Kompas.com - 14/07/2013, 17:16 WIB
EditorI Made Asdhiana
DI bagian barat Provinsi Gorontalo ada sebuah kampung yang berdiri di atas permukaan laut Teluk Tomini, namanya Torosiaje. Kampung yang berdiri sejak 1901 itu dihuni suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut tangguh. Kini, Torosiaje menjelma menjadi perkampungan wisata yang elok dan menampilkan pesona lain dari Gorontalo.

Torosiaje kini merupakan perkampungan yang terletak 600 meter dari daratan Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, atau sekitar tujuh jam perjalanan darat menuju arah barat dari ibu kota Provinsi Gorontalo. Setiba di dermaga Torosiaje, pengunjung akan disambut ojek perahu yang banyak bersandar di dermaga. Setiap penumpang dipungut Rp 2.000 menuju Torosiaje yang memakan waktu 10 menit berperahu.

Rumah-rumah di Torosiaje berupa rumah panggung yang semuanya berbahan kayu. Setiap rumah terhubung dengan koridor yang menjadi jalan utama selebar 2 meter dan panjangnya 2,2 kilometer berpola huruf ”U”. Asyiknya, berkeliling di sela-sela rumah di Torosiaje ibarat menyusuri gang-gang sempit permukiman di Jakarta dengan perahu.

Dalam sejarah yang diceritakan secara turun-temurun, toro dalam bahasa Bajo adalah ’tanjung’ dan siaje merupakan julukan kepada seseorang yang berarti ’si aje’ (si haji). Artinya, Torosiaje adalah tanjung yang ditemukan oleh seorang pria bergelar haji dan dipanggil siaje, saat itu. Awal berdirinya Kampung Torosiaje hanya terdapat puluhan jiwa.

”Saat itu, hanya ada sekitar 34 jiwa di awal ditemukannya kampung ini. Lambat laun, jumlahnya makin banyak, bahkan hingga sebagian ada yang pindah ke daratan,” ujar Yoote Repi (65), tokoh sekaligus mantan kepala desa di Torosiaje.

KOMPAS/ARIS PRASETYO Kampung Torosiaje di Gorontalo.
Kini, Torosiaje sudah menjelma menjadi perkampungan modern yang dihuni sekitar 1.400 jiwa. Tiap rumah sudah teraliri listrik. Dalam banyak kesempatan, sesekali terdengar suara musik yang diputar kencang dari sound system milik warga. Telepon seluler juga bukan lagi pemandangan yang aneh karena anak-anak pun sudah menggenggamnya.

Wisata bahari

Dideklarasikan sebagai Kampung Wisata Bahari pada 2007 oleh pemerintah setempat, Torosiaje menawarkan wisata bahari yang cukup menawan. Pemandangan di pagi hari atau menjelang matahari terbit menawarkan pesona alam yang menyihir. Pantulan cahaya matahari pagi mengubah permukaan air laut di Torosiaje seperti hamparan emas bersinar kekuningan. Hilir mudik perahu orang Bajo yang disebut sope, sangat bagus menjadi sasaran kamera wisatawan yang gemar fotografi.

Panorama saat matahari tenggelam pun tak kalah. Pemandangan detik per detik matahari tenggelam di kaki langit sangat sayang dilewatkan. Saat itu, matahari berubah warna kemerahan dengan ukuran yang lebih besar ketimbang pada siang hari, akan menjadi sasaran empuk kamera wisatawan. Bahkan, hingga malam hari, keindahan Torosiaje belum habis. Kemilau lampu rumah warga ibarat ratusan kunang-kunang di atas laut.

Di Torosiaje ada kamar penginapan yang berjumlah enam unit yang tarifnya Rp 100.000 per malam. Jika kamar terisi penuh, pengunjung bisa menginap di rumah milik warga yang juga disewakan dengan tarif yang sama di penginapan. Untuk urusan makan tak perlu ada yang dicemaskan di Torosiaje. Menu utama makanan di sana adalah ikan yang benar-benar segar dari laut. Ikan bakar dengan ”dabu-dabu” (sambal khas Gorontalo) adalah menu andalan di Torosiaje.

”Jika ada tamu menginap, pengunjung akan dipungut biaya tambahan untuk air bersih. Ongkosnya hanya Rp 10.000 untuk satu bak air berukuran 110 liter,” kata Akbar Arsyad Mile (37), penanggung jawab sekaligus pengelola wisata dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pohuwato di Torosiaje.

KOMPAS/ARIS PRASETYO Kampung Torosiaje di Gorontalo.
Seandainya kamar penginapan penuh, beberapa rumah warga bisa dijadikan tempat alternatif menginap dengan tarif yang sama. Rumah-rumah tersebut sudah dikemas memang untuk disewakan kepada pengunjung. Jadi, pengunjung tak perlu khawatir kehabisan kamar menginap, terutama saat musim liburan yang selalu dipenuhi wisatawan di Torosiaje.

Salah satu wisatawan yang pernah berkunjung ke Torosiaje, Andri Arnold (35), mengaku terpesona dengan suasana di Torosiaje. Selain menawarkan keindahan panorama laut, suasana tenang dan jauh dari kebisingan membuat pengunjung merasa nyaman saat berada di Torosiaje.

”Di Torosiaje, saya bisa puas makan berbagai jenis ikan dengan sambal dabu-dabu. Sampai benar-benar puas. Sesuatu yang jarang didapat di tempat lain,” kata Andri yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Gorontalo itu. (Aris Prasetyo)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.