Kompas.com - 10/06/2013, 10:05 WIB
EditorI Made Asdhiana

Setengah jam perjalanan ke tengah laut yang diduga lumba-lumba akan muncul, kapten akan mematikan mesin motor jukung. Tak lama, beberapa wisatawan akan berteriak, ”Look... look, dolphin... Oh, beautiful (lihat... lihat, lumba-lumba. Oh, cantiknya).” Mereka yang sebagian besar wisatawan mancanegara senang melihat lumba-lumba berenang meski hanya sekejap, menghilang, dan muncul lagi di tempat berbeda.

Kapten merupakan sebutan bagi pengantar tamu khusus untuk melihat lumba-lumba. Menjelang pukul 08.00, kapten menawarkan pemandangan lain sebelum kembali menuju pantai.

Taman laut menjadi pilihan setelah menyaksikan lumba-lumba. Keindahan alam bawah laut, batu karang, dan ikan hias merupakan sajian yang berbeda. Tarifnya Rp 150.000 per kapal untuk menyaksikan taman laut itu. Kapten selalu membekali diri dengan beberapa roti.

”Sobek kecil-kecil saja rotinya, lalu lempar. Ikan-ikan hias bakal muncul,” ujar Budiasa, menggunakan bahasa Inggris sederhana kepada tamu asingnya.

Air laut di kawasan itu cenderung kehijauan. Setelah roti ditebar, beragam ikan hias bermunculan. Sekitar pukul 09.00, tamu diantarkan pulang.

Cinta Indonesia

Asal-usul nama Lovina untuk kawasan wisata itu tidak ada referensi yang pasti. Konon, nama ini diberikan Raja Buleleng, yang juga seorang pujangga, Anak Agung Panji Tisna, seusai berkunjung ke India pada tahun 1950. Dia bercita-cita, tempat kelahirannya yang saat itu adalah ibu kota Bali ramai dikunjungi turis dari seluruh penjuru dunia. Lahirlah kata Lovina berbarengan dengan berdirinya pondokan (penginapan) milik Panji Tisna yang juga bernama Lovina pada tahun 1953.

I Gde Dharna, sastrawan dan pencipta lagu daerah Bali, membenarkan cerita itu. Ia adalah satu saksi hidup dari kisah itu. ”Lovina memang dimaksudkan agar Buleleng dikenal banyak orang. Saat itu belum ada temuan lumba-lumba. Murni alamnya memang indah sehingga beliau (Panji Tisna) serius untuk memajukan tanah kelahirannya,” ujarnya.

Lovina dimaknai sebagai gabungan kata love (cinta) dan ina (Indonesia), yaitu cinta Indonesia. Lewat rekan Panji Tisna dari luar negeri, Lovina menjadi dikenal. Tahun 1960, ibu kota Bali berpindah dari Singaraja (Kabupaten Buleleng) ke Denpasar. Gubernur Bali Ida Bagus Mantra melarang pemakaian kata Lovina karena bahasa Bali tak mengenal huruf ”v”. Pemerintah saat itu mengharuskan promosi pariwisata di kawasan itu bukan untuk Lovina, melainkan Buleleng.

Namun, Lovina tak bisa dilupakan. Wisatawan asing lebih mengenal Lovina, bukan Buleleng atau Singaraja. Pada 1980, Pemerintah Provinsi Bali membolehkan kembali pemakaian nama Lovina. Dharna pun menciptakan lagu berjudul Lovina untuk mengenang Panji Tisna.

Pada tahun 2012, wisatawan yang berkunjung ke Lovina tercatat 10.504 orang, yang terdiri dari 7.651 turis asing dan 2.853 wisatawan domestik. Puluhan hotel berbintang dan melati pun kini berjajar di kawasan itu.

Salah satu hotel, Melka Excelsior, memelihara lima lumba-lumba dan rutin menggelar atraksi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng, Ketut Warkadea mengatakan, keberadaan lumba-lumba itu belum diteliti secara pasti. (Ayu Sulistyowati)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.