Edelweis di Punggung Tandus

Kompas.com - 04/06/2013, 17:25 WIB
EditorI Made Asdhiana

DANAU boleh mengering dan kawasan sekitarnya tampak tandus akibat kebakaran dan perambahan. Namun, pesonanya belum pupus. Itulah edelweis (Javanese edelweiss). Tumbuhan pegunungan berbunga putih itu merupakan simbol keabadian, keluhuran semangat juang, dan cinta sejati.

Mobil yang ditumpangi Kompas berhenti di tepi jalan setelah lebih kurang 10 kilometer memasuki kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng dari arah barat. Suasana pada Rabu (8/5/2013) pagi itu hening hingga terdengar jelas siulan belibis (Dendrocygna). Setelah berdiri pada posisi tepat, langsung kelihatan sekelompok kawanan belibis bercengkerama sambil menjelajahi bentangan danau. Posisinya sekitar 150 meter ke arah hilir dari tepi jaringan jalan Bealain-Colol. Kawasan danau berada di wilayah Desa Wejang Mawe, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Danau itu bernama Ranapoja. Bentangan danau sekitar 50 kilometer sebelah barat Borong (Manggarai Timur) atau lebih kurang 25 kilometer arah timur Ruteng, kota Kabupaten Manggarai. Udaranya sejuk cenderung dingin, khas hawa pegunungan pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kawasan itu. Yang terbentang di depan mata malah pemandangan miris atas kawasan yang tampak tandus. Jejak kebakaran yang melanda pada puncak kemarau tahun lalu masih tampak jelas. Namun, ketika baru saja menjejakkan kaki melalui jalan setapak ke arah tepi danau, rekan perjalanan, Maman Surahman, dengan wajah girang memecah kesunyian.

”Wow… kawasan ini ternyata luar biasa. Bunga langka edelweis juga tumbuh di sini. Ini dia!” kata Maman.

Maman yang menjabat Kepala Seksi Perlindungan, Pengawetan, dan Perpetaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT menunjuk tumbuhan yang umumnya berbunga putih itu.

Sesuai nama Latin-nya, Anaphalis javanica atau Javanese edelweiss, tumbuhan itu seakan hanya bisa ditemukan di pegunungan Pulau Jawa. ”Saya awalnya punya anggapan seperti itu. Ternyata tidak hanya di Jawa. Edelweis juga tumbuhan endemik di kawasan pegunungan TWA Ruteng dan kawasan pegunungan lain di Flores,” kata pencinta lingkungan, Rofino Kant, di Ruteng.

Di Jawa atau di Flores, ancaman serius yang dapat memusnahkan edelweis adalah kebakaran atau perambahan kawasan hutan. Namun, khusus di Jawa, masih ditambah ancaman lain, yakni pengambilan bagian-bagian edelweis untuk alasan-alasan estetis dan kebutuhan terkait ritus khusus, selain juga sebagai barang dagangan di pasar.

Menurut Rofino, khusus di TWA Ruteng dan daerah pegunungan lain di Flores, ancaman kepunahan edelweis hanya bersumber dari kebakaran atau perambahan kawasan hutan untuk kebun. Di kawasan ini, edelweis masih relatif aman dari ancaman pengambilan atau pencurian karena tidak terkait ritual dan belum menjadi komoditas. Masyarakat setempat juga belum memahami simbol luhur di balik keberadaan edelweis.

Edelweis, lanjut Rofino, sebenarnya bukanlah nama jenis tumbuhan asing bagi masyarakat Manggarai Raya—meliputi tiga kabupaten: Manggarai dan dua pemekarannya (Manggarai Barat dan Manggarai Timur)—atau orang Flores umumnya. Mereka rata-rata pernah mendengarnya, tetapi belum mengetahui secara persis seperti apa sosok tumbuhan itu, termasuk simbol luhur di baliknya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X