Kompas.com - 19/07/2013, 09:13 WIB
EditorI Made Asdhiana
KOMPAS.com - Pernah bertemu dengan turis-turis yang membawa ransel sebesar gentong air dengan peralatan yang super komplet? Mereka terlihat berkeliling di jalan-jalan dengan semangat, terlihat antusias dengan apa pun yang mereka temui? Kami juga pernah!

Bulan Juni kemarin, saya dan teman-teman melakukan perjalanan berkeliling 8 pulau di Indonesia. Ceritanya sih ‘backpacking’, mencoba gaya-gaya ala backpackers dengan membawa ransel gede, budget minim, dan mental yang sekeras baja, siap untuk menghadapi hal-hal yang nggak terpikirkan.

Pulau yang kami datangi adalah Pulau Kenawa, salah satu pulau kecil di Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Belum banyak yang tahu tentang pulau ini. Atau mungkin belum menyadari bahwa ada pulau seperti ini di Sumbawa, karena masih minimnya informasi dan sarana serta prasarana yang ada di sana.

Padahal, pulau ini menyimpan banyak sekali kekayaan Nusantara yang harusnya bisa dibudidayakan dan dikenalkan kepada masyarakat.

AYUB ARDIYONO Sunrise di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Perjalanan menuju ke Pulau Kenawa kami awali dengan menaiki kapal feri dari Pelabuhan Kayangan di Kabupaten Lombok Timur yang menempuh 1-2 jam perjalanan menuju Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa Barat.

Pelabuhan Poto Tano sungguh di luar dugaan kami mengenai pemandangan pelabuhan pada umumnya yang penuh hiruk pikuk, kotor, dan berisik. Di pelabuhan ini, masih terdapat banyak estetika dan keindahan alam yang alami seperti airnya yang masih biru dan jernih, walaupun terdapat di pelabuhan utama di pulau ini.

Dari pelabuhan, kami berjalan kaki selama 10 menit menuju pelabuhan nelayan, karena tidak ada kapal besar yang menyediakan jasa transportasi menuju Pulau Kenawa.

Nelayan di sana pun ternyata sangat ramah dan bersahabat. Dengan pekerjaan sehari-hari menangkap ikan dan juga beternak, mereka membuat pemukiman di sekitar pelabuhan dengan rumah-rumah yang dibangun di atas air. Namun untuk mendapat air tawar bersih, mereka harus membeli air lagi karena di sana pasokan air tidak sampai ke rumah mereka, sehingga kebutuhan memasak dan mandi sangat terbatas.

AYUB ARDIYONO Bukit kecil di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Untuk menyeberang ke Pulau Kenawa ini kami menyewa perahu dengan tarif Rp 350.000 - Rp 400.000 untuk perjalanan pulang pergi tanpa batas waktu. Cukup murah jika dibandingkan dengan satu perahu yang bisa memuat 10-20 penumpang sekali angkut.

Perjalanan menuju Pulau Kenawa kurang lebih 25 menit. Namun dari kejauhan kami bisa melihat pulau kecil tersebut dengan dermaga kayu yang khas, tepat berada di tengah pulau.

Tak terasa kami sampai di Pulau Kenawa, yang memiliki pemandangan yang indah, dengan pasir putih terhampar di setiap sisinya, dan di tengahnya terdapat padang rumput dengan ilalang tinggi, sungguh pemandangan yang menakjubkan!

Pulau Kenawa merupakan pulau kecil tanpa penduduk yang mempunyai luas kurang lebih 15 hektar, terhampar dataran rendah kecuali satu bukit kecil di bagian tengahnya. Di sekeliling pulau ini dibangun saung-saung kecil sederhana, untuk duduk dan menggelar tikar.

AYUB ARDIYONO Salah satu kekayaan laut di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Ternyata di siang hari cukup banyak orang berkunjung ke sini, namun sebagian besar adalah orang lokal di sekitar Lombok dan Sumbawa, karena belum banyak orang yang tahu tentang pulau ini.

Selain tidak berpenghuni, pulau ini juga belum mempunyai sumber listrik dan air bersih, yang mengakibatkan tidak tersedianya prasarana seperti toilet dan penginapan. Kondisi cukup sulit bagi kami, yang pada hari itu memutuskan untuk menginap di sana, tanpa penerangan, dan tanpa air bersih.

Malam itu kami memutuskan untuk menggelar terpal dan tidur di saung besar yang ada di depan dermaga kayu, walau tanpa penerangan tapi malam itu sungguh gemerlap oleh jutaan bintang yang ada di langit, benar-benar pemandangan yang sulit untuk dilupakan! Tidak seperti di kota besar, di sini bintang terlihat sangat terang dan berkelap-kelip.

Pagi harinya, sekitar jam 5 kami berjalan ke dermaga dan duduk di sana, menantikan sunrise Pulau Kenawa yang ternyata, sungguh sulit dideskripsikan oleh kata-kata. Pagi itu matahari muncul di balik hamparan awan-awan yang besar, sedikit terhalang oleh gunung-gunung di pulau seberang yang membuat pemandangan menjadi lebih dramatis.

Tidak hanya pemandangannya, Pulau Kenawa juga memiliki kekayaan laut yang melimpah. Dengan pantai pasir putihnya dan kerang-kerang yang bertebaran di pantai, kami juga menemukan binatang-binatang laut seperti kepiting kecil dan bintang laut yang unik.

Dari jarak 3-5 meter dari pantai, kami sudah bisa menikmati snorkeling hanya dengan kacamata renang, karena kedalaman pantainya yang tidak seberapa.

Hari itu menjadi pengalaman yang sangat berarti buat kami, dan kami menyadari bahwa alam Indonesia lebih keren dari yang kami kira sebelumnya. Sebuah pulau yang terpencil ini mampu mengubah banyak sudut pandang kami dan membisukan kami, saat melihat begitu indahnya ciptaan Yang Kuasa. Tak mampu berkata-kata. Hanya memandang takjub. Setelah puas, sekitar jam 12 siang kami dijemput oleh nelayan dan kembali ke pulau utama. Capek tapi senang.

AYUB ARDIYONO Di dermaga, sebelum meninggalkan Pulau Kenawa, di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
Sayangnya, pulau ini masih belum mendapat banyak perhatian dari pemerintah. Dibuktikan dengan adanya bangunan WC setengah jadi dengan bak air penuh sampah, dan saung-saungnya yang cenderung ditinggalkan turis-turis tidak bertanggung jawab dengan sampah-sampah makanan.

Pengalaman ini membuat kami lebih menghargai alam. Menurut saya, pulau ini mempunyai prospek yang cerah sebagai destinasi wisata alami di Indonesia, bila didukung dengan penanganan yang tepat dari pemerintah, dan tentu saja aksi dari masyarakat sendiri.

Sebenarnya tidak susah untuk mulai menyadari dan menghargai kekayaan alam yang ada di sini. Sebelum dieksploitasi oleh negara lain, apa nggak lebih baik kalau kita jaga sebisa mungkin? Iya, harus kita! Kita yang mengerti, kita yang peduli. Bukan kita yang di kota aja buang sampah sembarangan, bukan kita yang nggak sayang sama alam. Ini waktunya untuk kamu! (Fedora Devena, email: F_Devena@yahoo.co.id)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.