Kompas.com - 29/03/2013, 08:09 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh Budi Suwarna dan Ahmad Arif

Pekarangan rumah Razali Hanafiah (61) rimbun oleh aneka tanaman. Di sanalah, sebagian bumbu kari disediakan alam. Namun, dari tahun ke tahun jumlahnya kian menipis, dan kini hanya cukup untuk bumbu semangkuk kari. Sebatang pohon temurui tumbuh di halaman samping rumah Razali di Desa Meunasah, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Daun pohon perdu itu menjanjikan aroma kari yang nikmat.

Ya, daun temurui adalah salah satu bumbu utama kari. Itulah sebabnya daun temurui disebut daun kari. Karena pentingnya daun itu dalam masakan kari, pohon temurui ditemukan di hampir setiap pekarangan rumah orang Aceh.

Selain temurui, ada sejumlah tanaman bumbu yang tumbuh subur di pekarangan rumah Razali mulai kunyit, jahe, daun pandan, jeruk purut, serai, dan aneka cabai. Di desa itu juga terlihat beberapa batang pohon cengkeh dan kemiri. ”Meski serba sedikit, sebagian bumbu kari ada di pekarangan rumah kami. Sebagian lainnya seperti lada, kacakraci (kaskas), jintan, pala, dan lawang keling mesti beli di pasar,” ujar Razali, pencicip kari di Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie Jaya.

Boleh dikata, sebagian besar bumbu kari disediakan alam. Cut Nyak Mizar, warga Seuneubuk, Meulaboh, Aceh Barat, menceritakan, di pekarangan rumah neneknya tumbuh beberapa pokok lada. ”Kalau ingin memasak kari, kami ambil ladanya dari sana,” ujar Cut Nyak.

Pekarangan rumah Rohani (70) di Ie Suum, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, menyediakan bahan bumbu kari lebih lengkap lagi. Ada pohon pala, lada, temurui, cabai, kunyit, jahe, kemiri, kayu manis, kelapa, serai, pandan, dan jeruk purut. Kalau hanya untuk kebutuhan rumah tangga, Rohani tinggal memanennya sedikit dan mencemplungkannya sebagai bumbu ke dalam kuali.

Sumber lada

Sumatera sejak ribuan tahun lalu tercatat dalam jalur perdagangan dunia. Komoditas yang dicari pedagang asing di Sumatera, antara lain, kapur barus, kemenyan, emas, dan rempah seperti cengkeh, kayu manis, dan pala. Aceh berada dalam mata rantai perdagangan itu.

Arun K Dasgupta (1962) mengatakan, sejak kejatuhan Malaka ke tangan Portugis, pedagang Muslim melirik Pasai dan Pidie sebagai tempat berniaga. Kota pelabuhan itu pun menjelma bandar niaga yang sibuk pada abad ke-16. Abad ke-17, muncul Kesultanan Aceh yang mengalami masa jaya di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda.

Kerajaan yang menguasai wilayah Aceh dan daerah di pesisir barat Sumatera bagian utara itu disebut-sebut kaya-raya karena lada. Pada masa itu, kebun (seuneubok) lada banyak dibuka. Namun, berapa persis produksi lada yang dihasilkan tidak jelas benar. Kita hanya bisa melihat serpihan catatan yang dibuat oleh pedagang atau utusan asing. Tome Pires (1512-1515), misalnya, mencatat, pelabuhan Pidie dan Pasai saja ketika itu memperdagangkan lada sebanyak 16.000 bahar atau sekitar 2.718 ton per tahun.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Daftar Visa on Arrival Kunjungan Wisata Ditambah, Jadi 60 Negara

    Daftar Visa on Arrival Kunjungan Wisata Ditambah, Jadi 60 Negara

    Travel Update
    Siapkan SDM Pariwisata, Labuan Bajo Akan Bangun Poltekpar

    Siapkan SDM Pariwisata, Labuan Bajo Akan Bangun Poltekpar

    Travel Update
    Syarat Perjalanan Tak Perlu Tes Covid-19, Ini Kata Pelaku Industri Pariwisata

    Syarat Perjalanan Tak Perlu Tes Covid-19, Ini Kata Pelaku Industri Pariwisata

    Travel Update
    10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

    10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

    Jalan Jalan
    Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

    Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

    Jalan Jalan
    Jajan di Toko Serba Ada Ini Harus Memanjat 120 Meter, Mau Coba?

    Jajan di Toko Serba Ada Ini Harus Memanjat 120 Meter, Mau Coba?

    Jalan Jalan
    Aturan Perjalanan Diperlonggar, Ini PR Pemerintah untuk Pariwisata

    Aturan Perjalanan Diperlonggar, Ini PR Pemerintah untuk Pariwisata

    Travel Update
    Sandiaga Sebut Pariwisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren pada Era Endemi

    Sandiaga Sebut Pariwisata Berkelanjutan Akan Jadi Tren pada Era Endemi

    Jalan Jalan
    Pelaku Perjalanan Luar Negeri Sudah Tak Perlu Tes, Ini Syaratnya

    Pelaku Perjalanan Luar Negeri Sudah Tak Perlu Tes, Ini Syaratnya

    Travel Update
    Mampir ke Jembatan Plunyon, Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

    Mampir ke Jembatan Plunyon, Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

    Jalan Jalan
    Festival Olahraga Berskala Internasional Bakal Digelar di Sejumlah Destinasi

    Festival Olahraga Berskala Internasional Bakal Digelar di Sejumlah Destinasi

    Travel Update
    Libur Panjang Waisak 2022, Angkasa Pura I Layani 651.000 Penumpang

    Libur Panjang Waisak 2022, Angkasa Pura I Layani 651.000 Penumpang

    Travel Update
    Jepang Akan Terima Turis Asing dari 4 Negara dalam Grup Wisata

    Jepang Akan Terima Turis Asing dari 4 Negara dalam Grup Wisata

    Travel Update
    Syarat Naik Pesawat per 18 Mei, Tak Wajib Antigen jika Vaksin 2 Kali

    Syarat Naik Pesawat per 18 Mei, Tak Wajib Antigen jika Vaksin 2 Kali

    Travel Update
    Menparekraf: Waisak Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Borobudur

    Menparekraf: Waisak Tingkatkan Kunjungan Wisatawan ke Borobudur

    Travel Update
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.