Kompas.com - 22/06/2013, 09:43 WIB
Perempuan menggunakan pakaian adat Sumatera Barat saat penyambutan tamu di garis finish etape tiga Tour de Singkarak 2013 di Istano Basa Pagaruyung, Nagari Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (4/6/2013). KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Perempuan menggunakan pakaian adat Sumatera Barat saat penyambutan tamu di garis finish etape tiga Tour de Singkarak 2013 di Istano Basa Pagaruyung, Nagari Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (4/6/2013).
EditorI Made Asdhiana

Pemangku Daulat Raja Alam Pagaruyung Sutan Haji Muhammad Taufiq Thaib Tuanku Mudo Mahkota Alam mengatakan, prosesi pembukaan ikatan sumpah itu sekaligus mempertegas eksistensi kerajaan-kerajaan Nusantara. Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang yang membawahkan Sumbar, Sumsel, dan Bengkulu Nurmatias mengatakan, hingga kini terdapat 75 wilayah kerajaan di Nusantara yang mengakui kedaulatan Pagaruyung.

Wilayah itu tersebar hingga wilayah Filipina, Brunei, Thailand, dan Malaysia. Adapun di Indonesia, wilayahnya meliputi NTT dan NTB. ”Sifatnya lebih pada pengakuan, bukan pada sistem upeti dan merupakan patron sebagai pemimpin informal,” kata Nurmatias.

Namun, menurut Puti Reno Raudhatuljannah Thaib, jumlah kerajaan yang masih mengakui kedaulatan Pagaruyung di Nusantara tidak lebih dari 62. Kerajaan-kerajaan yang menginduk pada Pagaruyung itu dibedakan berdasarkan gradasi hubungan, yakni sapiah balahan (garis keturunan perempuan), kuduang karatan (garis keturunan laki-laki), kapak radai, serta timbang pacahan yang merupakan keturunan kerajaan. ”Sampai hari ini, untuk yang berada di Sumbar, masih kita (Kerajaan Pagaruyung) yang menobatkan,” kata Puti Reno. Ini terjadi meskipun Kerajaan Pagaruyung sudah berakhir setelah raja Sultan Raja Alam Bagagarsyah berkuasa pada pertengahan tahun 1800-an.

Asal Pagaruyung

Pusat Kerajaan Malayupura yang dipindah Adityawarman ke wilayah Saruaso di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, diduga berdekatan dengan Istana Silinduang Bulan sebagai marwah Kerajaan Pagaruyung kini. Namun, kerajaan tersebut pada mulanya bukanlah Pagaruyung seperti yang dikenal kini.

Arkeolog yang menekuni peninggalan di sepanjang aliran Sungai Batanghari, Budi Istiawan, mengatakan, belum ada bukti yang mengaitkan Adityawarman dan Kerajaan Pagaruyung dengan lokasi di wilayah Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Lokasi perpindahan pusat kerajaan yang tercantum dalam Prasasti Saruaso 1 pada tahun 1375 atau 1376 memang terkonfirmasi, tetapi masih bernama Kerajaan Melayu.

Sejarah berdirinya Kerajaan Pagaruyung belum diketahui pasti. Dosen sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Padang, Dr Muhammad Nur, mengatakan, Pagaruyung kemungkinan berasal dari dua suku kata, yakni ”paga” (pagar) dan ”ruyung” (batang pohon enau yang mengeras karena sudah tua).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, catatan sejarah tidak menyajikan fakta dan bukti mengenai periode setelah Adityawarman hingga munculnya Sultan Alif sebagai Raja Pagaruyung I pada abad XVI. Apa yang terjadi selama sekitar dua abad, ujar Budi, masih spekulatif.

”Itu yang menjadi pertanyaan hingga hari ini,” kata arkeolog dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Prof Dr Herwandi. Guru Besar itu sampai dua kali mempertajam penegasan itu saat ditanyai tentang catatan sejarah pascamasa Adityawarman hingga munculnya Daulat Yang Dipertuan Sultan Alif sebagai Raja Pagaruyung pertama.

Selama sekitar dua abad, sejak sekitar abad ke-14 hingga menjelang abad ke-16, catatan tersebut sedemikian kabur sehingga memunculkan sejumlah spekulasi.

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Arsitektur Istano Basa Pagaruyung, Nagari Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Selasa (4/6/2013). Rumah tradisional bergaya khas Minangkabau ini digunakan sebagai tempat jamuan makan saat pelaksanaan Tour de Singkarak 2013.
Namun, tidak ada yang spekulatif bagi Raudha Thaib. Ia menunjukkan Ranji (silsilah) Limbago yang mendata detail siapa saja raja berikut keturunannya sejak lima generasi sebelum Adityawarman hingga saat ini. Adityawarman dalam silsilah itu dikenal pula sebagai Tuanku Bagindo Sari Maharajo yang merupakan anak dari Puti Reno Marak Janggo (Dara Jingga) dan Tuwan Bujanggo Rajo (Adwayawarman).

Sejak masa Adityawarman hingga Sultan Alif, ada tujuh generasi yang tercatat. Menurut Puti Reno, jika tidak ada Kerajaan Pagaruyung, bagaimana menjelaskan standar tata upacara adat dalam masyarakat Minangkabau yang terus dijalankan hingga kini. Setidaknya itulah yang terbukti pada prosesi adat pada hari Sabtu terakhir bulan Mei lalu.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jalan-jalan ke Tepi Laut di Lhokseumawe, Wisata Sambil Kulineran

Jalan-jalan ke Tepi Laut di Lhokseumawe, Wisata Sambil Kulineran

Jalan Jalan
Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Jalan Jalan
Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Travel Update
Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Travel Update
Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Travel Update
Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Travel Update
Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Travel Update
Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Jalan Jalan
4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

Travel Update
Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Travel Update
4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

Travel Tips
Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Travel Tips
Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Travel Tips
Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Travel Promo
Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.