Kompas.com - 01/05/2013, 11:36 WIB
EditorI Made Asdhiana

PEKERJAAN di dapur Ni Nyoman Loten (74) seperti tak ada habisnya awal April lalu. Sejak pagi hingga sore, ia terus memasak aneka kue dan masakan. Tepat tengah hari ketika terik mentari disapu mendung, sejumlah kue buatan Loten telah matang dan ditumpuk di atas meja. Ada jaje bantal, jaje adrem, kembang duren, jaje begine, jaje dendeng, jaje satuh, dan pesor dengan tiga jenis daun pembungkus: daun bambu, kasa, dan pisang batu.

Tanpa beristirahat, Loten melanjutkan masakan berikutnya. Dibantu suaminya, I Ketut Nomer (73), Loten membuat lawar klungah—sejenis lawar yang hanya dibuat di kawasan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali. Lawar klungah berbahan utama tempurung kelapa muda ditambah daging irisan tipis daging ayam. Sambil lesehan di teras samping rumah yang teduh, Nomer mencacah tempurung kelapa muda yang telah direbus dan daging ayam, sementara Loten memarut daging kelapa yang telah dibakar.

Nomer kemudian memeras cacahan tempurung kelapa muda itu hingga airnya tandas, lantas ia campur dengan ayam dan parutan kelapa di sebuah panci. Loten menambahkan basa genep—bumbu dasar bali yang terdiri dari hampir semua bumbu yang ada di dapur—dan minyak kelapa buatan sendiri. Nomer mengaduk semuanya dengan tangan telanjang hingga jari-jarinya belepotan bumbu. Aroma harum bumbu dan minyak kelapa segera meruap ke udara.

Loten memberi sentuhan akhir berupa taburan bawang goreng dan bawang merah serta beberapa tetes jeruk limau. Lawar klungah telah selesai. Sebagian disisihkan untuk persembahan dewa dan alam semesta, sisanya dalam jumlah banyak dijadikan suguhan untuk keluarga. Kami, tamu-tamu keluarga Loten dari Jakarta yang sedang lapar, menyantap lawar klungah itu dengan lahap.

Tekstur tempurung kelapa muda seperti jamur yang kenyal. Rasanya seperti nangka atau jantung pisang batu dengan sedikit jejak sepat. Rasa sepat itu berpadu dengan pedas, asin, manis, asam, dan gurih bumbu genep. Sebuah harmoni rasa tercipta dari orkestra aneka bahan dan bumbu yang terdiri dari cabai rawit, bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas, kencur, serai, salam, jeruk nipis, terasi, gula aren, garam, ketumbar, lada, pala, jinten, dan lain sebagainya.

Di meja makan juga terhampar aneka makanan lain mulai nasi kuning, pesor, kare ayam, saur, serundeng, sambal matah, dan tum ayam—sejenis pepes ayam dengan bumbu genep dan daun jeruk purut.

”Bagaimana rasanya? Enak, kan?” ujar Loten diikuti senyum. Ia tak menunggu jawaban kami yang sedang kalap menikmati semua makanan. Perempuan ramah itu kembali ke teras rumah untuk menyusun sesajen. Dibantu seorang asisten dan dua anak perempuannya, Loten menganyam janur kelapa menjadi wadah sajen berbagai ukuran. Di atas puluhan wadah tersebut, mereka menyusun semua masakan yang dimasaknya hari itu dalam ukuran serba sejumput. Dalam sajen kemudian ditambahkan kepiting, udang, ikan goreng, telur rebus, buah-buahan, aneka kue, roti, uang kertas, serta bunga warna-warni.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Semua bahan sesajen itu diletakkan dengan hitung-hitungan yang rumit. Warna dan bentuk sajen yang beraneka sarat dengan simbol. Semua akan dipersembahkan kepada dewa-dewa yang turun dan bersemayam di bumi selama 10 hari sejak hari raya Galungan untuk memberi berkah kepada alam semesta. Itulah saat terbaik untuk sembahyang.

Esok hari, jatuh hari raya Kuningan di mana dewa-dewa akan kembali ke kahyangan. Karena itu, sebelum matahari bersinar, Loten dan keluarga membawa sebagian sesajen ke pura keluarga. Di batas antara dini hari dan pagi, mereka berdoa dan mempersembahkan sesajen kepada dewa-dewa. Di hari Kuningan itulah rangkaian upacara terasa panjang dan memuncak.

Ribuan umat Hindu-Bali berkunjung dari satu pura ke pura lainnya. Di Pura Jagatnatha, Jembrana, sesajen dibawa umat bertumpuk di meja panjang mirip altar. Di depan sesajen, umat Hindu-Bali berdoa khusus dengan kedua tangan menangkup di atas kepala. Di ujung jemari mereka tersemat sekuntum-dua kuntum bunga. Air suci dan asap dupa mengantarkan doa-doa mereka ke langit yang cerah di pagi itu.

Empat jam perjalanan dari Jembrana, ritual Kuningan juga berlangsung di Pura Sakenan, Pulau Serangan, Denpasar Selatan dan berlanjut esok harinya dengan upacara piodalan atau ulang tahun pura yang digelar berdasarkan sistem kalender Bali. Kalau dikonversi ke sistem penanggalan Masehi, ulang tahun terjadi setiap enam bulan sekali. Momen itu seperti sebuah karnaval. Ribuan umat berpakaian putih-putih dari seantero Bali datang dan pergi ke Pura Sakenan. Di jalan menuju pura, serombongan umat yang selesai berdoa menggelar arak-arakan di jalan dengan iringan musik yang rancak.

Sebagian dari mereka menyunggi benda-benda pusaka dan perwujudan dewa di atas kepala. Arak-arakan yang panjang itu bertemu dengan antrean umat yang hendak masuk ke pura. Dua rombongan dengan arah berbeda itu diapit para pedagang makanan yang menjajakan minuman dan aneka sate, mulai sate ayam, ikan, babi, dan penyu. Di dalam pura, suasana terasa khidmat. Doa-doa meminta berkah disenandungkan ribuan orang dalam irama yang ritmis. Di pelataran pura, satu kelompok pemusik Bali, yang semua pemainnya perempuan berpakaian keemasan, bergantian memainkan musik.

Begitulah Bali, ritual agama tampak bagai pertunjukan massal yang meriah. Semua orang memainkan perannya. Ada arak-arakan, sajen-sajen persembahan, tarian, musik, dan doa-doa yang semuanya mengandung simbol-simbol sarat makna. Tidak salah jika antropolog Clifford Geertz menjuluki Bali sebagai negara teater di mana simbol-simbol kekuasaan dan status diperlihatkan saat upacara.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Jemaah Pemegang Visa Umrah Bisa Umrah Tanpa Karantina, Tapi...

    Jemaah Pemegang Visa Umrah Bisa Umrah Tanpa Karantina, Tapi...

    Travel Update
    Tips Wisata di The Beach Love Bali, Jangan Lupa Cek Ramalan Cuaca

    Tips Wisata di The Beach Love Bali, Jangan Lupa Cek Ramalan Cuaca

    Travel Tips
    4 Aktivitas di The Beach Love Bali, Lihat Sunset Pantai Cinta Kedungu

    4 Aktivitas di The Beach Love Bali, Lihat Sunset Pantai Cinta Kedungu

    Jalan Jalan
    The Beach Love, Kafe Tempat Nikmati Panorama Pantai Cinta Kedungu Bali

    The Beach Love, Kafe Tempat Nikmati Panorama Pantai Cinta Kedungu Bali

    Jalan Jalan
    Jalan-jalan ke Tepi Laut di Lhokseumawe, Wisata Sambil Kulineran

    Jalan-jalan ke Tepi Laut di Lhokseumawe, Wisata Sambil Kulineran

    Jalan Jalan
    Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

    Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

    Jalan Jalan
    Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

    Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

    Travel Update
    Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

    Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

    Travel Update
    Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

    Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

    Travel Update
    Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

    Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

    Travel Update
    Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

    Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

    Travel Update
    Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

    Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

    Jalan Jalan
    4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

    4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

    Travel Update
    Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

    Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

    Travel Update
    4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

    4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

    Travel Tips
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.