Kompas.com - 25/04/2013, 10:05 WIB
EditorI Made Asdhiana

MENYUSURI sungai di Kalimantan Tengah, orang bisa tertawa melihat tingkah orangutan di sela-sela hutan Pulau Hampapak dan Bapalas. Jangan lewatkan pula kesempatan menyadap karet, memetik rotan, dan mencari ikan.

Angin sepoi-sepoi membelai wajah sekitar 30 penumpang Kapal Motor (KM) Lasang Teras Garu. Siang pada pengujung Maret 2013 itu, mereka bertolak dari dermaga di Jalan S Parman, Palangkaraya, Kalteng, untuk menyusuri Sungai Kahayan. Deru kelotok yang sesekali lewat menyelingi obrolan hangat.

Di tepi sungai tampak hutan yang masih rimbun. Lanting atau rumah kecil dari kayu hunian penjaga karamba menghiasi sisi-sisi sungai. Panorama yang memesona membuat perjalanan sekitar dua jam tak terasa ketika kapal menghampiri Pulau Hampapak. Pulau itu adalah tempat orangutan beradaptasi sebelum dilepasliarkan.

Beberapa sampan disiapkan untuk mendekati pulau. Namun, wisatawan tak bisa merapat ke Hampapak karena dikhawatirkan mengganggu orangutan. Beberapa orangutan ternyata tengah menyantap makanan yang disediakan petugas pusat rehabilitasi satwa.

Gerak-gerik orangutan sungguh mengasyikkan untuk diamati. Orangutan yang berpostur tambun mendominasi makanan dan asyik mengunyah sendiri. Orangutan lain mengendap-endap dan mencoba mengambil makanan. Kejar-kejaran pun tak bisa dihindari dengan orangutan yang berbadan lebih kecil lari terbirit-birit. Semua penumpang terpingkal-pingkal menyaksikan jenakanya polah primata yang sedang bercengkerama. Sementara, beberapa orangutan juga terlihat asyik berayun- ayun di dahan.

Primadona wisata

Susur sungai saat ini menjadi wisata yang sedang naik daun. Wisata yang pertama kali tersedia tahun 2007 itu awalnya tak digubris tetapi kini menjadi primadona. Sungai pada peta Kalteng bak jaringan yang membentang di hamparan pualam hijau. Maka, tak heran susur sungai sepatutnya menjadi wisata andalan Kalteng.

Pengelola KM Lasang Teras Garu, Gamaliel Tumon (43), menjelaskan, susur sungai ditawarkan dalam beberapa paket wisata. Paket melihat orangutan, misalnya, ditempuh dalam waktu setidaknya enam jam dengan jumlah wisatawan minimal 25 orang. Tarif paket orangutan mulai Rp 175.000 per orang.

Lasang Teras Garu bisa mengangkut hingga 60 penumpang. Tempat orangutan yang dituju yakni Pulau Hampapak dan Bapalas. Selain itu, wisatawan dapat menikmati keindahan Sungai Kahayan dan Rungan, serta melihat permukiman di sisi-sisinya. Wisatawan bisa pergi lebih jauh selama berhari-hari jika menginginkannya.

Lasang Teras Garu dilengkapi lima kamar. Ruang-ruang lain di kapal dengan dua lantai itu pun cukup nyaman untuk tempat merebahkan tubuh dan beristirahat beralaskan matras. Wisata malam ternyata tak kalah mengasyikkan. Kunang-kunang bermain memendarkan cahayanya.

Pada malam hari, pemandangan berubah menjadi kelap-kelip lampu perahu dan rumah penduduk. Embusan angin nan lembut seusai makan malam membuat mata terasa berat mengerjap-ngerjap. Jika langit bersih, akan tampak bintang-bintang dan bulan dengan sinarnya memantul di permukaan sungai.

Desir riak-riak sungai ditambah suara-suara satwa liar bagaikan alunan musik alam yang menemani tidur. Sedikit goyangan kapal yang membuai membuat para penumpang kian terlelap. Jika jumlah wisatawan cukup banyak, tidur di rumah penduduk setempat bisa menjadi pilihan lain.

Di beberapa lokasi juga terdapat lahan yang layak didirikan tenda untuk bermalam sambil memasak makanan. Perjalanan jauh, misalnya, pernah dilakukan wisatawan Australia pada pertengahan tahun 2012 yang berkunjung ke betang Tumbang Malahui di Kabupaten Gunung Mas, Kalteng.

Betang adalah rumah panjang khas suku Dayak. Selama perjalanan tiga hari, wisatawan sangat antusias apalagi saat mengunjungi betang yang telah berusia hampir 150 tahun itu. Keramahan masyarakat menjadi pesona tersendiri saat melakukan susur sungai.

Soros-Bung Karno

Alternatif lain yakni menjelajah Taman Nasional Sebangau dengan keindahan ekosistemnya, melihat lahan gambut termasuk keragaman flora dan fauna khas Kalteng, menikmati panorama beberapa danau, bertualang di rimba, dan menjalani aktivitas masyarakat setempat.

Sendi-sendi kehidupan lokal disentuh dengan belajar menyadap karet, mencari rotan, dan memancing ikan. Tentunya, menikmati keunikan ritual budaya dan mencoba kuliner Dayak sudah termasuk dalam wisata. Selain Lasang Teras Garu, susur sungai bisa dinikmati dengan kapal Getek Tahasak Danum.

Kapal itu bisa mengangkut hingga 25 orang dengan jumlah wisatawan minimal 10 orang. Tarif dan paket-paket wisata yang ditawarkan tak berbeda dengan Lasang Teras Garu. Gamaliel mengatakan, tarif susur sungai di Kalteng termasuk murah dibandingkan wisata di luar negeri.

”Di Afrika, tarif melihat gorila sebesar 5.000 dollar AS (sekitar Rp 45 juta). Itu pun belum tentu berhasil. Di sini sudah pasti melihat orangutan,” katanya sambil tertawa. Tak terhitung pejabat, artis bahkan tokoh global yang sudah merasakan susur sungai.

George Soros, investor dunia itu, misalnya, terkagum-kagum menikmati panorama Sungai Kahayan sehari penuh pada tahun 2010. Ketua Dewan Adat Dayak Kalteng Sabran Achmad menjelaskan, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pun melakukan perjalanan selama dua hari menyusuri sungai menuju Palangkaraya.

”Soekarno berangkat dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan kapal untuk menghadiri peresmian Palangkaraya sebagai ibu kota Kalteng pada tahun 1957,” tutur Sabran.

Sungai-sungai di Kalteng, seperti halnya berbagai daerah lain di Indonesia, sarat dengan jejak peradaban masa lampau. Betang-betang berusia ratusan tahun dibangun di tepi sungai. Sejak kapan sungai menjadi urat nadi perhubungan di Kalteng, tak diketahui pasti. Namun, buku Pakat Dayak bisa menjadi acuan.

Dalam buku yang ditulis Prof M Usop MA terbitan Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Batang Garing tahun 1996 itu dijelaskan, manusia pertama, yakni kaum Melayu Tua, masuk ke Kalimantan diperkirakan pada 4.000 hingga 1.000 tahun sebelum Masehi.  (Dwi Bayu Radius)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.