Kompas.com - 02/04/2013, 08:30 WIB
EditorI Made Asdhiana

AWAL hari beraroma kari di pertengahan Februari 2013. Musim angin barat nan basah mencipta mendung di atas meunasah (mushala) Desa Pupu, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam. Namun, mendung tak merundung para lelaki di desa itu menyiapkan pesta.

Muhammad (45), sang koki kampung, menuang minyak kelapa dalam kuali besi bergaris tengah nyaris semeter. Begitu mendidih, dia segera menuang aneka bumbu: serai, bungong lawang keling, daun pandan, daun salam, bawang putih keprek, bawang merah iris, dan daun temurui (bay leaf). Wangi rempah pun menguar, memenuhi kolong meunasah.

Itu baru permulaannya saja. Muhammad lantas menuang seember penuh potongan daging dari tiga ekor kambing ke dalam kuali. Begitu daging mulai layu, ia menambahkan seember penuh bumbu kental berwarna kuning ke atasnya. Dengan tangan telanjang, Muhammad mengaduk bumbu dan daging langsung di atas kuali. Campuran air dan asam jawa kemudian ditambahkan. Ketika kuah daging mendidih, santan ditambahkan.

Dalam dua jam, kuah kare kameng—bahasa Aceh untuk kari kambing—nan berlemak itu pun matang. Segera saja udara dipenuhi wangi kari. Muhammad menciduk kari kambing dan menyodorkannya ke empat orang juru masak senior yang hari itu berperan sebagai juru cicip. Mereka diam sesaat menunggu jejak rasa kari tercecap di lidah. Setelah itu, mereka membisiki Muhammad. Juru masak itu bergegas menambahkan garam dan beberapa rempah.

Para pencicip mencoba lagi. Kali ini, mereka menganggukkan kepala tanda kari tersebut pantas dihidangkan dalam kenduri maulid hari itu.

Muhammad pun bisa bernapas lega. Puluhan laki-laki di meunasah yang sedari pagi ingin berpesta kari tersenyum gembira. Mereka segera berbaris untuk mendapatkan sepiring kari. Kami juga kebagian mencicipi kari dengan daging demikian empuk. Setiap tetes kuahnya menghadirkan aneka rasa yang serasi: gurih, pedas, hangat, asin, dan asam. Hari itu kami benar-benar pesta kari.

Di sela-sela kemeriahan pesta, Muhammad menceritakan rahasia kelezatan kari aceh. Ada 22 bumbu yang ia gunakan, antara lain kelapa gongseng, kelapa kukur, santan, kemiri, kunyit, pala, lawang keling atau bisa diganti cengkeh, lada, jahe, cabai, kayu manis, daun kari, pandan, dan sederet bumbu lain. Aneka bumbu itu harus diracik dalam takaran yang pas. ”Seberapa pun daging yang dimasak, kelezatan harus tetap sempurna,” ujar Muhammad yang biasa memasak dalam ukuran satu-dua ekor kambing atau lembu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Buat kami, kari masakan Muhammad hari itu sudah lezat. Namun, di lidah seorang pencicip, Razali Hanafiah (61), rasa kari itu belum sempurna. ”Bumbunya masih kurang, harusnya ada 24 bumbu,” kata Razali, paman sekaligus guru masak Muhammad.

Dia lantas menunjukkan dua jenis bumbu yang absen dalam kari olahan Muhammad hari itu, yakni kacakra ci (kaskas ) dan jinten manis yang disimpan rapi di dalam stoples. Kacakra ci yang berbentuk butiran kecil berwarna kuning kecoklatan itu menambah rasa gurih pada kuah kari. ”Payah (susah) memang mencari bumbu ini sekarang. Kita harus cari di warung India,” kata Razali.

”Kalau mau lebih enak lagi, ya, ditambah biji bakung (baca: ganja),” sahut Muhammad. ”Tapi, kare kameng tadi tidak pakai, ya,” dia buru-buru menambahkan.

Dulu, biji ganja kerap dipakai dalam masakan Aceh. Fungsinya untuk memberi rasa gurih dan mengempukkan daging. Ada yang percaya biji-biji itu meningkatkan nafsu makan. ”Saking populernya ganja di masa lalu, ada hikayat yang menulis soal itu. Biji bakung itu sempat jadi identitas orang Aceh,” kata Nurdin, peneliti hikayat sekaligus Kepala Museum Aceh.

Sejarawan Aceh, Rusdi Sufi, menambahkan, ganja dulu dipakai orang Aceh sebagai bumbu makanan dan racikan obat. ”Waktu saya kecil, ketika tidak ada ikan atau daging untuk dimasak, cukup ambil nangka muda. Saya cincang, masak di kuali dengan bumbu kari, kasih sedikit biji bakung, sedap sudah. Itu tahun 1970-an. Sekarang tentu tidak lagi sebab ganja dilarang,” katanya diikuti tawa. (Ahmad Arif, Budi Suwarna, Aryo Wisanggeni Gentong)

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Kedai Kopi Pucu'e Kendal Ramai Pengunjung, meski Buka Saat Pandemi

    Kedai Kopi Pucu'e Kendal Ramai Pengunjung, meski Buka Saat Pandemi

    Jalan Jalan
    Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

    Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

    Jalan Jalan
    4 Tipe Glamping di The Lodge Maribaya Lembang, Mulai Rp 800.000 Per Malam

    4 Tipe Glamping di The Lodge Maribaya Lembang, Mulai Rp 800.000 Per Malam

    Jalan Jalan
    Fasilitas Glamping Lakeside Rancabali, Resor Tepi Situ Patenggang yang Indah

    Fasilitas Glamping Lakeside Rancabali, Resor Tepi Situ Patenggang yang Indah

    Jalan Jalan
    3 Spot Foto Favorit di Kawah Putih Ciweday, Bisa Lihat Sunrise

    3 Spot Foto Favorit di Kawah Putih Ciweday, Bisa Lihat Sunrise

    Jalan Jalan
    Bosan di Rumah Terus karena Pandemi? Berikut 3 Ide Piknik Bersama Pasangan Tanpa Keluar Mobil

    Bosan di Rumah Terus karena Pandemi? Berikut 3 Ide Piknik Bersama Pasangan Tanpa Keluar Mobil

    BrandzView
    Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan di The Lodge Maribaya

    Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan di The Lodge Maribaya

    Jalan Jalan
    Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik Buka Lagi, Ini Syaratnya

    Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik Buka Lagi, Ini Syaratnya

    Travel Update
    Sambut Event Besar, Ganjar Percepat Vaksinasi Covid-19 di Kawasan Wisata Jateng

    Sambut Event Besar, Ganjar Percepat Vaksinasi Covid-19 di Kawasan Wisata Jateng

    Travel Update
    Syarat Wisata ke Nepal van Java Dusun Butuh Kaliangkrik, Magelang

    Syarat Wisata ke Nepal van Java Dusun Butuh Kaliangkrik, Magelang

    Travel Tips
    Ada Vaksinasi Covid-19 Gratis di Museum Borobudur Magelang

    Ada Vaksinasi Covid-19 Gratis di Museum Borobudur Magelang

    Travel Update
    Nepal van Java Buka Lagi, Seminggu Dikunjungi 3.000 Orang

    Nepal van Java Buka Lagi, Seminggu Dikunjungi 3.000 Orang

    Travel Update
    Daftar Hari Libur Nasional Tahun 2022, Catat untuk Persiapan Liburan

    Daftar Hari Libur Nasional Tahun 2022, Catat untuk Persiapan Liburan

    Travel Update
    Pemerintah Indonesia Resmi Tetapkan Hari Libur Nasional Tahun 2022

    Pemerintah Indonesia Resmi Tetapkan Hari Libur Nasional Tahun 2022

    Travel Update
    Songa Rafting di Probolinggo, Indahnya Alam hingga Pemandangan Goa Kelelawar

    Songa Rafting di Probolinggo, Indahnya Alam hingga Pemandangan Goa Kelelawar

    Jalan Jalan
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.