Kompas.com - 28/06/2013, 09:03 WIB
EditorI Made Asdhiana

Suatu hari, kami mendapat telepon dari Candra. Dengan gembira, ia memberi tahu ada kios penjual gabus hidup di daerah Ciseeng, Bogor. Kami pun bertolak ke Ciseeng dengan sepeda motor melewati jalan berlubang dan berlumpur dari arah Serpong. Benar saja, di sebuah kios di Jalan Gunung Sindur, puluhan ikan gabus hidup dipajang dalam plastik berisi air.

Pemilik kios mengatakan, ikan itu hasil buruan pencari gabus di Ciseeng. Ia menjual sebagian di kios dan sebagian disetor ke warung makan di Parung, Bogor, dan Depok. Perburuan pun beralih ke warung betawi yang menyediakan menu.

Kami tiba di Rumah Makan Gabus Pucung Mak Abeng di Jalan Lebakwangi, Parung, saat makan siang tiba. Memasuki warung itu seolah memasuki surga makanan berbasis ikan sungai, sawah, dan rawa, seperti gabus dan tawes, yang mungkin telah lenyap di sebagian besar wilayah Jakarta. Di meja makan, ikan tawes dan gabus goreng ukuran besar dihidangkan dalam jumlah banyak. Kita tinggal meminta pelayan meracik bumbu: pecak atau pucung.

Kami memesan keduanya. Nurhayati (35), pelayan warung, segera mengulek kasar cabai merah, bawang merah, jahe, laos, dan temu kunci. Bumbu itu diseduh dengan air panas, diberi garam dan gula, serta air jeruk limau, lalu diguyurkan bumbu ke gabus dan tawes goreng. Jadilah pecak yang rasanya segar.

Ia mengambil mangkuk lain berisi gabus dan mengguyurnya dengan bumbu hitam yang telah dimasak. Ia tambahkan irisan bawang daun dan bawang goreng. Jadilah gabus pucung yang citarasanya berat. Kami menyantap kedua menu dengan sayur asam khas betawi pinggiran yang berisi irisan jengkol.

Mak Abeng (52), pemilik warung, mengaku tidak tahu sampai kapan bisa menyediakan menu gabus dan ikan sungai lain. Pasalnya, dari tahun ke tahun pasokan ikan gabus dan tawes semakin seret. ”Tukang gabus langganan kita paling hanya setor 5 kilogram. Dulu bisa puluhan kilogram,” ujar Abeng.

Gabus pucung dan pecak tawes merekam jejak ”gaya hidup” orang Betawi yang dulu sangat dekat dengan sungai, sawah, dan rawa. Sebagian besar sumber makanan, termasuk gabus, diambil dari sana. Istilah tinggal mancing, nyerok, dan ngerogoh sangat sering terlontar saat orang tua Betawi mengenang begitu mudahnya memperoleh ikan di sungai.

Saking akrabnya dengan ikan liar itu, orang Betawi membedakan nama gabus berdasarkan ukurannya. ”Gabus ukuran sejari tangan disebut anak boncel, besaran sedikit disebut boncelan, gabus dengan panjang 20-an sentimeter disebut kocolan, lebih besar dari itu disebut gabus,” kata Edi Petor, pemburu gabus di Ciseeng.

Hilangnya menu gabus dari piring nasi orang Betawi sedikit banyak mencerminkan perubahan lanskap Jakarta. Sawah, rawa, dan anak sungai yang semula bertebaran di Jakarta sebagian besar hilang dalam tiga dekade terakhir. Restu Gunawan dalam buku Gagalnya Sistem Kanal mencatat, anak sungai yang hilang antara lain Cililitan, dan sekarang tinggal nama.

Lebih tragis lagi, banyak rawa yang fisik dan namanya lenyap. Chaerudin alias Bang Iding, pelestari Kali Pesanggrahan, mengatakan, Rawa Kecap, Rawa Cupang, dan Rawa Denok telah berubah jadi perumahan. ”Namanya juga diberangus dan diubah jadi nama kompleks yang pake kata indah, permai, atau residence itu,” ujarnya.

Ketika habitatnya lenyap, ikan liar seperti gabus juga hilang dari Ibu Kota. Kalau mau makan gabus segar dengan kuah pucung dan pecak, penggemar harus mencari ke pelosok Depok, Bekasi, dan Bogor.

Di daerah itu pun habitat gabus sebagian telah berubah jadi perumahan. Tinggal menunggu waktu untuk mengucapkan, ”Selamat tinggal gabus pucung.” (Budi Suwarna dan Ahmad Arif)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Nikahan Kaesang, Wisata Istana Mangkunegaran Tutup 7-11 Desember 2022

    Nikahan Kaesang, Wisata Istana Mangkunegaran Tutup 7-11 Desember 2022

    Travel Update
    Ini 5 Tips Traveling ke Luar Negeri Antiribet

    Ini 5 Tips Traveling ke Luar Negeri Antiribet

    BrandzView
    Panduan Transportasi ke Museum Katedral Jakarta, Berhenti di Stasiun Juanda

    Panduan Transportasi ke Museum Katedral Jakarta, Berhenti di Stasiun Juanda

    Travel Tips
    Komunikasi Efektif Penting untuk Kenyamanan Wisatawan di Labuan Bajo

    Komunikasi Efektif Penting untuk Kenyamanan Wisatawan di Labuan Bajo

    Travel Update
    Multiple Entry Visa, Tak Hanya Bisa Digunakan untuk Wisata

    Multiple Entry Visa, Tak Hanya Bisa Digunakan untuk Wisata

    Travel Update
    20 Destinasi Wisata Teraman Dunia, Singapura Nomor 1 dan Tak Ada Indonesia

    20 Destinasi Wisata Teraman Dunia, Singapura Nomor 1 dan Tak Ada Indonesia

    Travel Update
    13 Tips Traveling Aman ke Tempat Baru, Riset dan Bawa Perlengkapan

    13 Tips Traveling Aman ke Tempat Baru, Riset dan Bawa Perlengkapan

    Travel Tips
    Jelang Nataru, Okupansi Hotel di Kota Malang Diprediksi Terus Naik

    Jelang Nataru, Okupansi Hotel di Kota Malang Diprediksi Terus Naik

    Travel Update
    30 Tempat Wisata Akhir Tahun di Lembang yang Ramah Anak

    30 Tempat Wisata Akhir Tahun di Lembang yang Ramah Anak

    Jalan Jalan
    Dusun Semilir Akhirnya Akan Grand Opening 8 Januari 2023

    Dusun Semilir Akhirnya Akan Grand Opening 8 Januari 2023

    Travel Update
    Ganjar Sebut Potensi Wisata Religi di Jateng Tinggi, Ini Rekomendasinya

    Ganjar Sebut Potensi Wisata Religi di Jateng Tinggi, Ini Rekomendasinya

    Travel Update
    5 Hotel Dekat Alun-alun Bandungan Semarang, Bisa Jalan Kaki 7 Menit

    5 Hotel Dekat Alun-alun Bandungan Semarang, Bisa Jalan Kaki 7 Menit

    Jalan Jalan
    3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

    3 Keunikan Desa Sasak Ende, Rumah Adat hingga Kopi Dicampur Beras

    Jalan Jalan
    20 Destinasi Wisata yang Tidak Aman di Dunia, Indonesia Nomor 10

    20 Destinasi Wisata yang Tidak Aman di Dunia, Indonesia Nomor 10

    Travel Update
    Batik Air Tambah Rute Bali-Melbourne PP Mulai 5 Januari 2023

    Batik Air Tambah Rute Bali-Melbourne PP Mulai 5 Januari 2023

    Travel Update
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.