Kompas.com - 20/05/2013, 09:39 WIB
EditorI Made Asdhiana

Pemilik perahu lantas mulai melepaskan tali kapal yang terikat di dermaga. Selanjutnya mesin perahu dihidupkan dan perlahan-lahan perahu melaju menuju Lonthor.

Cuaca siang itu sangat bersahabat, Pulau Banda Besar terlihat jelas di depan mata. Pemilik perahu ini pun mulai terbuka. Namanya Harto dan lahir di Aceh. Dahulu, orangtuanya berdinas di TNI dan selalu berpindah-pindah tugas hingga sampailah Harto di Banda dan mencari nafkah sebagai pemilik perahu di Banda Neira.

Pria murah senyum dengan kulit hitam legam akibat sengatan sinar matahari itu pun mulai bercerita mengenai perkembangan Banda Neira dan suka dukanya menjalani profesi mengantarkan penduduk menyeberang antar-pulau tersebut. "Nyeberang ke Lonthor paling cuma 15 menit. Kecepatan seperti ini (laju perahu tak terlalu cepat). Itu Lonthor," kata Harto sambil menunjuk dermaga yang semakin lama makin jelas terlihat. Sementara di sebelah kanan menjulang Gunung Api.

Tak berapa lama kemudian perahu tiba di dermaga Lonthor. Laut begitu jernih, karang-karang pun terlihat jelas. Ikan-ikan berwarna-warni meliuk-liuk di antara karang yang masih terawat baik.
sumursuci-lonthor
Sumur suci di Lonthor, Pulau Banda Besar. (KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA)

Kami pun menjejakkan kaki di pasir putih Pulau Banda Besar.

"Kalau keliling lebih baik naik ojek," kata Harto mengusulkan cara cepat mengunjungi sumur suci, kebun pala dan Benteng Hollandia.

"Boleh juga pak. Tuh ada tukang ojek," kata Fikri.

Kami melihat dua pemuda dan dua motor parkir di ujung dermaga. Keduanya terlihat sedang berteduh. Harto langsung mendekati kedua pemuda itu dan mengatakan agar membawa kami dengan sepeda motor mengunjungi ketiga tempat tersebut. Setelah tawar menawar, akhirnya disepakati sewa ojek Rp 25.000 per orang.

"Bapak keliling. Saya tunggu di sini (dermaga)," kata Harto sambil tersenyum.

Melajulah saya dan Fikri menggunakan ojek menuju sumur suci atau sumur tua yang ada di Desa Lonthor. Letak sumur tersebut di ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut dan memiliki kedalaman 4 meter. Ada dua sumur dan letaknya berdampingan. Dasar sumur berhubungan satu sama lain. Satu sumur dikeramatkan dan satu sumur lagi seperti biasa digunakan warga setempat sehari-hari untuk sumber air minum. Meskipun musim kemarau, sumur tersebut tak pernah kering. Mereka yang meminum air dari sumur itu diyakini akan berumur panjang dan terhindar dari segala jenis penyakit.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.