Kompas.com - 26/06/2013, 11:22 WIB
EditorI Made Asdhiana
BATAM, KOMPAS.com — Pengelola kawasan wisata di Kepulauan Riau kelabakan menghadapi serbuan kabut asap yang hingga kini masih menutupi wilayah provinsi itu. "Turis kami banyak yang komplain, bahkan ada yang membatalkan kedatangannya. Ada juga yang langsung angkat koper meninggalkan kami akibat serbuan kabut asap," ujar Alex, pengelola Telunas Beach Resort, kepada Antara, di Pulau Bulang, Selasa (25/6/2013).

Telunas Beach Resort merupakan kawasan wisata di Pulau Sugi, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi wisata yang menyajikan kehidupan natural di pulau tropis ini terkena imbas memburuknya kondisi cuaca karena berkabut asap.

Menurut Alex, kondisi kabut asap paling rawan terjadi pekan lalu, padahal di resortnya dipenuhi turis yang berasal dari berbagai negara karena bersamaan dengan musim libur. "Turis yang berencana mau datang ada yang menunda kedatangan mereka dan bertanya kapan udara cerah kembali dari kabut asap," katanya.

Kondisi yang menyedihkan, lanjut Alex, ada juga turis yang langsung angkat koper begitu mereka tiba di resort saat kualitas udara memburuk. Para turis tersebut takut menghadapi udara berkabut asap.

Telunas Beach Resort di Pulau Sugi merupakan suatu kawasan wisata alami dengan bangunan rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu di atas laut. Rumah panggung tersebut umumnya model terbuka yang mengandalkan udara laut sebagai pendingin.

"Rumah-rumah panggung sebagai tempat tinggal para turis ini merupakan sarana akomodasi yang alami. Saat kabut asap, udara ruangan juga ikut tercemar. Para turis kami terpaksa pakai masker bahkan ada yang minta pulang cepat karena takut," kata Alex.

Ia mengaku telah berusaha menenangkan para pelancong asing itu bahwa kabut asap yang berasal dari pembakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera tidak hanya terjadi di kawasan resort, tetapi juga Singapura dan Malaysia.

TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDA Pengendara tetap melakukan aktivitas luar ruangan meski kabut asap pekat menyelimuti Kota Pekanbaru dengan jarak pandang kurang dari 750 meter, Kamis (20/6/2013).

Namun, pihaknya juga tidak dapat memberikan kepastian kapan sebaran kabut asap berakhir dan berapa angka kualitas udara yang sehat untuk dihirup.

"Kami kewalahan saat turis komplain berapa angka PSI (Pollutant Standards Index) udara yang mereka hirup karena kami tidak mendapat rujukan data resmi. Bahkan, selama kabut asap berlangsung, hingga kini tidak tahu berapa PSI yang terjadi di daerah kami," katanya.

Alex mengaku berpedoman pada PSI yang dilansir Pemerintah Singapura karena lokasi Pulau Sugi tidak terlalu jauh dari negara pulau tersebut dan Batam. "Wajarlah Singapura terlalu ribut masalah kabut asap ini dan satu sisi perlu diperhatikan juga karena dampaknya sangat besar pada pariwisata," tambah Alex.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Antara


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.