini desa wisata tersebut dikenal wisatawan karena ciri khasnya sebagai sentra produksi kerajinan tenun dengan menggunakan ATBM. "Hingga kini masyarakat setempat masih tetap mempertahankan produk kerajinan tenunnya yang kemudian menjadi unggulan desa wisata tersebut," kata Sutopo yang juga menjadi ketua kelompok kerja pariwisata di desa itu.

Wisatawan yang datang ke desa wisata itu, menurut Sutopo, selalu ingin secara langsung melihat proses produksi kerajinan tenun. "Tiap libur akhir pekan maupun libur panjang dipastikan banyak wisatawan yang mengunjungi desa wisata tersebut. Biasanya wisatawan juga membeli produk tenun desa ini, bahkan terkadang memesan dalam jumlah banyak," katanya.

Sejak 1950-an Gamplong dikenal sebagai desa penghasil barang kerajinan tenun. Keterampilan menenun warga setempat diperoleh secara turun-temurun. Produk tenun dari desa itu awalnya berupa kain lurik, serbet makan, dan barang kerajinan tenun lainnya.

"Namun, saat ini seiring dengan persaingan bisnis maka para perajin berinovasi produk dengan membuat tas wanita, tempat/rak buku, serta aksesori atau hiasan lainnya dengan bahan baku bervariasi di antaranya tanaman eceng gondok, lidi, serat, dan akar wangi yang ditenun menggunakan ATBM," kata Sutopo.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X