Kompas.com - 29/06/2013, 11:43 WIB
EditorI Made Asdhiana

Istilah Tionghoa totok yang dimaksud Tian sekarang tidak merujuk pada asal-usul darah seseorang, melainkan orientasi budaya Tiongkok. Sementara itu, istilah babah yang Tian maksud adalah Tionghoa peranakan yang sudah melebur dalam tradisi dan budaya Indonesia.

Totok dan babah

Terbentuknya lanskap kuliner di Glodok, Pancoran, tidak terlepas dari peristiwa besar di awal bulan Oktober 1740, yakni pembantaian terhadap ribuan orang Tionghoa di dalam Benteng Batavia yang memicu Perang Sepanjang. Dalam narasi lokal di Mataram, peristiwa itu disebut Geger Pacinan, sementara di Rembang, Lasem, disebut Perang Kuning. Akibat peristiwa tersebut, warga Tionghoa di Batavia dalam sekejap hilang karena terbunuh atau melarikan diri.

Setahun sebelum pembantaian, orang Tionghoa di sisi timur Benteng Batavia tercatat 1.624 orang, di sisi barat 2.196 orang, dan di permukiman selatan ada 569 orang. Setelah pembantaian, tidak ditemukan orang Tionghoa di sisi timur ataupun barat. Adapun di permukiman selatan hanya tersisa enam perempuan dan seorang anak berusia 14 tahun (JT Vermeulen, Tionghoa di Batavia dan Huru-Hara 1740).

Luar kota

Akibat lenyapnya orang Tionghoa, perekonomian Pemerintah Hindia Belanda kocar-kacir. Bahan makanan langka dan harga-harga meroket tajam. Pada akhirnya Belanda membujuk kembali orang Tionghoa yang menguasai perekonomian dan perdagangan untuk menetap kembali di Batavia.

Namun, lokasinya bukan di dalam kota, melainkan di sebelah barat kota yang terpisah dari masyarakat lainnya. Daerah pecinan itulah yang sekarang dikenal sebagai Glodok (Susan Blackburn, Jakarta: Sejarah 400 Tahun). Imigran dari China pun secara bertahap berdatangan dan mencapai puncaknya pada abad ke-19.

Tian Li Tong mengatakan, orang Tionghoa di kawasan Glodok yang dianggap totok umumnya datang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Menurut catatan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, setelah Terusan Suez dibuka tahun 1869, emigrasi dari China kian deras, termasuk perempuan China yang pada migrasi sebelumnya tak ikut serta.

Kehadiran perempuan dari China segera menghambat proses peleburan laki-laki China ke dalam budaya lokal yang telah berlangsung sejak awal abad ke-16 lewat perkawinan campur. Pasalnya, para perempuan China mendorong rumah tangganya di perantauan untuk berorientasi lagi ke budaya leluhur.

Dalam konteks kuliner, mereka membawa citarasa totok. Tian Li Tong mengatakan, sampai saat ini kita bisa dengan mudah mengklasifikasikan makanan yang dijual berdasarkan latar belakang pedagangnya. ”Yang jual soto mi di sini sudah pasti orang China Benteng yang lebih melebur dengan budaya lokal. Yang totok jualan menu totok,” kata Tian.

Selain itu, menurut penulis kuliner peranakan Aji Bromokusumo, di Pancoran, Glodok, juga muncul kuliner hasil akulturasi yang baru, seperti kopi di Kedai Kopi Tak Kie. ”Orang Tionghoa zaman dulu hampir pasti tidak mengenal kopi dan tidak suka kopi, bahkan sampai sekarang. Mereka lebih suka teh. Jadi, menu kopi di kedai itu umurnya belum lama, yakni sejak 1920-an,” ujar Aji.

Pada periode itu, Pancoran mulai menjadi salah satu pusat kuliner. Tidak hanya warung-warung tenda dan kaki lima, restoran baru pun berdiri. Belakangan, menu-menu baru juga bermunculan, salah satu di antaranya rujak shanghai.

Menu babah dan totok pada akhirnya memperkaya khazanah kuliner Tionghoa di Pancoran, Glodok. Datanglah, dan para pedagang akan menyambut Anda dengan tawaran yang riuh.

”Coba nasi tim, Pak! Siomay, bektim, sekba. Soto mi juga ada.” Tinggal memilih, kan? (Iwan Santosa dan Budi Suwarna)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.