Senja Beraroma Ikan Bakar

Kompas.com - 28/04/2013, 08:52 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh Benny D Koestanto dan Budi Suwarna

SENJA selalu memanggil Ketut Shoma (46) untuk merapat ke Pantai Jimbaran. Ketika langit berubah warna, ia menjejerkan meja-meja makan di tepi pantai. Sebentar lagi, turis-turis yang tadi siang ”membakar” tubuh dengan sinar mentari akan datang kembali ke pantai untuk menikmati ikan bakar.

Tamu biasanya datang setelah matahari tenggelam,” ujar Ketut Shoma, awal April lalu. Ia adalah pengelola Restoran Ikan Roma, salah satu restoran atau kafe pertama yang buka di tepi Pantai Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, tahun 1990-an.

Para turis biasanya terlebih dahulu menikmati suasana malam di tepi pantai yang kuning keemasan oleh lampu dan ribuan pelita di atas meja makan. Angin berembus bersama gulungan ombak yang bergantian mengecup pantai. Suaranya berdebur menggilas suara percakapan ratusan orang. Prosesi itu bagai seremoni menjelang makan malam di Pantai Jimbaran.

Sementara itu, dapur restoran mulai menyembulkan asap putih beraroma ikan bakar, cumi, udang, dan lobster. Selanjutnya, masakan itu menyebar ke meja tamu di tepi pantai. Kami berada di sebuah meja makan, menyantap ikan bakar yang baru matang. Jejak rasa jahe terasa kuat, jalin-menjalin dengan rasa manis dan asin daging ikan. Hidangan ikan juga dilengkapi bumbu matah yang tidak terlalu pedas, mungkin agar mudah diterima lidah kebanyakan turis asing.

Bagaimana lokasi wisata kuliner ikan bakar Jimbaran itu muncul dan berkembang? Sejatinya, menu ikan adalah ”pemain baru” dalam industri kuliner Bali. Sebelum tahun 1990-an, ikan tidak masuk ke dalam daftar menu populer restoran. Ikan hanya dijual mentah di pasar tradisional dan dinikmati di rumah. Kalau toh ada yang menjualnya dalam keadaan matang, paling hanya warung kecil di sekitar Pantai Kusamba, Klungkung. Menu yang dijajakan dinamai languan, yakni satu paket menu yang terdiri dari sate lilit ikan, pepes tongkol, ketupat, plus sambal terasi.

Pada awal 1990-an, Pemerintah Provinsi Bali di bawah Gubernur Ida Bagus Oka secara informal mencanangkan gerakan makan ikan. Agar kampanye berhasil, pemerintah membantu pembangunan sembilan kafe ikan bakar di Pantai Jimbaran, salah satunya yang dikelola Ketut Shoma. Bahkan, Gubernur rajin menggelar aneka acara, termasuk jumpa pers, secara bergilir di sembilan kafe tersebut. Dengan cara seperti itu, kawasan Jimbaran berangsur-angsur menjelma menjadi pusat kuliner berbasis ikan.

Ikan bakar Jimbaran kini menjadi merek dan ikon baru pariwisata Bali.

Sukses sembilan kafe, sekarang pun tetap sembilan, itu memancing banyak pengikut. Para nelayan di Pantai Muaya dan Kedonganan yang bertetangga dengan Jimbaran belakangan membuka kafe serupa. Saat ini, di sepanjang Pantai Muaya, Jimbaran, hingga Kedonganan terdapat puluhan kafe pinggir pantai yang menyediakan menu ikan. Kafe-kafe dan restoran itu berjejer dalam radius 2 kilometeran.

Seperti jamur di musim hujan, resto, kafe, dan warung yang mengandalkan menu ikan bakar bermunculan di hampir semua pantai di Bali. Pantai Lebih, Gianyar, misalnya, dua tahun terakhir ini juga muncul sebagai kawasan kuliner berbasis ikan bakar plus plecing (kangkung rebus dengan sambal tomat mentah dan terasi). Lebih ke timur, kawasan kuliner berbasis ikan muncul di Kusamba, Kabupaten Klungkung. Di kawasan ini, turis bisa makan ikan tongkol asap dengan cocolan sambal matah. Menu yang sama juga bertebaran di Pulau Nusa Penida, Klungkung.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X