Kompas.com - 06/07/2013, 12:13 WIB
EditorI Made Asdhiana

”Tanah-tanah di desa ini sebagian emang udah dibeli kontraktor. Mungkin enggak lama lagi akan jadi perumahan,” jelas Edi sambil turun ke sungai.

Kuntilanak

Edi menekuni profesi pemburu gabus sejak tahun 1985 ketika dirinya terkena PHK. Daripada luntang-lantung, lanjut Edi, ia pergi memancing gabus. Hasilnya ternyata cukup banyak. Sekali memancing dapat 25 ekor ikan gabus besar. ”Kalau dikiloin bisa 5-10 kilogram. Tahun-tahun berikutnya saya neger dan hasilnya lebih banyak,” kenang Edi.

Neger adalah memasang pancing dalam jumlah banyak pada malam hari dan mengangkatnya pada pagi hari. ”Dari 100 pancing yang saya pasang, bisa dapat 50 ekor gabus,” katanya.

Karena hasil berburu gabus menjanjikan, Edi memilih menggantungkan hidup sebagai pemburu gabus. Sesekali ia menjadi anak panggung di sebuah grup lenong. Peran yang ia mainkan tidak banyak, paling-paling jadi centeng. ”Tapi saya suka banget lakonnya. Judulnya ’Kuntilanak Minjem Beras’,” tutur Edi diikuti tawa.

Edi pernah merasakan manisnya rezeki gabus. Sehari, ia bisa memperoleh Rp 125.000 dari penjualan gabus hasil buruan. Namun, masa-masa itu sudah lewat. ”Sekarang cari gabus dua kilo aja susahnya minta ampun. Dari ujung ke ujung kali atau rawa sampe pinggang melintir,” ujar Edi.

Karier Edi sebagai pemburu gabus rupanya sedang di ujung hari seiring dengan mulai berubahnya wajah Ciseeng. Sawah dan rawa yang dulu menjadi habitat gabus kini berganti wajah menjadi ”habitat” kompleks perumahan dan pabrik. Sawah dan rawa yang tersisa tinggal menunggu waktu untuk diuruk. Fenomena itu persis seperti yang terjadi di kampung-kampung di Jakarta pada tahun 1970-an dan 1980-an ketika pembangunan fisik digalakkan.

”Saya mulai bingung cari gabus di mana lagi. Masak nyari gabus di laut, emang ada?” ucap Edi diiringi tawa getir.

Ketika gabus kian sulit dicari, tambah Edi, pemburu gabus justru kian banyak. Setidaknya ada 10 pemburu gabus di Ciseeng yang Edi kenal. Maklum harga gabus cukup tinggi, Rp 30.000 per kilogram di tingkat pemburu gabus.

Tiga jam berlalu, Edi baru memperoleh empat ekor gabus ukuran kecil. Ia mengakhiri perburuan gabus untuk hari itu. Gabus yang cuma sedikit itu ia jual ke sebuah warung di Jalan Gunung Sindur.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.