Cara Jitu Menjelajahi Museum Fatahillah

Kompas.com - 22/06/2013, 11:41 WIB
Suasana di kawasan Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah), Selasa (4/12/2012). Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan van Hoorn. Bangunan museum ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Suasana di kawasan Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah), Selasa (4/12/2012). Gedung ini dulu adalah sebuah Balai Kota yang dibangun pada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jenderal Johan van Hoorn. Bangunan museum ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
|
EditorI Made Asdhiana

Di ruangan berikutnya, ada juga replika kapal-kapal Portugis yang pernah singgah di Jakarta membawa rempah-rempah. Keluar dari sisi sebelah kanan pintu masuk museum, lanjutkan penjelajahan ke sisi sebelah kiri pintu masuk. Di sana, disambut dengan lukisan besar karya S.Sudjojono yang menceritakan tentang penyerangan kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung ke Batavia. Pada masa itu, Gubernur Jenderal Batavia sangat terkenal yakni Jan Pieterszoon Coen.

Selain itu, juga ada replika gereja Belanda lama. Sepintas bentuknya seperti masjid dengan atap berbentuk seperti topi bangsa Mongolia. Dahulu gereja ada di sekitar Kawasan Kota Tua. Tetapi kini sudah tidak ada dan beralih fungsi sebagai museum yaitu Museum Wayang.

Selain replika gereja, juga ada replika kelenteng serta maket kawasan kota tua pada masa lalu. Dalam maket terlihat kawasan kota tua sangat cantik. Gedung Museum Sejarah Jakarta yang dahulu berfungsi sebagai Balai Kota, taman di depan museum dengan pohon-pohon peneduh tertata apik serta Gereja yang berada persis di samping Balai Kota.

Bergerak ke ruangan lain, dipajang senjata-senjata tradisional dari berbagai daerah seperti Mandau, Rencong, Celurit, Kujang dan Trisula. Sementara di ruangan sebelahnya ada mimbar masjid yang telah berusia cukup tua dari salah satu kampung yang ada di sekitar kawasan Kota Tua.

Setelah mengitari ruangan di lantai satu museum, ada baiknya sebelum naik ke lantai dua, kunjungi dulu taman belakang museum. Di sana ada ruangan bawah tanah yang dulunya berfungsi sebagai penjara. Namun sebelum ke arah taman belakang museum, pengunjung akan melewati sebuah ruangan dengan terpajang sebuah ukiran yang berisi sejarah gedung museum dengan menggunakan Bahasa Belanda.

Di taman belakang museum tersimpan salah satu benda yang menjadi daya tarik museum yaitu Meriam Sijagur. Pengunjung yang datang pastilah tak absen untuk berfoto di meriam ini.

Meriam Sijagur dengan berat 3.5 ton dan panjang lebih dari 3 meter. Meriam sijagur melambangkan kesuburan atau dalam bahasa Portugis berarti mano in piga. Di belakang meriam ada bentuk tangan dengan menggunakan gelang, yang menyimbolkan perempuan.

Museum Sejarah Jakarta yang ada di Kawasan Kota Tua, cukup mudah untuk mencapainya, apakah menggunakan kendaraan umum maupun pribadi. Untuk kendaraan umum bisa menggunakan moda transportasi TransJakarta koridor 1 rute Blok M - Kota. Sedangkan angkutan kecil yang melewati wilayah tersebut yaitu Mikrolet M12 jurusan Pasar Senen-Kota, M08 jurusan Tanah Abang-Kota, M15 jurusan Tanjung Priuk-Kota, dan Patas AC 79 jurusan Kampung Rambutan-kota.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X