Kompas.com - 05/07/2013, 17:04 WIB
EditorI Made Asdhiana

Oleh: Budi Suwarna & Indira Permanasari

Dari sapi di belantara Ibu Kota, susu segar mengalir ke kuah sop dan soto betawi. Ini fenomena yang masih muda. Namun, pengaruhnya di lidah pencinta sop dan soto cukup terasa.

Senja beraroma sop kaki kambing di perempatan Jalan KH Mas Mansyur-Karet Bivak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2013). Sekitar 30 meter dari rel kereta, Karim (62) dan anak-anaknya tergopoh-gopoh menyiapkan dagangan di sebuah tenda besar bertuliskan Sop Kaki Kambing Tanah Abang Bang Karim. Betapa tidak, dagangan belum siap, belasan pelanggan sudah antre minta dilayani.

”Setiap malam Jumat pembeli selalu membeludak. Jam enam sore buka, jam sembilan udah abis. Maklum, banyak pasangan yang siap-siap beraktivitas di malam yang baik,” ujar Abu, anak Karim, tersenyum penuh arti.

Abu membuka dandang besar berisi kuah sop berwarna putih susu. Setelah dibubuhi minyak samin, kuah itu menjadi putih gading dengan semburat lemak. Sejurus kemudian, Karim mengambil alih pekerjaan dan mulai meracik bermangkuk-mangkuk sop pesanan pembeli. Tidak lama, semangkuk sop kambing dengan kuah putih kekuningan berhias potongan tomat, daun bawang, dan emping hadir di hadapan kami.

Harum rempah kapulaga, cengkeh, dan kayu manis menguap ke udara mengabarkan kelezatan sop itu. Kami segera menyendok sop yang tampangnya lebih mirip soto itu. Begitu kuah mengalir ke lidah, rasa gurih, hangat rempah, asam jeruk limau, dan pedas cabai langsung menyergap dan menggedor kelenjar keringat. Senja di Jalan KH Mansyur yang lalu lintasnya macet itu pun segera terlupa. Kami tenggelam dalam kelezatan sop racikan Bang Karim.

Selain warung Bang Karim, setidaknya ada delapan warung tenda sop kaki kambing yang setiap malam buka di sepanjang jalan itu. Pada siang hari di ruas jalan yang sama ada warung sop kaki Putera Betawi Bang Rudy, Bang Ahmad, Betawi 123, dan Setia.

Sentra sop kaki

Kawasan Tanah Abang telah lama menjadi sentra sop kaki kambing di Jakarta. Sejak awal 1990-an, pedagang sop bertebaran hingga ke gang-gang sempit. Para pedagang itu umumnya berasal dari Tanah Abang, terutama dari Gang Mess, Gang Awaludin I, Gang Awaludin II, dan Gang Kubur.

Karim juga tinggal di Gang Awaludin II. Di sekitar rumahnya ada tiga pedagang sop kaki kambing. Rabu (12/6/2013) pagi, kami menyusuri Gang Awaludin II yang membentuk labirin sempit, beberapa orang tengah mengolah beberapa karung kepala dan kaki kambing. Pemandangan serupa juga terlihat di Gang Mess.

Halaman:
Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.